Penyakit Epididimitis dapat Menimbulkan Berbagai Komplikasi

Penyakit epididimitis adalah penyakit yang terjadi akibat infeksi menular seksual
Epididimitis dapat menimbulkan komplikasi, seperti peradangan kronis, sepsis, dan abses

Penyakit epididimitis merupakan peradangan pada epididimis akibat infeksi. Epididimis merupakan struktur menyerupai tabung berliku yang berada di belakang testis kanan dan kiri. Epididimis berperan sebagai tempat pematangan sperma.

Epididimitis paling sering terjadi akibat penyakit menular seksual, seperti klamidia dan gonorea. Selain itu, bakteri E.coli dan bakteri tuberkulosis juga dapat menyebabkan penyakit epididimitis. Pada anak, peradangan epididimis bisa muncul akibat posisi epididimis yang terputar, aliran balik urine ke epididymis, atau karena trauma langsung (benturan, kecelakaan) pada daerah tersebut. 

Penyakit epididimitis yang diobati segera dengan antibiotik umumnya akan membaik dalam 1 sampai 3 hari. Akan tetapi, pembengkakan yang terjadi membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali normal. Semakin lama waktu yang tertunda dalam mengobati penyakit epididimitis, maka semakin besar kemungkinan Anda mengalami komplikasi.

Komplikasi Penyakit Epididimitis

Berbagai komplikasi yang sering ditemukan akibat penyakit epididimitis, antara lain:

1. Epididimitis Kronis

Peradangan epididimis yang tidak diobati dapat berlangsung terus-menerus. Seseorang dikatakan mengalami epididimitis kronis apabila kondisi yang dialami berlangsung lebih dari 6 minggu. Peradangan berlanjut bahkan setelah infeksi bakteri tidak lagi ditemukan. Hingga saat ini, penyebab epididimitis menjadi kronis belum diketahui.

Penyebab epididimitis kronis adalah infeksi dan pascainfeksi, terdapat granuloma atau pembentukan jaringan baru yang umumnya disebabkan oleh kuman tuberkulosis, sedang meminum obat-obatan, bawaan sejak lahir, dan memiliki penyakit tertentu.

Pengobatan epididimitis kronis lebih sulit dilakukan. Pada keadaan kronis, tidak diperlukan antibiotik karena tidak terdapat infeksi bakteri yang mendasari. Pilihan penanganan yang dianjurkan, yaitu konsumsi obat anti-inflamasi nonsteroid untuk meredakan peradangan dan mengurangi nyeri, serta obat untuk mengubah sinyal saraf ke skrotum.

Pada beberapa kasus, tindakan operasi direkomendasikan untuk mengangkat epididimitis yang mengalami peradangan kronis. Sering berendam dengan air hangat juga dapat membantu mengurangi peradangan yang terjadi.

2. Penyebaran Infeksi

Infeksi dapat mengalami penyebaran ke skrotum dan bagian tubuh lainnya. Penyakit epididimitis kerap menyebar ke testis (epididimo-orkitis). Kondisi ini akan mengakibatkan atrofi testis (ukuran testis mengecil) dan penurunan produksi hormon testosterone, yang dapat berdampak pada masalah fertilitas.

Penyebaran bakteri ke aliran darah dapat menyebabkan sepsis, yaitu kondisi yang mengancam nyawa apabila tidak segera ditangani. Gejala sepsis yang dapat ditemukan, antara lain: suhu tubuh sangat tinggi dan menggigil, detak jantung dan pernapasan meningkat, bercak biru keunguan pada kulit, pusing atau ingin pingsan, disorientasi dan kebingungan, kulit terasa dingin dan tampak pucat, serta penurunan kesadaran.

3. Abses Skrotum

Jika keluhan tidak membaik setelah pemberian antibiotik dan Anda mengalami gangguan buang air kecil, perlu dicurigai adanya abses epididimitis. Pada kondisi abses, pus (nanah) akan berkumpul dalam epididimis dan struktur di sekitarnya. Namun, komplikasi ini jarang terjadi pada penyakit epididimitis.

Abses menyebabkan skrotum tampak nyeri, meradang, dan membesar, yang membentuk suatu massa. Ketika diraba, massa akan terasa keras dan sulit dibedakan dengan massa keganasan. Dokter akan melakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk memastikan isi dari massa tersebut.

Penyakit epididimitis yang disertai abses memerlukan operasi drainase untuk mengeluarkan nanah yang terkumpul. Pada kasus tertentu, jika terjadi nekrosis (kematian) testis, proses operasi dapat disertai dengan pengangkatan testis.

WebMD. https://www.webmd.com/men/what-is-epididymitis
DIakses pada Mei 2019

Better Health. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/epididymitis
Diakses pada Mei 2019

Konicki PJ, Baumgartner J, Kulstad EB. Epididymal abscess. The American Journal of Emergency Medicine. 2004 Oct 1;22(6):505–6.

eMedicineHealth. https://www.emedicinehealth.com/testicle_infection_epididymitis/article_em.htm
DIakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed