Krisis Identitas, Bagaimanakah Mengenali dan Mengatasinya?

Perasaan ragu atas diri sendiri bisa menjadi awal krisis identitas
Krisis identitas bisa diawali dengan perasaan meragukan diri sendiri

Akhir-akhir ini, apakah Anda sering mempertanyakan banyak hal tentang diri Anda, misalnya tujuan Anda dalam hidup? Lalu apakah Anda selalu bingung dengan ‘panggilan hidup’ Anda yang sesungguhnya? 

Jika jawaban Anda adalah iya, mungkin saja Anda sedang mengalami kondisi mental yang disebut krisis identitas. 

Apa itu krisis identitas?

Istilah krisis identitas pertama kali dicetuskan oleh Erik Erikson, seorang psikolog dan psikoanalis asal Jerman. 

Ia berteori bahwa tantangan psikologis seperti ini tidak hanya dapat dialami oleh remaja, tetapi juga orang paruh baya. Artinya, identitas merupakan sesuatu yang terus tumbuh sepanjang hidup saat seseorang menghadapi tantangan baru dan berhasil mengatasi berbagai masalah.

bayi menangis dan krisis identitas pada orang tua
Memiliki anak bisa menjadi salah satu faktor pemicu krisis identitas

Erikson juga percaya bahwa pengembangan kepribadian seseorang bergantung pada apakah ia dapat menyelesaikan konflik dengan baik dalam kehidupannya atau tidak.  

Krisis identitas adalah ketika Anda mempertanyakan siapa diri Anda atau identitas diri. Biasanya, kondisi ini muncul ketika seseorang tengah mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Beberapa contoh perubahan tersebut meliputi:

  • Kehilangan pekerjaan atau memulai pekerjaan baru
  • Menjalani hubungan yang baru
  • Perceraian
  • Memiliki anak
  • Kehilangan orang tercinta
  • Pindah ke lingkungan baru
  • Mengalami kejadian traumatis
  • Sakit

Kondisi krisis identitas juga umum dialami oleh orang dengan masalah mental. Misalnya, depresi, bipolar, dan gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder).

Seperti apa ciri-ciri krisis identitas? 

Termasuk hal yang normal jika Anda mempertanyakan siapa diri Anda dan apa yang sebenarnya Anda inginkan dalam hidup. Namun bila Anda diterpa berbagai pertanyaan eksistensi tersebut saat sedang menghadapi perubahan besar atau tekanan dalam hidup, Anda mungkin sedang mengalami krisis identitas. 

Secara spesifik, sederet gejala berikut dapat menandakan seseorang tengah mengalami krisis identitas:

  • Mempertanyakan siapa diri Anda secara keseluruhan, atau yang berkaitan dengan beberapa aspek kehidupan (seperti hubungan, usia, maupun karier)
  • Mengalami konflik pribadi yang besar karena pertanyaan-pertanyaan tersebut. 
  • Sedang menghadapi masalah atau perubahan besar yang memengaruhi pendapat mengenai diri sendiri. 
  • Mempertanyakan nilai hidup, spiritualitas, minat, atau karier yang berdampak besar pada cara Anda memandang diri sendiri 
  • Terus mencari arti dan makna hidup, serta hal-hal yang membuat Anda termotivasi dalam hidup 

Krisis identitas yang berujung pada depresi

depresi bisa menjadi komplikasi krisis identitas
Krisis identitas bisa meningkatkan risiko depresi

Seperti jenis krisis lainnya, krisis identitas juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Terus-menerus memandang diri Anda secara negatif hanya akan membuat Anda merasa lemah, bahkan meningkatkan risiko depresi. 

Jika Anda merasa mengalami krisis identitas yang disertai gejala depresi, segera cari bantuan dengan pergi ke psikolog atau psikiater. Seseorang dicurigai mengalami depresi apabila ia menunjukkan gejala-gejala di bawah ini selama lebih dari dua minggu:

  • Merasa putus asa dan tidak berharga
  • Kehilangan minat untuk melakukan hal-hal yang tadinya disukai
  • Kelelahan
  • Mudah marah atau uring-uringan
  • Terlalu sedikit atau terlalu banyak makan
  • Sulit konsentrasi

Bagaimana cara menangani krisis identitas?

Meski bisa membuat Anda stres, krisis identitas sesungguhnya diperlukan agar Anda lebih mengenal diri sendiri dan tumbuh menjadi manusia yang lebih baik. Agar dapat melewati tantangan psikologis ini dengan lebih mudah, Anda bisa melakukan beberapa hal berikut: 

  • Gali diri lebih dalam

Luangkan waktu untuk benar-benar melihat ke dalam diri. Anda tidak selalu harus memiliki jawabannya sekarang juga. Yang penting, Anda berusaha untuk terus menggali dan mengenal diri sendiri.

Sebagai contoh, jika Anda tengah mengalami perubahan besar, coba tanyakan pada diri sendiri apakah Anda puas dengan perubahan tersebut. Lalu bagaimana cara Anda bisa menghadapinya dengan lebih baik.

  • Pikirkan hal-hal yang membuat Anda bahagia

Terkadang, orang terlalu fokus pada satu hal yang tidak menyenangkan, dan melupakan hal-hal lain yang lebih berharga. Bila Anda selalu berkutat dengan urusan negatif dan lupa untuk memberikan hal-hal yang positif pada diri sendiri, bisa jadi ini alasan mengapa Anda mengalami krisis identitas.  

Terimalah fakta bahwa Anda tidak dapat mengendalikan semua yang terjadi dalam hidup. Tapi Anda selalu bisa memilih untuk lebih bahagia dan positif.

Karena itu, mulailah mencari hal-hal yang menurut Anda bisa membuat Anda lebih bersemangat. Contohnya, melakukan hobi baru, bertemu dengan komunitas atau orang baru, dan cara lainnya. 

  • Cari dukungan

Dukungan dari orang-orang tercinta akan membuat Anda lebih kuat dalam menghadapi perubahan hidup maupun stres. Kata-kata motivasi, pelukan, dan kebersamaan dapat merangsang Anda untuk lebih percaya pada diri sendiri dan meyakinkan Anda supaya bisa melewati segala krisis ini. 

Tak hanya dari pasangan, teman, dan anggota keluarga, Anda juga bisa mendapatkan dukungan dari teman satu komunitas, terapis, dan lainnya. 

Krisis identitas dapat dialami oleh semua orang dari segala usia. Meski dapat membuat Anda merasa hampa atau frustrasi, kondisi ini sebenarnya bisa membantu Anda untuk lebih mengenal diri sendiri. 

Jika Anda tengah mengalami perubahan besar dalam hidup yang membuat Anda tertekan, bicarakan dengan orang yang Anda percayai. Anda juga dapat berkonsultasi dengan psikolog untuk membantu Anda dalam menyelesaikan apa yang sedang terjadi dalam hidup Anda.

Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-an-identity-crisis-2795948
Diakses pada 28 Februari 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/mental-health/identity-crisis
Diakses pada 28 Februari 2020

Artikel Terkait