logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Hidup Sehat

Kenali 8 Akibat Kekurangan Protein dan Gejalanya yang Bisa Pengaruhi Kesehatan Tubuh Anda

open-summary

Kekurangan protein sering kali dianggap sebagai hal yang hal sepele. Padahal, kekurangan protein bisa mengganggu kesehatan tubuh Anda jika tidak segera diatasi.


close-summary

29 Des 2021

| Atifa Adlina

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Kekurangan protein rentan infeksi

Kuku yang sering patah merupakan salah satu tanda bahwa tubuh kekurangan protein

Table of Content

  • Akibat kekurangan protein pada kesehatan
  • Tanda-tanda kekurangan protein
  • Siapa yang rentan mengalami kekurangan protein?
  • Cara memenuhi kebutuhan protein yang ideal

Dalam Pedoman Gizi Seimbang, protein menjadi salah satu makronutrien penting yang tidak boleh terlewat di setiap menu makan sehari-hari. Sebab, kekurangan protein dalam jangka panjang dapat memengaruhi kesehatan tubuh.

Advertisement

Akibat kekurangan protein pada kesehatan

Julukan protein adalah “the building blocks of life”.

Sebab, salah satu fungsi protein yang paling utama adalah sebagai bahan pembangun otot dan kulit, serta pembentuk enzim dan hormon. Protein juga berperan untuk memastikan tubuh mendapatkan energi yang penting dalam semua sistem organ dan jaringan tubuh. 

Mengutip dari Healthline, kekurangan protein secara terus menerus dapat mengakibatkan perubahan komposisi tubuh serta memengaruhi hampir semua fungsi tubuh.

Ketika kita kekurangan protein, fungsi tubuh tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Lantas, apa yang akan terjadi jika tubuh kita kekurangan protein? Berikut adalah macam-macam akibatnya:

1. Edema

Edema adalah kondisi pembengkakan pada kulit dan menjadi indikasi terjadinya kwashiorkor. Edema terjadi karena kurangnya asupan albumin, protein utama dalam darah.

Padahal, albumin ,berperan dalam menjaga cairan dalam pembuluh darah tidak bocor ke jaringan tubuh lainnya. Selain pembengkakan kulit, ciri lainnya adalah perut buncit dengan badan kurus.

2. Perlemakan hati

Kekurangan protein juga dapat mengakibatkan perlemakan hati. Jika dibiarkan, kemungkinan bisa terjadi peradangan hingga kegagalan fungsi hati. 

Hubungan perlemakan hati dengan kekurangan protein adalah terjadinya gangguan proses sintesis protein pengangkut lemak.

3. Masalah kuku, rambut, dan kulit

Dampak kekurangan protein berikutnya bisa terlihat pada bagian tubuh yang terbentuk dari protein seperti kuku, rambut, dan juga kulit.

Anak yang mengalami defisiensi protein seperti kwashiorkor, akan mengalami kulit pecah-pecah dan timbul kemerahan. 

Defisiensi protein juga dapat mengakibatkan kerontokan rambut, rambut tipis, hingga warna rambut memudar. Kuku juga semakin rapuh karena rendahnya asupan protein.

4. Massa otot menghilang

Protein diperlukan untuk membangun otot. Itu kenapa bagian tubuh yang menyimpan paling banyak protein adalah otot. Ketika protein tidak memadai, tubuh akan mengambil cadangan protein dari otot, sehingga lama kelamaan massa otot menghilang.

5. Rentan patah tulang

Tak hanya otot, tulang juga terbentuk dari protein. Jika seseorang mengalami kekurangan protein, risiko mengalami patah tulang dapat meningkat.

Defisiensi protein berkontribusi terhadap terjadinya patah tulang yang dipicu oleh osteoporosis. Sebab, kurangnya asupan protein akan berdampak pada penurunan massa tulang

Beberapa penelitian menemukan, risiko patah tulang makin rendah apabila asupan protein ditingkatkan. Protein yang terbaik untuk mencegah patah tulang adalah protein hewani.

6. Pertumbuhan terhambat

Kekurangan protein nabati dan hewani juga bisa menyebabkan anak mengalami stunting (kurang gizi) sehingga pertumbuhannya terhambat.

Melalui sebuah studi, pada tahun 2013 diperkirakan 161 juta anak di dunia menderita stuntingi. Stunting  juga menjadi salah satu ciri utama kwashiorkor pada anak.

7. Kwashiorkor

Kwashiorkor adalah bentuk kekurangan gizi parah yang terjadi pada bayi dan anak-anak.

Kekurangan protein yang ekstrim menyebabkan ketidakseimbangan cairan dalam sistem pencernaan.

Hal ini menyebabkan pembengkakan usus yang didiagnosis sebagai edema atau retensi air.

8. Imunitas tubuh menurun

Kekurangan protein bisa menyebabkan peningkatan penyakit infeksi.

Sebab, gizi buruk membuat badan kurus dan lemah, sehingga sistem kekebalan tubuh menurun dan lebih rentan terhadap infeksi.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa wanita yang memiliki pola makan rendah protein selama 9 pekan menunjukkan sistem imun yang lebih rendah.

Baca Juga

  • 6 Gerakan Olahraga Sebelum Tidur dan Manfaatnya untuk Kesehatan
  • Mengenal Struktur Jaringan Otot Manusia dan Fungsinya
  • Dianggap Memikat, Rupanya Ini Penyebab Terbentuknya Dagu Belah

Tanda-tanda kekurangan protein

Kebutuhan protein orang dewasa di Indonesia secara umum adalah sekitar 40-65 gram dalam sehari.

Namun, setiap orang mempunyai kebutuhan asupan protein yang berbeda-beda karena menyesuaikan dengan berat badan serta kondisi tubuh lainnya.

Berikut adalah beberapa tanda atau gejala kekurangan protein yang umum:

1. Kulit kering dan kusam

Asam amino dari protein bermanfaat untuk membantu menjaga kesehatan serta pertumbuhan rambut, kuku, dan juga kulit. Maka dari itu, kekurangan asupan protein bisa membuat kuku lebih rapuh serta kulit lebih kering dan kusam.

2. Mudah lapar

Proses mencerna karbohidrat tergolong lebih cepat daripada protein. Maka ketika Anda kurang makan protein, perut akan lebih cepat merasa lapar.

Penting untuk selalu menyeimbangkan porsi asupan karbohidrat dengan protein dan lemak yang sehat. 

3. Mudah lelah dan mengantuk

Defisiensi protein juga bisa menyebabkan terjadinya kabut otak. Apalagi, asupan karbohidrat tinggi juga bisa membuat Anda lebih cepat mengantuk. Untuk itu, Anda juga terlihat lesu dan mudah lelah.

4 Rambut menipis

Rambut rontok adalah salah satu gejala yang umum terjadi saat Anda kekurangan asupan protein nabati dan hewani. Hal ini pula yang membuat rambut semakin menipis, karena produksi asam amino menurun.

5. Perubahan suasana hati

Ada berbagai penyebab tidak menentunya perubahan suasana hati. Ternyata mood yang mudah berubah juga menjadi salah satu tanda kekurangan protein.

Alasannya, protein yang memproduksi asam amino berperan dalam produksi hormon serotonin dan dopamin. Ini berfungsi agar Anda merasa senang dan lebih baik.

Siapa yang rentan mengalami kekurangan protein?

Masalah defisiensi protein jarang terjadi pada orang yang tinggal di negara maju. Meski demikian, risiko ini tetap ada. Terutama pada beberapa kelompok orang tertentu.

Masalah gizi yang diakibatkan kekurangan protein juga tergolong masih marak di sejumlah negara berkembang.  Setidaknya 30% anak-anak di Afrika Tengah, Asia Selatan, juga di Indonesia mengalami kekurangan protein.

Meski demikian, ada golongan yang rentan mengalami kekurangan protein, seperti:

  • Anak-anak: anak kecil rentan mengalami defisiensi protein karena beberapa rumah tangga mungkin memiliki persediaan bahan makanan yang terbatas. Defisiensi juga dapat dipengaruhi oleh sanitasi lingkungan yang kurang terjaga dan minimnya edukasi tentang pola makan bergizi seimbang.
  • Vegan dan vegetarian: orang-orang yang tidak makan daging lebih rentan mengalami defisiensi protein. Sebab, protein lebih banyak terkandung dalam sumber-sumber protein hewani.
  • Sering donor darah: protein adalah salah satu bahan pembentuk hemoglobin yang ada dalam darah. Ketika terlalu sering donor darah, tapi tidak menutup kekurangan darah tersebut dengan pola makan yang baik, Anda lebih rentan mengalami defisiensi protein. Kadar hemoglobin seseorang harus diperhatikan agar tidak terlalu rendah.

Cara memenuhi kebutuhan protein yang ideal

Apabila terus dibiarkan, defisiensi protein dapat berdampak buruk bagi tubuh manusia.

Maka sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG), Anda seharusnya memenuhi kebutuhan protein rata-rata untuk memaksimalkan kinerja tubuh. 

Berikut adalah beberapa cara memenuhi kebutuhan protein, seperti:

1. Makan protein terlebih dahulu

Saat makan, pilih makanan yang mengandung protein terlebih dahulu daripada karbohidrat.

Makan protein terlebih dahulu juga dapat membantu menjaga kadar gula darah. Selain itu, cara ini juga dapat membuat Anda merasa kenyang lebih lama.

2. Pilih makanan berprotein tinggi

Sebaiknya, Anda mendapatkan asupan protein yang cukup pada setiap kali makan. Beberapa peneliti merekomendasikan untuk mengonsumsi minimal 20-30 gram protein. 

Perlu Anda ketahui bahwa ada berbagai macam jenis protein yang diperlukan oleh tubuh, dari sumber hewani sampai nabati.

Jadi, Anda juga bisa mengkombinasikan protein hewani dan nabati agar tidak kekurangan asupannya.

Berikut adalah jenis-jenis makanan dengan kandungan protein tinggi yang dapat Anda konsumsi:

  • Telur,
  • Dada ayam,
  • Oats,
  • Keju,
  • Yogurt,
  • Susu,
  • Brokoli,
  • Daging,
  • Tuna,
  • Ikan,
  • Udang,
  • Kacang-kacangan.

3. Konsumsi protein saat sarapan

Terbiasa mengonsumsi sereal atau roti?

Tidak ada salahnya untuk mengganti menu sarapan Anda dengan makanan mengandung protein, seperti oatmeal, granola, atau pun telur.

Sebagai contoh, mengonsumsi telur setiap pagi dapat mengurangi nafsu makan dan membuat Anda kenyang lebih lama.

4. Ganti menu camilan

Cara lainnya yang bisa Anda lakukan agar tidak kekurangan protein adalah dengan mengganti menu camilan dengan protein nabati, seperti granola atau kacang-kacangan.

Sebagai contoh, mengonsumsi kacang almon yang tinggi magnesium, serat, dan juga lemak tak jenuh

Sambil meningkatkan asupan protein, jangan lupa untuk tetap membatasi asupan lemak. Misalnya, dengan memilih protein hewani seperti daging atau produk susu tanpa lemak.

Ingin mengetahui lebih banyak mengenai akibat serta gejala kekurangan protein? Tanyakan langsung pada dokter di aplikasi Kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App store dan Google Play.

Advertisement

proteinnutrisimalnutrisigizi burukhidup sehat

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2023. All Rights Reserved