Ini yang Harus Dilakukan, Jika Teman Anda Melela atau Coming Out Sebagai Gay

Hindari diskriminasi teman Anda yang melela atau coming out sebagai gay, biseksual, maupun transgender (LGBT)
Anda tetap dapat bersahabat, dengan teman Anda yang melela atau coming out sebagai gay

Pernahkah teman dekat Anda, coming out dan mengaku dirinya sebagai gay atau lesbian? Jika memang sudah menerima kondisi homoseksual, mungkin Anda tak lagi merasa kebingungan. Namun Anda mungkin tak menyetujui hal tersebut, sehingga merasa bingung dan dilema, karena teman dekat mengakui dirinya sebagai gay atau lesbian.

Ada alasan seorang gay atau lesbian untuk melela, atau mengakui kondisi tersebut, seperti ingin jujur pada diri sendiri, serta ingin diterima dengan jati diri yang sebenarnya. Selain itu, gay yang sudah coming out juga memiliki kondisi mental lebih sehat. Sebab, melela dapat membantu mereka meredakan kondisi depresi maupun gangguan kecemasan.

Lakukan ini, jika teman Anda melela dan coming out sebagai gay atau lesbian

Proses coming out, atau saat ini dikenal dengan istilah melela, bukanlah hal yang mudah bagi kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Beberapa gay juga mungkin untuk selektif, dalam memilih teman untuk coming out. Untuk itu, boleh dikatakan bahwa Anda adalah orang terpilih, saat teman Anda mengaku dirinya lesbian atau gay, kepada Anda.

Ini yang harus Anda lakukan, jika teman Anda coming out sebagai seorang gay.

  • Berterima kasih karena mereka melela kepada Anda

Memiliki orientasi seksual yang berbeda, dan mengakui hal tersebut kepada orang lain, bukanlah hal yang mudah. Teman yang melela dan coming out sebagai gay, telah memercayakan rahasia mereka kepada Anda. Jadi, Anda mungkin telah dianggapnya sebagai teman dekat

  • Jangan mengkonfrontasi, terlepas dari pendapat pribadi Anda

Anda mungkin tidak setuju dengan homoseksual, yang boleh jadi karena faktor agama, atau logika yang memang menolaknya. Saat teman Anda mengaku sebagai gay, Anda mungkin menjadi dilema, karena teman Anda ternyata bagian dari kelompok ini.

Terlepas dari tidak setujunya terhadap homoseksual, hindari konfrontasi terhadap teman Anda yang membuka dirinya sebagai seorang gay maupun lesbian. Sampaikan pula, Anda mungkin membutuhkan waktu, untuk mencerna pengakuannya. Hindari ungkapan ekspresi kekecewaan maupun kemarahan, karena hal tersebut dapat memengaruhi kesehatan mentalnya.

  • Anda boleh memberikan pertanyaan terkait orientasi seksualnya

Jika Anda tak setuju dengan homoseksual, Anda boleh jadi tidak ingin memeluknya. Walau begitu, Anda tetap dapat mengkonfirmasi, atau menyampaikan pertanyaan yang mungkin bermunculan di benak Anda, terkait orientasi seksualnya.

Memberikan pertanyaan seperti, “Siapa saja yang tahu?”, atau “Apakah itu bisa disembuhkan?” (Walau homoseksual bukanlah penyakit), bisa Anda tanyakan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih baik, daripada Anda mengkonfrontasi dan mengekspresikan marah, kepada rekan Anda.

  • Menjaga rahasia teman Anda

Proses coming out bukanlah hal yang mudah, dan mungkin teman Anda menyeleksi orang untuk membuka rahasianya, sebagai seorang lesbian atau gay. Terlepas Anda setuju atau tidak, jangan bocorkan rahasia teman Anda, kepada orang lain. Biarkan ia sendiri yang melakukannya.

  • Selipkan humor untuk mencairkan suasana

Momen-momen coming out atau melela boleh jadi mendebarkan, baik bagi Anda, maupun teman yang mengaku dirinya gay atau lesbian. Anda boleh mencairkan suasana, dengan menyampaikan humor atau lelucu, agar teman Anda tak dilingkupi rasa tegang.

  • Sampaikan bahwa Anda tetap peduli terhadapnya

Teman Anda mungkin didera rasa takut untuk ditolak, dan dijauhi karena melewati proses coming out. Jika memungkinkan, sampaikan bahwa Anda tetap mendukungnya, dan tetap ingin berteman dengannya.

Mengapa Anda tak boleh mendiskriminasi teman yang melela?

Orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai homoseksual, lebih rentan untuk terkena gangguan mental, daripada kelompok heteroseksual. Diskriminasi terhadap kelompok ini, paling berkontribusi terhadap kondisi tersebut.

Teman-teman Anda yang merupakan bagian dari kelompok LGBT, lebih berisiko untuk mengidap gangguan psikologis, seperti kondisi depresi, gangguan kecemasan, gangguan obsesif-kompulsif, melukai diri sendiri, pikiran bunuh diri, bahkan gangguan penyalahgunaan obat.

Memiliki orientasi seksual yang berbeda, kerap membuat gay dan lesbian, merasa sendirian. Memberikan respons baik kepada teman Anda, yang coming out dan melela sebagai lesbian maupun gay, membantu mereka untuk tidak merasa sendiri.

Kembali digarisbawahi, Anda tak harus menerima homoseksual atau biseksual, karena hal tersebut merupakan bagian dari prinsip diri sendiri. Walau begitu, Anda sangat disarankan untuk tetap memperlakukan mereka sebagai sesama manusia, dan tidak melakukan diskriminasi.

Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/depression/why-are-so-many-gay-teens-depressed.aspx
Diakses pada 25 Juli 2019

Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/sexual-health/straight-talk-what-would-you-do-if-someone-told-you-they-were-coming-out.aspx
Diakses pada 25 Juli 2019

LGBT Resource Center. https://lgbtrc.usc.edu/support/comingout/moretips/
Diakses pada 25 Juli 2019

LGBTQ Center. https://lgbtq.unc.edu/programs/education/safe-zone-training/guidelines-safe-zone-allies/if-someone-comes-out-you
Diakses pada 25 Juli 2019

Psych Central. https://psychcentral.com/lib/higher-risk-of-mental-health-problems-for-homosexuals/
Diakses pada 25 Juli 2019

Web MD. https://www.webmd.com/mental-health/news/20130129/coming-out-can-bring-health-benefits-study-says
Diakses pada 25 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed