Lebih Bahaya Gula Cair Dibandingkan Gula Biasa, Benarkah?

Gula cair bukan hanya ada di dimnuman bersoda tetapi juga di jus
Gula cair sering digunakan sebagai pemanis minuman bersoda

Bukan tanpa alasan minuman dengan pemanis buatan tidak disarankan dikonsumsi terlalu sering. Di dalamnya, ada pemanis buatan berbentuk gula cair dengan konsentrasi tinggi. Itulah mengapa minuman dengan pemanis buatan bisa dikonsumsi dalam jumlah banyak tanpa menimbulkan rasa kenyang.

Ini tentu berbahaya, karena dampak negatif dari terlalu banyak mengonsumsi gula cair bisa tidak disadari. Bukan hanya minuman yang jelas-jelas tidak disarankan seperti soda saja, tapi juga jus buah dalam kemasan yang kerap dianggap lebih sehat.

Gula cair, bukan hanya berbeda tekstur

Ketika mengonsumsi gula cair, bukan hanya teksturnya saja yang berbeda dengan gula pasir. Bahkan otak manusia pun tidak “memperlakukan” sama seperti saat mengonsumsi gula pasir. Itulah mengapa mengonsumsi minuman manis tidak memberi sensasi kenyang seperti halnya makan.

Bandingkan ketika orang mengonsumsi kacang-kacangan dengan kalori 450 dan orang lain mengonsumsi minuman soda dengan kalori yang sama. Orang yang mengonsumsi kacang-kacangan akan merasa lebih kenyang. Sementara orang yang mengonsumsi minuman bersoda, pada akhirnya ingin makan lebih banyak lagi yang berarti asupan kalori pun bertambah.

Dengan demikian, rasa lapar dan keinginan untuk mengonsumsi kalori lebih banyak lagi juga berbeda saat merespons gula cair dan gula pasir. Akibatnya, konsumsi minuman manis yang mengandung gula cair bisa sulit dihentikan.

Bahaya lain dari gula cair untuk kesehatan adalah:

  • Buruk untuk jantung

Ada begitu banyak penelitian yang menyebutkan gula cair berdampak negatif bagi jantung. Ketika seseorang mengonsumsi terlalu banyak gula cair, maka molekul lemak di pembuluh darah meningkat. Dalam jangka panjang, hal ini berisiko menyebabkan penyumbatan pembuluh darah hingga serangan jantung.

  • Meningkatkan berat badan

Minuman dengan pemanis tambahan sebaiknya tidak masuk dalam menu yang dikonsumsi orang yang sedang berupaya mencapai berat badan ideal. Kandungan gula yang tinggi membuat tubuh kelebihan asupan kalori, tidak sepadan dengan kalori yang dibakar. Akibatnya, berat badan pun bisa meningkat.

Tak hanya itu, beberapa penelitian juga menemukan keterkaitan antara konsumsi fruktosa berlebih dengan penumpukan lemak di perut. Hal ini bisa menjadi salah satu indikator sindrom metabolik yang berbahaya bagi kesehatan.

  • Gula darah tak terkendali

Mengonsumsi gula cair berlebih juga bisa meningkatkan kadar gula darah dan resistansi insulin. Dari beberapa penelitian, tingginya konsumsi fruktosa menyebabkan sensitivitas insulin seseorang menurun padahl tugas insulin adalah mengendalikan gula di dalam darah. Tak hanya itu, juga meningkatkan risiko terserang diabetes tipe 2.

Terlebih, gula cair dalam minuman membuat seseorang bisa mengonsumsi fruktosa dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Dalam penelitian pada 300.000 orang, mereka yang mengonsumsi 2 minuman dengan pemanis tambahan setiap hari 26% lebih rentan mengalami diabetes tipe 2.

Idealnya, orang hanya boleh mengonsumsi 143 kalori dari minuman dengan pemanis tambahan. Namun tentu dalam sehari, gula yang dikonsumsi bukan hanya dari sebotol minuman itu saja. Setiap makanan atau olahan lain juga tentu mengandung gula.

Setiap tubuh seseorang pun merespons berbeda terhadap asupan gula. Ada yang tidak masalah mengonsumsi lebih dari satu botol minuman dengan pemanis buatan, namun ada yang tidak bisa sama sekali.

Jadi, kenali bagaimana kondisi tubuh sebelum memutuskan mengonsumsi minuman dengan pemanis buatan. Ketimbang mengonsumsi minuman dalam kemasan yang mengandung gula cair berkonsentrasi tinggi, banyak alternatif minuman lain yang bisa dibuat dengan gula lebih sedikit.

Alternatif minuman yang lebih sehat seperti:

Beberapa jenis minuman di atas bisa dinikmati meski tanpa tambahan pemanis seperti gula cair.

Gula cair berbahaya untuk semua orang

Melihat beberapa dampak negatif gula cair terhadap kesehatan di atas, perlu diingat bahwa ini tidak hanya berlaku bagi orang dewasa atau yang sudah memiliki penyakit bawaan sebelumnya.

Justru, anak-anak juga rentan mengalami pre-diabetes hingga obesitas apabila terbiasa mengonsumsi minuman dengan pemanis tambahan.

Terlebih, di luar sana begitu banyak minuman dengan pemanis buatan tersedia, dijual dengan harga terjangkau, dikemas menarik, ditambah pula dengan pemasaran yang menarik.

Artinya, “rem” untuk membatasi diri dari konsumsi pemanis tambahan berlebih ada di diri sendiri. Kebiasaan mengonsumsi minuman dengan pemanis tambahan – terutama yang dalam kemasan – mungkin terasa biasa karena di luar sana orang-orang juga banyak yang melakukan hal serupa.

Namun ingat, bahaya dari pemanis tambahan seperti gula cair berkonsentrasi tinggi dalam kemasan itu jauh lebih berbahaya.

Huffington Post. https://www.huffpost.com/entry/sugar-health_b_4267528

Diakses 4 Mei 2020

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/liquid-sugar-calories

Diakses 4 Mei 2020

Diabetes Health Page. https://diabeteshealthpage.com/liquid-sugar-dangerous/

Diakses 4 Mei 2020

Artikel Terkait