Kunci Terwujudnya Self-Efficacy Ada pada 4 Hal Ini, Sudah Coba?

(0)
01 Nov 2020|Azelia Trifiana
Self-efficacy adalah kepercayaan seseorang terhadap dirinya sendiri untuk menyelesaiakn tugas hingga suksesKonsep self-efficacy adalah kepercayaan seseorang akan kemampuannya dalam menuntaskan suatu hal dengan sukses
Konsep self-efficacy adalah kepercayaan seseorang akan kemampuannya dalam menuntaskan suatu hal dengan sukses. Artinya, ketika seorang individu memiliki efikasi diri yang tinggi, ia yakin bisa mengerjakan sesuatu. Psikolog tersohor asal Kanada bernama Profesor Albert Bandura yang memperkenalkan konsep ini pada tahun 1977.Setiap orang bisa memiliki efikasi diri terlepas dari lingkungan sekitar bahkan masa lalunya. Menariknya, orang dengan efikasi diri baik akan berdampak positif pada kesehatan mentalnya. 

Cara membangun self-efficacy

Self-efficacy adalah kemampuan menghasilkan dampak tertentu sehingga dapat mewujudkan sesuatu atau mencapai target. Terdapat 4 pilar yang dapat dikembangkan untuk mengembangkan efikasi diri seseorang, yaitu:

1. Terlatih lewat jam terbang

Pilar pertama yang disebut Bandura dalam teorinya adalah mastery experiences atau jam terbang. Tidak ada cara yang lebih baik untuk meyakini kemampuan seseorang selain memasang target, menghadapi seluruh tantangan, hingga pada akhirnya menikmati hasilnya.Ketika seseorang telah berhasil melakukannya berulang kali, akan muncul keyakinan bahwa kegigihan ini pada akhirnya akan membuahkan hasil. Tentunya untuk bisa mencapai tahap ini, seseorang harus sudah kenyang bergelut dengan kegagalan.Semakin terlatih menghadapi situasi yang tidak sesuai ekspektasi, mental akan semakin terasah. Tentunya, hal ini hanya akan berlaku jika seseorang menganggap kegagalan sebagai peluang untuk terus belajar.

2. Melihat langsung kompetensi orang lain

Social modeling menjadi cara kedua membangun self-efficacy, yaitu melihat langsung bagaimana seseorang menunjukkan kompetensinya. Utamanya, kompetensi yang dimiliki orang sebayanya. Dengan demikian, dirinya bisa membayangkan dirinya melakukan hal yang sama.Contoh sederhana ketika seseorang mendengar kabar temannya berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Di saat yang sama, akan terjadi social modeling sehingga yakin bahwa dirinya juga bisa mencapai hal yang sama.Beruntungnya, pesatnya pertukaran informasi di internet membuat social modeling menjadi kian luas. Setiap orang – utamanya remaja – bisa melihat lebih banyak sosok kompeten dan potensial dengan usia yang tak jauh berbeda.Hal ini akan menjadi efektif ketika seseorang memandang kesuksesan orang lain sebagai motivasi, bukannya pemicu rasa iri hati.

3. Motivasi lewat persuasi sosial

Persuasi positif tidaklah sia-sia karena dapat berpengaruh terhadap self-efficacy yang dimilikinya. Meski persuasi sosial ini tak seampuh jam terbang, namun persuasi – terutama dari orang yang dipercaya – akan membangun kompetensi untuk mencapai target.Adanya persuasi dari orang yang dihormati akan membuka peluang untuk menjajal kompetensi tanpa membuat kewalahan. Tak hanya itu, persuasi ini juga dapat membuat seseorang mengesampingkan kekurangan mereka.Tak hanya persuasi dari orang lain, positive self talk juga dapat memperkuat efikasi diri serta membuat performa lebih maksimal. Dalam sebuah studi, diketahui bahwa pemain tenis yang memotivasi dirinya sendiri lewat pep talk sebelum berlatih memiliki performa yang jauh lebih baik ketimbang yang tidak melakukannya.

4. Menjaga mood tetap stabil

Emosi, mood, dan kondisi fisik juga turut berpengaruh terhadap penilaian seseorang akan self-efficacy dirinya. Masih menurut Bandura, lebih sulit merasa percaya akan kemampuan jika mood sedang tidak baik atau ada hal yang dikhawatirkan.Bahkan jika semakin parah, mood yang buruk dapat menghambat munculnya efikasi diri dan kemampuan mencapai target. Tak heran jika orang dengan mood tidak baik lebih mudah menyerah mencapai target dan enggan berusaha lebih jauh.Tentu ini tak mudah mengingat mood swing bisa terjadi kapan saja. Perlu kemampuan untuk mengubah pemahaman negatif menjadi positif. Dengan demikian, rasa pesimis terhadap kemampuan mencapai target bisa jauh berkurang.

Pentingnya self-efficacy untuk kesehatan mental

Kondisi fisiologi seperti mood berpengaruh terhadap self-efficacy, begitu pula sebaliknya. Keyakinan bahwa diri sendiri bisa menuntaskan sesuatu akan berdampak pada kesehatan mentalnya.Keyakinan efikasi diri yang sehat akan membantu seseorang tidak mudah takluk kepada emosi negatif akibat kegagalan atau kekecewaan. Justru sebaliknya, orang dengan efikasi diri yang baik dapat bangkit dari kegagalan. Ada keyakinan bahwa saat gagal, itulah saatnya untuk bangkit lebih jauh.

Catatan dari SehatQ

Tak kalah penting, anggapan bahwa self-efficacy adalah hal yang egois tidaklah tepat. Justru ketika seseorang tidak memiliki efikasi diri yang cukup, ia justru kewalahan dan tidak bisa mengupayakan membantu orang lain.Sementara orang dengan efikasi diri yang mencukupi memiliki kemampuan memenuhi keinginan dirinya dengan baik. Dengan demikian, mereka semakin piawai menolong orang lain karena sudah merasa puas dengan apa yang dicapainya.Penasaran ingin tahu bagaimana manfaat efikasi diri terhadap kesehatan fisik? Anda bisa konsultasi langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.  
kesehatan mentalhidup sehatmenjalin hubunganpola hidup sehat
Positive Psychology. https://positivepsychology.com/bandura-self-efficacy/
Diakses pada 16 Oktober 2020
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-procrastination-equation/201411/self-efficacy-and-success-is-there-any-relationship
Diakses pada 16 Oktober 2020
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-self-efficacy-2795954
Diakses pada 16 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait