logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Mental

Labeling Tak Baik untuk Kesehatan Mental, Ini Alasannya

open-summary

Labeling adalah pemberian cap terhadap perilaku seseorang yang bisa berujung sebagai stigma. Labeling berlebihan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental.


close-summary

5

(3)

17 Feb 2021

| Nina Hertiwi Putri

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Labeling adalah pemberian cap pada seseorang

Labeling bisa berdampak negatif pada kesehatan mental

Table of Content

  • Lebih lanjut tentang teori labeling
  • Contoh labeling
  • Dampak labeling terhadap kesehatan mental

Labeling adalah pemberian cap terhadap seseorang yang dilakukan berdasarkan perilaku orang tersebut dalam satu waktu. Pemberian label ini bisa berdampak signifikan terhadap kesehatan mental, terutama jika cap yang diberikan memiliki konotasi negatif.

Advertisement

Saat seseorang diberi label atau cap tertentu, maka secara tidak sadar ia akan mengikuti label tersebut.

Sebagai contoh, ada seorang anak yang kerap dicap atau disebut anak bodoh saat tidak bisa menjawab satu pertanyaan. Akibatnya seterusnya, ia akan menganggap dirinya bodoh. Ini tentu akan memberikan dampak buruk untuk masa depannya.

Lebih lanjut tentang teori labeling

Labeling sebenarnya pasti pernah dilakukan hampir semua orang. Dalam pikiran Anda, pasti ada orang tertentu yang dicap sebagai si jahat, si pelit, si baik hati, atau dicap berdasarkan pekerjaannya, si dokter, si penyanyi, atau si atlet.

Meski sekilas pemberian cap ini bukanlah hal yang penting, tapi secara tidak langsung ini menggambarkan identitas orang tersebut. Saat memberi label pada identitas seseorang, maka ada ekspektasi tertentu dari diri Anda terhadap perilaku orang tersebut.

Ekspektasi inilah yang kemudian akan memicu stres, baik pada pemberi label maupun yang diberi label. Ekspektasi terhadap identitas, sifatnya cenderung kaku. Padahal, kita tahu sendiri bahwa setiap manusia pasti bisa berubah.

Contoh labeling

Berikut ini beberapa contoh dari labeling dalam kehidupan sehari-hari.

• Contoh memberikan label kepada orang lain

Anda melabeli A sebagai orang baik. Lalu, A menunjukkan perilaku yang lebih cocok dilabeli sebagai orang jahat. Hal ini akan membuat Anda kesulitan untuk menerima hal tersebut. Sebab di benak Anda, ada ekspektasi bahwa A akan selalu baik.

Labeling membuat Anda berpikir orang baik pasti selalu baik dan orang jahat pasti selalu jahat. Padahal pada kenyataannya, hal tersebut tidak terjadi. Orang baik punya sisi jahat, begitu juga sebaliknya. Orang jahat tetap punya sisi baik.

Ketidakcocokan antara ekspektasi dan kenyataan ini bisa memicu stres atau tekanan, terutama jika perubahan tersebut memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan.

• Contoh menerima label dari orang lain

Menerima labeling juga bisa menjadi hal yang berat. Labeling pun bisa datang dari orang lain maupun diri sendiri.
Pada ibu rumah tangga yang harus kembali bekerja, misalnya. Selama ini, label ibu rumah tangga begitu melekat ke diri perempuan tersebut.

Lantas saat keadaan memaksanya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, identitas ibu rumah tangga akan sulit dilepas.

Orang-orang akan bertanya-tanya alasan ibu tersebut kembali bekerja. Begitu juga sang ibu yang bisa saja menjadi merasa bersalah melepas statusnya sebagai ibu rumah tangga karena jadi harus “meninggalkan” anaknya di rumah.

Rasa bersalah yang terus menerus ada, lama-kelamaan bisa berkembang menjadi depresi.

Labeling membuat pikiran yang seharusnya dibuka selebar mungkin, menjadi memiliki batas-batas sempit. Hal tersebut berlaku baik untuk pemberi label maupun penerima label.

Oleh karena itu, meski labeling tidak bisa sepenuhnya dihindari, perilaku ini perlu dikurangi secara signifikan.

Baca Juga: Kenapa Manusia Suka Bergosip? Ini Alasannya Secara Ilmiah

Dampak labeling terhadap kesehatan mental

Labeling bisa memicu berbagai dampak untuk kesehatan mental seseorang, seperti berikut ini.

1. Merasa diri kurang berharga

Saat ada label negatif yang melekat, maka rasa rendah diri akan muncul. Label tersebut akan membuat orang percaya bahwa cap yang diberikan orang adalah kenyataan yang harus diterima.

2. Terbawa stigma yang melekat

Label yang melekat, melahirkan sebuah stigma. Seseorang yang diberi stigma negatif, akan merasakan berbagai emosi negatif, seperti malu, rasa bersalah, dan depresi.

3. Membuat seseorang mengisolasi diri dari kehidupan sosial

Segala emosi negatif yang dirasakan tersebut, akan memicu orang yang diberi label, menarik diri dari kehidupan sosial. Hal ini dilakukan sebagai salah satu cara melindungi diri dari berbagai konsekuensi menyakitkan yang akan atau sudah terjadi.

Labeling yang berujung pada stigma, bisa berakhir pada diskriminasi pada banyak hal. Labeling negatif bisa membuat seseorang sulit mencari pekerjaan, dianggap sebelah mata oleh orang lain, bahkan lebih rentan menerima persekusi.

4. Rasa percaya diri jadi rendah

Hal-hal negatif yang terjadi tersebut membuat orang yang menerima label negatif, kehilangan kepercayaan diri. Tak hanya pada orang dewasa. Pada anak-anak, hal ini juga bisa terjadi.

Sebagai contoh, misalnya ada anak yang salah menjawab pertanyaan di kelas satu kali, lalu guru dan teman-temannya menertawakan dan secara tidak langsung memberikan label bodoh.

Hal ini akan membuat anak tidak punya keberanian lagi untuk menjawab pertanyaan guru di depan teman-temannya. Rasa percaya dirinya sudah hilang.

5. Kemampuan tidak berkembang dan tidak bebas melakukan aktivitas

Rasa percaya diri yang sudah hilang, membuatnya juga kehilangan banyak kesempatan, termasuk kesempatan untuk belajar. Dalam jangka panjang, labeling bisa membuat seseorang bukan malas namun malu untuk belajar.

Hal ini tentu bisa membuat kemampuannya tidak berkembang dan pada akhirnya, tidak bisa bebas melakukan suatu aktivitas karena keterbatasan kemampuan.

Baca Juga

  • Mengenal Jenis Gangguan Suasana Hati Beserta Gejalanya
  • 5 Manfaat Memaafkan untuk Usir Stres dan Sehatkan Jantung
  • Memahami Self Harm, Perilaku Menyakiti Diri Sendiri yang Berbahaya

Semua dampak labeling di atas, bisa berjalan sebagai satu siklus berbahaya yang akan terus berputar jika pemberian stereotip ini tidak segera dihentikan.

Menghadapi labeling bukanlah hal yang mudah dilakukan. Mengubah pandangan orang kepada diri kita memang tidak mudah. Namun lebih sulit lagi mengubah pandangan kita terhadap diri sendiri.

Jika kita sudah merasa tidak berharga, tidak percaya diri, dan harus menjauh dari lingkungan sosial, membalikkan semua emosi negatif tersebut perlu usaha ekstra.

Apabila Anda termasuk salah satu orang yang mengalami dampak negatif dari labeling, jangan ragu untuk meminta bantuan profesional baik itu ke psikolog ataupun psikiater.

Advertisement

depresigangguan mentalkesehatan mentalmasalah kejiwaan

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved