Penyebab Gizi Buruk pada Anak Perlu Disadari Sedini Mungkin


Penyebab gizi buruk pada anak perlu Anda kenali sedini mungkin. Dalam kasus gizi buruk, WHO memperkirakan, lebih dari 46 juta orang di seluruh dunia mengalami kekurangan gizi dan 15 juta anak di seluruh dunia mengalami perkembangan yang terhambat akibat pola makan yang buruk.

(0)
13 Jun 2019|Dina Rahmawati
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Penyebab gizi buruk pada anakTahukah Anda, kurangnya aktivitas fisik, bisa menjadi penyebab gizi buruk pada anak?
Gizi buruk terjadi ketika anak tidak menerima nutrisi penting yang cukup, untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Nutrisi penting yang cukup, dapat membuat anak Anda menjalani hidup yang sehat, dan bebas penyakit.Gizi buruk dapat terjadi ketika anak kekurangan gizi atau atau malah kelebihan konsumsi makanan dan minuman, tanpa menerima nutrisi penting.[[artikel-terkait]]

Penyebab gizi buruk

Dalam kasus gizi buruk, WHO memperkirakan, lebih dari 46 juta orang di seluruh dunia mengalami kekurangan gizi dan 15 juta anak di seluruh dunia mengalami perkembangan yang terhambat akibat pola makan yang buruk. Sementara itu, lebih dari dua miliar orang dewasa dan anak-anak, kelebihan berat badan atau obesitas.Gizi buruk dapat disebabkan oleh berbagai kondisi lingkungan maupun medis. Berikut ini penyebab gizi buruk yang dapat terjadi pada anak.

1. Rendahnya asupan makanan

Kurangnya asupan makanan yang cukup, dapat menyebabkan anak tidak mendapat nutrisi yang diperlukan. Selain itu, bahan makanan yang sulit dicerna pun, dapat membuat anak kehilangan nafsu makan, sehingga tidak mendapat asupan nutrisi yang cukup.Tak hanya itu, pola makan yang buruk, dapat membuat anak mengalami gizi buruk karena makan secara tidak teratur.

2. Masalah kesehatan mental

Kondisi seperti  depresi, bulimia, dan anoreksia, dapat menyebabkan anak kekurangan gizi. Anak dengan kondisi kesehatan mental seperti itu, tidak dapat mengikuti kebiasaan makan yang benar. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan anak terkena gizi buruk.

3. Masalah sosial dan mobilitas

Jika Anda tidak dapat meninggalkan rumah untuk membeli makanan atau sulit menyiapkan makanan, maka anak dapat mengalami gizi buruk. Tidak tersedianya makanan, tentu akan membuat anak tidak mendapat nutrisi penting bagi tubuhnya.

4. Gangguan pencernaan dan kondisi lambung

Jika tubuh anak tidak dapat menyerap nutrisi dengan baik, maka ia berisiko mengalami gizi buruk. Gangguan pencernaan seperti penyakit Crohn, diare atau muntah, dapat menyebabkan hilangnya nutrisi penting.Tak hanya itu, kondisi lambung yang bermasalah seperti maag kronis, dapat mengakibatkan anak kesulitan makan, hingga mengalami gizi buruk.

5. Kurangnya asupan ASI

Kurang atau bahkan tidak adanya asupan ASI, dapat menyebabkan terjadinya gizi buruk pada bayi dan anak. ASI merupakan nutrisi penting bagi anak, karena baik bagi pertumbuhan, dan membantu sistem kekebalan tubuh tetap kuat.

6. Kurangnya aktivitas fisik

Anak yang tidak melakukan cukup aktivitas fisik, bisa mengalami gizi buruk. Sebab, kurangnya aktivitas fisik dapat memperlambat proses pencernaan, dan menyebabkan kelebihan berat badan atau obesitas, yang mengarah pada gizi buruk.

7. Sanitasi dan kebersihan air yang buruk

Sanitasi dan kebersihan air yang tidak baik, dapat menyebabkan penyebaran penyakit menular, seperti diare pada anak-anak, yang merupakan penyebab utama gizi buruk. Berdasarkan data UNICEF, dehidrasi diare merenggut 2,2 juta nyawa anak balita di negara-negara berkembang, setiap tahun.

Faktor risiko gizi buruk pada anak

Tak boleh diabaikan, gizi buruk sangat rentan dialami oleh anak-anak. Perlu dipahami, gizi buruk akan berisiko lebih tinggi terjadi pada anak-anak dengan tiga kondisi berikut ini:

1. Tinggal di negara berkembang

Anak-anak yang tinggal, seperti di wilayah Afrika Sub-Sahara atau Asia Selatan, berisiko terkena gizi buruk. Sebab, anak-anak di wilayah tersebut, kesulitan mendapatkan makanan sehat dan memadai.

2. Kemiskinan

Anak yang hidup dalam kemiskinan atau keluarga berpenghasilan rendah, tentu kurang atau bahkan tidak dapat menyediakan cukup asupan makanan bergizi. Akibatnya, anak berisiko mengalami gizi buruk.Yang harus selalu diperhatikan, anak-anak mengalami peningkatan kebutuhan nutrisi. Sehinga jika kebutuhan tersebut tidak dipenuhi, anak berisiko lebih tinggi terhadap gizi buruk.  Untuk menghindari terjadinya gizi buruk, berilah anak Anda asupan makanan yang bergizi. Gizi yang diberikan tidak boleh kurang ataupun lebih, sehingga harus seimbang.

Bagaimana cara mengatasi gizi buruk pada anak?

Meskipun gizi buruk pasti membuat para orangtua merasa cemas, Anda masih bisa membantunya untuk kembali normal dengan menerapkan pola hidup sehat yang baru. Kementerian Kesehatan RI membagi penanganan gizi buruk pada anak dibagi atas 3 fase berikut.

1. Fase stabilisasi

Fase stabilisasi adalah keadaan dimana kondisi klinis dan metabolisme anak belum sepenuhnya stabil. Pada fase ini, dibutuhkan waktu sekitar 1-2 hari untuk memulihkannya, atau bahkan bisa lebih tergantung dari kondisi kesehatan anak Anda.Tujuan dari fase stabilisasi adalah untuk memulihkan fungsi organ-organ yang terganggu, dan ahar pencernaan anak kembali normal. Pada fase ini, anak akan disarankan untuk memberi formula khusus berupa F 75 atau modifikasinya, dengan rincian:
  • Susu skim bubuk (25 gr)
  • Gula pasir (100 gr)
  • Minyak goreng (30 gr)
  • Larutan elektrolit (20 ml)
  • Tambahan air sampai dengan 1000 ml
Fase stabilisasi ini bisa Anda lakukan dengan cara berikut:
  • Pemberian susu formula sedikit tapi sering
Pemberian formula khusus bisa Anda lakukan secara sedikit demi sedikit, namun dalam frekuensi yang sering. Cara ini bisa membantu mencegah kadar gula darah rendah (hipoglikemia) dalam tubuh, serta tidak membebankan saluran pencernaan, hati, dan ginjal.
  • Pemberian susu formula setiap hari
Pemberian formula khusus bisa dilakukan selama 24 jam penuh. Apabila diberikan setiap 2 jam sekali, berarti ada 12 kali pemberian susu. Jika diberikan setiap 3 jam sekali, berarti ada 8 kali pemberian susu.
  • ASI diberikan setelah susu formula khusus
Bila anak Anda bisa menghabiskan porsi yang makan yang Anda sediakan, pemberian formula khusus bisa diberikan setiap 4 jam sekali, atau sama dengan 6 kali pemberian makanan.Jika anak Anda masih menyusui ASI, pemberian ASI bisa dilakukan setelah anak mendapatkan formula khusus.Perlu diperhatikan oleh orangtua, sebaiknya perhatikan aturan pemberian formula seperti:
  • Sebaiknya gunakan cangkir dan sendok daripada botol susu, meskipun anak masih bayi.
  • Gunakan alat bantu pipet tetes untuk anak dengan kondisi yang sangat lemah.

2. Fase transisi

Fase transisi merupakan masa ketika perubahan pemberian makanan tidak menimbulkan masalah untuk kondisi anak. Fase transisi biasanya berlangsung dalam waktu 3-7 hari dengan pemberian susu formula khusus berupa F 100 atau modifikasinya.Kandungan di dalam susu formula F 100, adalah:
  • Susu skim bubuk (85 gr)1wQ
  • Gula pasir (50 gr)
  • Minyak goreng (60 gr)
  • Larutan elektrolit (20 ml)
  • Tambahan air sampai dengan 1000 ml
Fase transisi dapat Anda lakukan dengan cara sebagai berikut:
  • Memberikan formula khusus dengan frekuensi sering dan porsi kecil. Paling tidak setiap 4 jam sekali.
  • Total volume yang diberikan pada 2 hari pertama (48 jam) tetap menggunakan F 75.
  • ASI tetap bisa diberikan setelah anak menghabiskan porsi formulanya.
  • Jika volume pemberian formula khusus tersebut telah tercapai, tandanya anak sudah siap untuk masuk ke fase rehabilitasi.

3. Fase rehabilitasi

Fase rehabilitasi merupakan masa ketika nafsu makan anak sudah mulai kembali normal dan sudah bisa diberikan makanan agak padat melalui mulut atau oral.Namun, jika anak belum sepenuhnya bisa makan secara oral, pemberiannya bisa dilakukan melalui selang makanan (NGT). Fase ini umumnya akan berlangsung selama 2-4 minggu sampai indiktor status gizin BB/TB-nya bisa mencapai -2 SD dengan memberikan F 100.Dalam fase transisi, pemberian F 100 dapat Anda lakukan dengan menambah volumenya setiap hari. Hal ini bisa Anda lakukan hingga anak tidak mampu lagi menghabiskan porsinya.F 100 merupakan energi total yang dibutuhkan anak untuk tumbuh sehat, dan berguna untuk pemberian makanan di tahap selanjutnya. Secara bertahap, porsi menu makanan anak yang teksturnya padat bisa mulai ditambah dengan mengurangi pemberian F 100.

Apa yang harus dilakukan untuk mencegah gizi buruk?

Pencegahan gizi buruk harus dilakukan sejak dini oleh para orangtua. Dalam hal ini, orangtua merupakan pondasi yang kuat agar gizi buruk tidak dialami oleh generasi berikutnya. Untuk mencegah gizi buruk menimpa keluarga Anda, Anda bisa melakuan hal berikut untuk mencegah gizi buruk.
  1. Memaksimalkan pemberian ASI eksklusif pada bayi Anda.
  2. Orangtua khususnya ibu harus terampil dalam menyesuaikan menu MPASI pada anak yang sudah tidak bergantung pada ASI.
  3. Mencari tau penyebab dan gejala awal gizi buruk.
  4. Meningkatkan pemahaman tentang asupan nutrisi dari makanan dan minuman yang dikonsumsi anak.
  5. Rutin periksakan kesehatan buah hati Anda di Posyandu atau Puskesmas, terutama untuk mengukur tinggi dan berat badan anak.
  6. Jika memungkinkan, penuhi kebutuhan nutrisi anak dengan suplemen gizi agar tumbuh kembang anak semakin optimal.
penyakit anakkesehatan anakgizi anaktumbuh kembang anakgizi buruk
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/179316.php
Diakses pada 18 Mei 2019
UNICEF. https://www.unicef.org/sowc98/fs01.htm
Diakses pada 18 Mei 2019
Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/malnutrition#prevention-and-treatment
Diakses pada 18 Mei 2019
Firstcry Parenting. https://parenting.firstcry.com/articles/malnutrition-in-children-causes-symptoms-remedies/?amp
Diakses pada 18 Mei 2019
Mom Junction. https://www.momjunction.com/articles/malnutrition-in-children_00369165/?amp=1
Diakses pada 18 Mei 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait