Mengenal Koma, ‘Tidur Panjang’ yang Dapat Mengancam Jiwa

Ada banyak penyebab di balik kondisi kritis atau koma, dan diperlukan perawatan medis yang tepat
Koma membuat orang tidak sadarkan diri dan tidak responsif terhadap lingkungannya

Penggambaran kondisi kritis dan koma sering kita saksikan di televisi atau bioskop. Penggambaran yang terlalu dramatis tersebut tidak sepenuhnya tepat dalam merepresentasikan kondisi kritis dan koma.

Koma merupakan suatu keadaan ketika seseorang tidak sadar dalam waktu yang berkepanjangan. Kondisi ini membuat penderitanya terlihat seperti tertidur lama.

Tingkat kesadaran seseorang dinilai dengan GCS atau Glasgow Coma Scale. GCS adalah skala neurologi yang digunakan untuk mengukur tingkat kesadaran, dan koma merupakan tingkat kesadaran terberat.

Saat mengalami koma, seseorang tidak dapat berbuat apa-apa dan memberikan respons terhadap sekelilingnya, namun masih dapat mendengar orang di sekitarnya.

Penyebab dan tanda-tanda koma

Koma diakibatkan oleh cedera pada otak yang dapat disebabkan oleh berbagai masalah. Cedera tersebut bisa bersifat sementara ataupun permanen. Lebih dari 50% kasus koma berkaitan dengan trauma kepala atau gangguan sistem sirkulasi otak. Berikut berbagai masalah yang dapat menyebabkan kondisi kritis dan koma:

  • Cedera kepala

Cedera kepala berat bisa mengakibatkan pembengkakan dan pendarahan pada otak. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya penekanan pada batang otak sehingga merusak bagian otak yang berfungsi untuk mengatur kesadaran. Rusaknya bagian otak tersebut adalah salah satu penyebab koma.

  • Tumor otak

Tumor otak adalah pertumbuhan sel yang tidak normal pada otak. Tumor di otak atau batang otak dapat menyebabkan koma. Bukan hanya itu, tumor juga bisa menyebabkan pendarahan di otak yang memicu terjadinya koma.

  • Stroke

Stroke disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah atau pecahnya pembuluh darah. Kondisi ini mengakibatkan pasokan darah ke otak menjadi terhalang atau berkurang sehingga menyebabkan terjadinya koma.

  • Diabetes

Pada penderita diabetes, kadar gula darah yang terlalu tinggi (hiperglikemia), ataupun terlalu rendah (hipoglikemia), yang berlangsung lama dapat menyebabkan terjadinya koma. Namun, jenis koma ini biasanya dapat membaik jika kadar gula darah diperbaiki.

  • Hipoksia

Oksigen sangat penting untuk menjaga fungsi otak. Jika pasokan oksigen berkurang atau terputus (hipoksia), misalnya karena serangan jantung, tenggelam, atau tersedak, maka dapat menyebabkan terjadinya koma.

  • Infeksi

Infeksi seperti meningitis dan ensefalitis mampu menyebabkan peradangan otak, sumsum tulang belakang, ataupun jaringan yang mengelilingi otak. Infeksi yang parah bahkan bisa mengakibatkan kerusakan otak dan koma.

  • Kejang

Kejang tunggal, atau yang hanya sekali, terjadi jarang menyebabkan koma. Namun, kejang yang terjadi berulang bisa menyebabkan ketidaksadaran dan koma berkepanjangan. Hal ini terjadi karena kejang berulang dapat mencegah otak untuk pulih dari kejang sebelumnya.

  • Keracunan

Zat yang masuk ke dalam tubuh dapat terakumulasi sebagai racun jika tubuh gagal membuangnya dengan benar. Paparan racun pada tubuh, seperti karbon monoksida dan timbal, dapat menyebabkan kerusakan otak dan koma.

  • Obat-obatan dan alkohol

Overdosis obat-obatan atau alkohol dapat menyebabkan koma. Hal ini disebabkan karena obat-obatan dan alkohol dalam jumlah yang besar bisa mengganggu fungsi neuron (sistem saraf) di otak.

Penyebab koma memang bermacam-macam, maka dari itu Anda tentu harus berhati-hati. Ketika mengalami koma, seseorang tidak dapat berkomunikasi sehingga ia tak dapat mengatakan apa yang dirasakannya. Namun, ada tanda-tanda koma yang dapat Anda perhatikan, di antaranya:

  • Mata tertutup. Pada umumnya, mata seseorang yang mengalami koma tertutup sehingga terlihat seperti tertidur pulas.

  • Tidak bergerak. Anggota tubuh orang yang koma tidak merespons atau bergerak, kecuali jika terjadi gerakan refleks.

  • Tidak bergerak dengan rangsangan. Anggota tubuh orang yang koma tidak merespons atau bergerak dengan rangsangan apa pun, kecuali jika ia melakukan gerakan refleks.

Perawatan untuk orang yang mengalami koma

Komplikasi yang mungkin timbul akibat koma, yaitu dekubitus atau luka pada area punggung bawah karena berbaring terlalu lama, infeksi kandung kemih, dan gumpalan darah di kaki.

Sebagian orang yang mengalami koma tidak terselamatkan, namun sebagian yang lain bisa pulih secara bertahap. Beberapa orang yang pulih dari koma mempunyai potensi cacat besar atau kecil.

Perawatan untuk orang koma tergantung pada penyebabnya. Orang terdekat, seperti keluarga atau pasangan, tentu harus memberikan informasi yang lengkap pada dokter untuk membantu menentukan penyebab orang tersebut koma.

Dokter akan menjaga pernapasan pasien koma dengan alat bantu pernapasan agar jumlah oksigen yang mencapai otak bisa maksimal. Selain itu, jika pasien memiliki diabetes atau infeksi otak, maka dokter akan memberikan glukosa atau antibiotik yang disuntikkan.

Kemudian, bila ditemukan adanya pembengkakan otak, maka bedah mungkin diperlukan untuk mengurangi tekanannya. Dalam perawatan pasien koma, bukan hanya bantuan medis yang diperlukan, namun orang terdekat juga harus selalu memberi dukungan pada pasien koma agar dapat segera bangun dari ‘tidurnya’. Hal ini dapat dilakukan dengan menggenggam tangannya atau membisikan kata-kata di telinganya.

Web MD. https://www.webmd.com/brain/coma-types-causes-treatments-prognosis#1
Diakses pada 14 Agustus 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/173655.php
Diakses pada 14 Agustus 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/coma/symptoms-causes/syc-20371099
Diakses pada 14 Agustus 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed