Anak-anak Korban Bullying Berisiko Lebih Besar Terkena PTSD Saat Dewasa

Korban bullying berisiko mengalami berbagai gangguan psikologis, salah satunya yaitu post traumatic stress disorder (PTSD)
PTSD bisa timbul pada korban bullying, yang ditandai dengan rasa cemas berlebih, dan sering mimpi buruk

Selama ini, post traumatic stress disorder (PTSD) belum banyak dikaitkan sebagai akibat dari perilaku bullying. PTSD, selama ini dianggap lebih banyak dialami orang dewasa, atau veteran militer yang baru pulang berperang. Padahal, kondisi traumatik juga bisa menimpa korban bullying, termasuk anak-anak.

Bullying bisa mengakibatkan dampak yang bertahan dalam jangka waktu lama pada korbannya. Selain itu, perilaku bullying ini juga bisa menyebabkan gangguan kecemasan, depresi, gangguan tidur, dan membuat korbannya menjadi lebih mudah merasa ketakutan.

[[artikel-terkait]]

Bagaimana korban bullying bisa mengalami PTSD?

Korban bullying bisa merasakan akibat perilaku ini secara fisik maupun mental. Korban akan terbiasa merasakan emosi seperti rasa takut, marah, tidak berdaya, dan sulit menemukan jalan keluar dari masalahnya.

Kondisi-kondisi yang dialami di atas, erat kaitannya dengan PTSD. Sehingga, menguatkan kemungkinan bahwa korbang bullying berisiko lebih besar terkena PTSD di kemudian hari. PTSD dikategorikan sebagai gangguan kecemasan yang ditandai dengan tiga gejala umum berikut ini.

1. Terus-menerus teringat kejadian traumatis

Salah satu tanda korban bullying mulai mengalami PTSD adalah terus-menerus mengalami mimpi buruk, yang berkaitan dengan kejadian bullying yang dialami. Selain itu, korban juga umumnya senantiasa melakukan flashback ke kejadian yang membuatnya trauma.

Korban juga bisa merasa sesak napas atau perut terasa seperti terlilit, saat melihat sesuatu yang menyerupai pelaku bullying.

2. Selalu menghindari hal yang membuat trauma

Jika bullying terjadi di sekolah, maka korban umumnya kemudian menolak masuk sekolah. Begitu juga halnya, apabila bullying terjadi di tempat-tempat lain.

Korban bullying sudah mengasosiasikan tempat maupun situasi tersebut, menjadi sesuatu yang tidak aman untuk dirinya. Umumnya, ia akan merasa terancam jika harus pergi ke lokasi terjainya bullying.

3. Menjadi lebih peka terhadap hal tertentu

Korban bullying yang mengalami PTSD, akan menjadi lebih sensitif jika melihat, mendengar, atau mengalami hal yang berkaitan atau mirip dengan kejadian traumatis yang dialaminya.

Sebagai contoh, jika pada saat bullying terjadi sering terdengar suara lonceng, maka korban akan mengasosiasikan bunyi lonceng dengan kejadian traumatis tersebut. Sehingga, pendengarannya akan menjadi lebih sensisitif jika mendengar suara lonceng atau bahkan barang lain, yang terdengar mirip dengan bunyi lonceng.

Gejala gangguan mental dan fisik yang dapat dialami korban bullying

Selain PTSD, berbagai gejala gangguan psikologis lain juga bisa muncul pada korban bullying, seperti:

  • Kesulitan dalam berinteraksi sosial
  • Menutup diri dari lingkungan sekitar, termasuk keluarga
  • Mengalami gangguan kecemasan
  • Depresi
  • Memiliki keinginan untuk bunuh diri, atau bahkan sudah pernah melakukan percobaan bunuh diri
  • Gangguan makan
  • Mengalami beberapa gangguan mental sekaligus

Tidak hanya secara psikologis, perilaku bullying juga bisa memicu gangguan secara fisik pada korbannya, seperti:

  • Sakit tenggorokan, batuk dan pilek
  • Tidak nafsu makan
  • Sakit kepala
  • Mengalami gangguan tidur
  • Nyeri di area perut
  • Nyeri di bagian-bagian otot dan tulang
  • Pusing
  • Tubuh menjadi mudah lelah
  • Memicu untuk mengonsumsi obat secara berlebihan

Gejala-gejala di atas, jika terjadi pada anak-anak, bisa terus bertahan hingga dewasa. Karena itu, perlu dilakukan pencegahan bullying, yang dibangun dari kerjasama antara guru, orangtua, serta anak.

Orangtua juga perlu lebih waspada dalam mengenali perubahan perilaku anak, agar dapat melakukan penanganan dan pendampingan segera, apabila anak menjadi korban bullying.

Artikel Terkait

Banner Telemed