Avulsi gigi adalah keadaan yang menyebabkan perubahan warna pada gigi akibat pendarahan pulpa
Avulsi gigi dapat menyebabkan komplikasi

Avulsi gigi adalah terlepasnya gigi dari soket akibat kerusakan ligamen periodontal yang seharusnya menahan gigi tetap pada tempatnya. Avulsi gigi dapat terjadi akibat trauma yang keras pada daerah mulut dan wajah, terutama paling sering terjadi pada gigi seri atas. Biasanya, kasus avulsi gigi ditemukan pada anak-anak usia 7--14 tahun yang disebabkan oleh cedera saat bermain atau berolahraga.

Dalam kelompok usia di atas, pertumbuhan tulang masih terus berlangsung sehingga sangat penting untuk menjaga gigi yang lepas dan struktur gigi di sekitarnya sampai pertumbuhan tulang berhenti di sekitar usia 21 tahun. Hal ini penting diperhatikan sebagai tujuan penanganan gigi avulsi, tidak hanya agar gigi dapat dikembalikan pada tempatnya dan berfungsi lagi.

Pada avulsi gigi, ligamen periodontal robek sehingga menyebabkan gigi terlepas dari soketnya. Aliran darah pada pulpa (tempat serabut saraf dalam gigi) terputus, yang menyebabkan kematian jaringan pulpa. Karena kematian jaringan pulpa ini, gigi yang lepas tidak akan tumbuh lagi dan sangat rentan terhadap infeksi jika tidak ditangani.

Bertahan atau tidaknya ligamen periodontal yang tersisa pada soket gigi memengaruhi dampak avulsi gigi. Jika hidrasi ligamen terjaga, kemungkinannya untuk bertahan dan pulih kembali besar. Risiko infeksi di daerah gigi yang lepas juga kecil. Namun, jika ligamen periodontal rusak berat dan tidak terhidrasi, timbul reaksi radang yang semakin memperparah kerusakan jaringan di sekitar gigi yang lepas. Reaksi radang dapat menyebabkan tulang langsung menempel dengan permukaan akar gigi, menyebabkan bagian akar gigi digantikan oleh tulang. Kondisi ini disebut sebagai resorpsi pengganti.

[[artikel-terkait]]

Komplikasi Avulsi Gigi

Berikut lima komplikasi avulsi gigi yang harus Anda waspadai:

1. Perubahan Warna

Setelah avulsi, gigi dapat berubah warnanya menjadi keabuan atau pink akibat pendarahan pulpa. Perubahan warna juga dapat disebabkan oleh proses resorpsi sementara sehingga perubahan warna yang terjadi juga sementara.

2. Infeksi

Setiap ada jaringan yang mati di dalam tubuh manusia, kuman dapat dengan mudah berkembang di sana. Kematian jaringan pulpa hampir pasti terjadi setelah gigi terlepas dari soket, yang kemudian meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada gigi avulsi dan jaringan sekitarnya pada struktur gigi.

3. Abses

Abses adalah kantung berisi nanah akibat infeksi bakteri. Abses gigi dapat ditemukan di dekat akar gigi, atau pada gusi di sebelah akar gigi. Jika tidak ditangani, infeksi akibat abses gigi dapat masuk ke dalam aliran darah sehingga menyebabkan komplikasi yang fatal.

4. Ankilosis

Proses peradangan dapat menyebabkan ankilosis, yaitu menempelnya tulang dengan jaringan di sekitar gigi. Ankilosis menyebabkan gigi sulit bergerak. Jika diketuk, gigi mengeluarkan suara seperti logam. Letak gigi juga dapat terlihat lebih rendah dibandingkan gigi-gigi disebelahnya. Pada gigi susu, ankilosis mencegah erupsi gigi permanen.

5. Resorpsi

Resorpsi akar gigi adalah hilangnya semen dan dentin gigi akibat penyerapan oleh sel tulang, menyebabkan gigi menjadi rapuh dan tipis karena isinya hilang. Resorpsi juga menyebabkan gigi rentan terkena infeksi dan membusuk.

Trope M. Avulsion of permanent teeth: theory to practice. Dental Traumatology. 2011. http://www.endoexperience.com/documents/Avulsionofpermanentteeth-theorytopracticeTrope2011.pdf
Diakses pada Mei 2019

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/763291-overview#a5
Diakses pada Mei 2019

Whiterose University. Color change in traumatised anterior permanent teeth. http://etheses.whiterose.ac.uk/11560/1/Alia%27s%20thesis%20final.pdf
Diakses pada Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tooth-abscess/symptoms-causes/syc-20350901
Diakses pada Mei 2019

Finucane D, Kinirons MJ. External inflammatory and replacement resorption of luxated, and avulsed replanted permanent incisors: a review and case presentation. Dental Traumatology 2003;19-170-4. http://www.endoexperience.com/documents/externalandinflammaotryrootresorptionduetoavulsion.pdf
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed