Sering menggunakan kuteka kuku dikaitkan dengan risiko kesehatan tertentu
Kutek kuku diaplikasikan untuk mempercantik tampilan kuku

Bukan hanya wajah, kuku juga tak luput dari perhatian kaum hawa. Agar terlihat lebih cantik dan menarik, kuku kerap diberi kutek yang beraneka warna. Akan tetapi, di balik fungsinya untuk mempercantik penampilan, ternyata ada risiko kesehatan dari penggunaan kutek kuku yang penting untuk wanita ketahui.

Risiko kesehatan akibat kutek kuku

Kutek kuku umumnya diaplikasikan di atas lempeng kuku dalam beberapa lapisan, kemudian dibiarkan mengering hingga menempel pada kuku dengan baik. Hal tersebut akan membuat kuku Anda memiliki warna yang cantik. Akan tetapi, terdapat risiko kesehatan yang dapat terjadi akibat kutek kuku, di antaranya:

  • Perubahan warna asli kuku

Kutek memiliki pilihan warna yang beraneka ragam dari mulai yang cerah hingga yang gelap. Beberapa warna kutek, terutama warna yang lebih gelap dapat menyebabkan perubahan warna kuku. Sebab pewarna pada kutek akan berinteraksi dengan keratin kuku dan masuk ke dalam enamel kuku hingga menyebabkan warna kuku berubah. Umumnya, warna kuku menjadi kuning untuk sementara. 

  • Kuku mengalami kerusakan atau infeksi jamur

Memakai kutek kuku dalam waktu yang lama juga dapat menyebabkan kuku menjadi kering, rapuh, bahkan berpotensi menyebabkan infeksi jamur. Gejala jamur pada kuku yang harus Anda ketahui adalah kuku menebal, mudah rapuh, dan adanya bau tidak sedap. 

Tak hanya itu, kebanyakan orang juga menggunakan aseton untuk membersihkan kutek karena dapat dengan mudah menghapusnya. Akan tetapi, perendaman dalam aseton dapat memberi efek yang keras pada kuku hingga membuatnya kering bahkan rusak. Selain itu, menggosok dan mengikis kutek secara agresif juga bisa melukai lempeng kuku. 

  • Mengandung bahan kimia berbahaya bagi tubuh

Paparan produk perawatan kuku yang mengandung bahan kimia berbahaya dapat menyebabkan sejumlah efek kesehatan, mulai dari iritasi kulit, cedera mata, reaksi alergi, gejala kognitif dan neurologis, mual, masalah pernapasan, kontraksi otot yang tak terkendali, gangguan proses reproduksi hingga kanker. 

Dari berbagai bahan kutek, terdapat lima bahan kimia yang perlu diwaspadai yaitu dibutil ftalat, toluene, formaldehida, camphor, dan resin formaldehida. Formaldehida merupakan bahan pengawet yang telah diakui oleh National Cancer Institute sebagai zat penyebab kanker yang potensial. Selain itu, juga menjadi zat yang paling umum menyebabkan dermatitis kontak alergi.

Tak hanya itu, resin formaldehida, dibutil ftalat, dan toluene pun bisa memicu terjadinya dermatitis kontak alergi. Bahkan toluene diyakini dapat menyebabkan cacat lahir dan masalah perkembangan pada bayi. Sementara, camphor dapat beracun jika dikonsumsi melalui mulut.

Penelitian menunjukkan bahwa bahan kimia yang terkandung pada kutek kuku dapat diserap ke dalam tubuh. Akan tetapi, mengenai jumlah tepatnya dan apakah itu cukup menyebabkan efek kesehatan yang negatif belum ditetapkan. Meski begitu, penting bagi Anda untuk tetap waspada.

Meminimalkan efek kutek kuku bagi kesehatan

Sebagian besar orang berpikir bahwa kutek tak akan terserap tubuh karena tak langsung mengoleskannya pada kulit. Padahal beberapa kutek memiliki pelarut dan zat lain yang dapat meningkatkan penyerapan, dan kontak dengan kutikula (lapisan kulit di pangkal kuku) dapat menarik bahan kimia ke dalam tubuh. Meski mungkin efek paparan dalam jangka pendek belum terlihat. 

Akan tetapi, demi keamanan pilihlah produk kutek kuku yang bebas dari bahan kimia berbahaya dan mengandung bahan-bahan yang aman. Anda dapat memerhatikan bahan-bahan kutek yang terdapat dalam label kemasan. Jika memungkinkan, sebaiknya kurangilah frekuensi mewarnai kuku agar paparan bahan kimia terhadap kuku tidak terus-menerus terjadi. 

Dalam membersihkan kutek kuku juga sebaiknya gunakanlah bahan-bahan yang lebih alami, seperti hidrogen peroksida, baking soda, pasta gigi, atau cuka dan lemon. Bahan alami tersebut kemungkinkan minim memberi efek yang negatif pada kuku. Langkah-langkah tersebut dilakukan sebagai upaya dalam meminimalisir efek kutek kuku bagi kesehatan.

Web MD. https://www.webmd.com/beauty/news/20120411/is-your-nail-polish-toxic#1
Diakses pada 05 Mei 2020
Harvard Health Publishing. https://www.health.harvard.edu/blog/a-look-at-the-effects-of-nail-polish-on-nail-health-and-safety-2019112118231
Diakses pada 05 Mei 2020
Live Science. https://www.livescience.com/50917-the-hidden-risks-in-nail-polish.html
Diakses pada 05 Mei 2020
The Healthy. https://www.thehealthy.com/beauty/nail-care/toxins-in-nail-polish-study/
Diakses pada 05 Mei 2020

Artikel Terkait