Beraksi dalam Diam, Kenali Gejala Laryngopharyngeal Reflux


Laryngopharingeal reflux tidak memunculkan gejala yang nyata seperti halnya GERD. Mengingat julukannya sebagai silent reflux, penting untuk mengetahui perbedaan gejalanya, seperti: heartburn, nyeri dada, dan juga mual.

0,0
30 Jul 2021|Azelia Trifiana
Laryngopharyngeal reflux dikenal juga dengan nama silent refluxLaryngopharyngeal reflux dikenal juga dengan nama silent reflux
Sesekali pernah merasa perut kurang nyaman atau mengalami acid reflux? Biasanya ciri-cirinya adalah heartburn, nyeri dada, dan juga mual. Namun ada pula yang disebut laryngopharyngeal reflux atau LPR. Ini adalah reflux yang terjadi diam-diam, bahkan tanpa ada gejala.Padahal ketika kambuh, isi dari lambung bisa naik atau reflux ke esofagus, terus menuju tenggorokan dan pita suara, bahkan ke saluran pernapasan. Orang yang mengalaminya bisa tidak tahu ini terjadi hingga muncul gejala serius.

Gejala laryngopharingeal reflux  

Laryngopharingeal reflux tidak memunculkan gejala yang nyata seperti halnya GERD. Mengingat julukannya sebagai silent reflux, penting untuk mengetahui perbedaan gejalanya, seperti:
  • Terjadi asma
  • Rasa pahit di tenggorokan
  • Sensasi terbakar di tenggorokan
  • Kesulitan menelan
  • Suara menjadi serak
  • Terus menerus ingin berdeham
  • Merasa ada cairan turun dari hidung ke tenggorokan
Bedakan dengan gejala yang umum terjadi pada penderita GERD, seperti:
  • Heartburn
  • Mual dan muntah
  • Suara serak saat bangun tidur
  • Batuk kering dan terasa sakit
  • Bau mulut
  • Nyeri dada
Dengan mengetahui perbedaan gejala yang muncul, setidaknya bisa diketahui apakah yang terjadi adalah silent reflux atau LPR.

Apa penyebabnya?

Ketika makan, idealnya makanan akan turun dari mulut ke esofagus, lalu masuk ke lambung. Kemudian, sistem pencernaan akan memulai tugasnya dengan mengambil nutrisi dan membuang zat sisa.Terkadang, asam lambung bisa naik kembali ke esofagus. Tubuh didesain untuk mencecah hal ini berkat adanya otot elastis bernama sphincters. Ini adalah otot yang membuka dan menutup, yang membatasi antara esofagus dan lambung.Namun ketika reflux atau asam lambung naik, otot ini cenderung longgar dan tidak tertutup rapat. Begitu pula pada penderita laryngopharyngeal reflux.Lebih jauh lagi, orang dari berbagai usia dan jenis kelamin bisa mengalami reflux dalam diam ini. Kecenderungan terjadinya kian besar pada orang-orang yang:
  • Menjalani diet tertentu
  • Makan terlalu banyak
  • Perokok aktif
  • Minum alkohol berlebih
  • Mengalami masalah pada otot sphincter
  • Berat badan berlebih
  • Hamil
Selain itu, bayi dan anak-anak punya kecenderungan mengalami reflux lebih sering karena otot sphincter-nya belum benar-benar rapat. Namun ketika usianya bertambah, kondisi ini bisa membaik dengan sendirinya.

Diagnosis silent reflux

Apabila Anda mengalami gejala reflux namun tidak tahu pasti termasuk yang mana, konsultasikan dengan dokter. Jangan sepelekan gejala seperti heartburn, terutama jika terjadi lebih dari dua kali dalam sepekan dan berlangsung terus menerus.Agar bisa menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Mulai dari menanyakan riwayat gejala, perawatan yang sudah dilakukan, dan gejala yang terjadi saat ini.Selain itu, dokter juga mungkin memberikan rujukan ke spesialis THT bagi yang dicurigai mengalami laryngopharyngeal reflux yang telah menyebabkan luka. Tujuannya agar luka bisa segera tertangani.Lebih jauh lagi, untuk mengetahui seberapa parah kondisinya, dokter mungkin akan melakukan endoskopi. Tes ini dilakukan dengan memasukkan selang tipis dengan kamera mini di depannya melalui mulut. Dari situ, bisa dirumuskan apa penanganan yang paling sesuai.

Penanganan laryngopharyngeal reflux

Apabila dokter mendiagnosis pasien dengan silent reflux, maka akan diberikan obat untuk mengatasi reflux. Jika efektif, idealnya gejala akan mereda setelah mengonsumsi obat secara rutin sesuai dosis.Jenis obat yang umumnya diberikan untuk mengobati LPR adalah:
  • Antasid
  • H2 blockers
  • Proton pump inhibitors
Jenis obat-obatan semacam ini bekerja dengan mengurangi produksi asam lambung. Selain itu, dokter juga akan merekomendasikan perubahan gaya hidup, seperti:
  • Berhenti makan dan minum setidaknya tiga jam sebelum tidur
  • Tidur dengan posisi kepala lebih tinggi
  • Identifikasi lalu batasi konsumsi makanan pemicu reflux
  • Berhenti merokok
Sangat jarang diperlukan penanganan berupa operasi. Namun, jika dilakukan pun tujuannya untuk memperkuat otot sphincter yang membatasi esofagus dan lambung.

Risiko komplikasi

Asam lambung bisa menyebabkan iritasi lapisan esofagus yang sensitif. Bahkan, bisa merusak jaringan yang ada di esofagus, tenggorokan, hingga pita suara.Pada orang dewasa, komplikasi yang paling umum terjadi adalah iritasi jangka panjang, terbentuknya jaringan parut, muncul ulkus, dan risiko menderita kanker tertentu.Sementara apabila tidak tertangani dengan baik pada bayi dan anak-anak, mungkin saja terjadi komplikasi berupa:
  • Masalah pernapasan
  • Batuk terus menerus
  • Napas berbunyi
  • Suara serak
  • Kesulitan menelan
  • Sering meludah
  • Gangguan pernapasan seperti jeda saat bernapas atau apnea
Pada kasus yang lebih langka, silent reflux juga bisa menyebabkan tumbuhnya jaringan baru. Oleh sebab itu, bagi orangtua yang curiga anaknya menderita LPR, cari penanganan yang tepat.

Catatan dari SehatQ

Penting sekali memeriksakan kondisi ke dokter apabila gejala-gejala laryngopharyngeal reflux terjadi terus menerus. Semakin cepat ditangani, risiko terjadinya luka dan komplikasi bisa ditekan.Biasanya, proses pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis pun tidak menimbulkan rasa sakit.Tak kalah krusial, lakukan beberapa penyesuaian gaya hidup yang dirasa kurang sehat. Mulai dari menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, membatasi konsumsi alkohol, hingga mencatat makanan apa yang kerap menjadi pemicu.Jika Anda ingin tahu lebih lanjut cara mencegah terjadinya silent reflux, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
penyakitgerd
Healthline. https://www.healthline.com/health/silent-reflux
Diakses pada 15 Juli 2021
WebMD. https://www.webmd.com/heartburn-gerd/guide/laryngopharyngeal-reflux-silent-reflux
Diakses pada 15 Juli 2021
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15024-laryngopharyngeal-reflux-lpr
Diakses pada 15 Juli 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait