Ketika Pertama Kali Anak Berbohong, Orangtua Harus Bagaimana?

Salah satu penyebab anak berbohong adalah mereka ingin tahu apa yang akan terjadi jika mencoba berbohong dalam situasi tertentu
Saat memasuki usia 4 hingga 6 tahun, anak berbohong dengan semakin lihai

Bahkan sejak usianya masih 3 tahun, di titik itulah muncul kemungkinan anak berbohong. Di usia ini, anak sadar bahwa orangtuanya tak bisa membaca pikiran mereka, sehingga mereka bisa berkata bohong tanpa ketahuan.

Saat memasuki usia 4 hingga 6 tahun, anak berbohong dengan semakin lihai. Mereka bisa menggunakan ekspresi wajah tertentu, tak lupa nada suara yang mendukung untuk menyampaikan kebohongannya.

Di sinilah pentingnya komunikasi yang jelas dan dekat antara orangtua dan anak. Tekankan bahwa kejujuran adalah hal yang sangat krusial.

Mengapa anak berbohong?

Ada banyak alasan mengapa anak berbohong. Orangtua bisa menganggap anak berbohong demi mendapatkan yang diinginkan, menghindari konsekuensi tertentu, atau menghindari diminta melakukan aktivitas tertentu.

Namun selain beberapa penyebab umum anak berbohong di atas, ada beberapa hal lain yang bisa mendasari anak berbohong. Apa saja?

  • Mencoba perilaku baru

Salah satu penyebab anak berbohong adalah mereka ingin tahu apa yang akan terjadi jika mencoba berbohong dalam situasi tertentu. Mereka ingin tahu apa yang akan terjadi setelah melontarkan kebohongan.

  • Meningkatkan kepercayaan diri

Anak yang memiliki kepercayaan diri rendah juga mungkin mengatakan kebohongan untuk membuat mereka tampak lebih spesial di mata orang lain. Hal ini biasa terjadi pada anak-anak berusia 8 tahun yang cenderung berbohong melebih-lebihkan sesuatu hingga 80% dari kondisi aslinya.

  • Mengalihkan fokus dari dirinya

Anak-anak yang mengalami depresi atau cemas berlebih juga bisa berbohong tentang kondisi yang mereka alami. Tujuannya untuk menekan kemungkinan terjadinya masalah. Mereka tidak ingin orang di sekitar merasa khawatir terhadap kondisinya.

  • Impulsif

Anak berbohong juga bisa karena impulsif, yaitu berbicara sebelum berpikir. Utamanya, hal ini mungkin terjadi pada anak dengan ADHD

Ketika anak berbohong, orangtua harus apa?

Sebelum menentukan apa yang harus dilakukan orangtua ketika anak mereka berbohong, ketahui dulu apa alasan yang mendasari anak sampai berbohong. Lakukan evaluasi sebelum terburu-buru merespons.

Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua ketika anak berbohong adalah:

  • Tekankan pentingnya kejujuran

Konsep kejujuran harus diperkenalkan pada anak sejak dini. Tanamkan logika bahwa berbuat atau berucap jujur justru lebih tidak berisiko, bahkan tidak ada konsekuensi yang mengikutinya. 

  • Mengabaikan

Jika anak berbohong hanya untuk mencari perhatian, akan jauh lebih baik bila orangtua mengabaikannya. Jangan berikan anak perhatian berlebih karena berpotensi membuat anak ingin melontarkan kebohongan lagi dan lagi. Apalagi jika yang berbohong adalah anak dengan kepercayaan diri rendah. Mereka bisa berbohong soal prestasi di sekolah. Selama tidak ada yang tersakiti dari kebohongan itu, sebaiknya abaikan saja.

  • Menegur halus

Pada situasi tertentu, orangtua juga bisa menegur anak secara halus atau menyindir mereka. Apabila orangtua sudah tahu anak berbohong, sampaikan bahwa apa yang mereka katakan sudah layaknya dongeng. Dalam tahap ini, orangtua menggarisbawahi bahwa anak sedang berbohong sepengetahuan mereka.

  • Paparkan konsekuensi

Apabila anak berbohong sudah dalam tahap yang lebih serius seperti tidak jujur dari mana saja seharian atau soal kewajiban mereka, paparkan konsekuensi dari kebohongan mereka.

Orangtua wajib menyampaikan dengan jelas bahwa ada konsekuensi dari setiap kebohongan yang mereka buat. Selain itu, orangtua dan anak juga bisa membuat kesepakatan “hukuman” apa yang akan diberikan apabila anak berbohong.

  • Jangan berekspektasi terlalu tinggi

Ada kalanya anak berbohong demi memenuhi ekspektasi orangtua mereka, entah itu soal prestasi akademik atau non-akademik. Untuk itu, orangtua perlu paham bahwa ekspektasi terhadap anak sebaiknya jangan terlalu tinggi. 

Sampaikan bahwa Anda akan tetap mencintai Si Kecil – dan akan tetap bangga padanya – tanpa tergantung pada prestasi yang ia buat.

  • Jangan sebut anak pembohong

Menyebut anak sebagai pembohong hanya karena mereka pernah mengucapkan kebohongan adalah kesalahan besar. Anak akan terluka dan merasa orangtuanya tak lagi percaya kepadanya. Jika sudah parah, ini justru membangun kebiasaan anak berbohong.

Tiap anak dalam rentang usia mereka masing-masing bisa berbohong dalam tingkatan yang berbeda. Penting bagi orangtua untuk tidak terburu-buru marah atau melabeli mereka sebagai pembohong, sebelum tahu alasan anak berbohong.

Berikan contoh kepada anak bagaimana bersikap jujur dan ksatria, dalam hal sekecil apapun. Monkey see, monkey do. Dengan demikian, anak akan tahu betapa pentingnya kejujuran dalam menjalani tapak demi tapak usianya.

Bahkan sejak usianya masih 3 tahun, di titik itulah muncul kemungkinan anak berbohong. Di usia ini, anak sadar bahwa orangtuanya tak bisa membaca pikiran mereka, sehingga mereka bisa berkata bohong tanpa ketahuan.

Saat memasuki usia 4 hingga 6 tahun, anak berbohong dengan semakin lihai. Mereka bisa menggunakan ekspresi wajah tertentu, tak lupa nada suara yang mendukung untuk menyampaikan kebohongannya.

Di sinilah pentingnya komunikasi yang jelas dan dekat antara orangtua dan anak. Tekankan bahwa kejujuran adalah hal yang sangat krusial.

Mengapa anak berbohong?

Ada banyak alasan mengapa anak berbohong. Orangtua bisa menganggap anak berbohong demi mendapatkan yang diinginkan, menghindari konsekuensi tertentu, atau menghindari diminta melakukan aktivitas tertentu.

Namun selain beberapa penyebab umum anak berbohong di atas, ada beberapa hal lain yang bisa mendasari anak berbohong. Apa saja?

 

  • Mencoba perilaku baru

 

Salah satu penyebab anak berbohong adalah mereka ingin tahu apa yang akan terjadi jika mencoba berbohong dalam situasi tertentu. Mereka ingin tahu apa yang akan terjadi setelah melontarkan kebohongan.

 

  • Meningkatkan kepercayaan diri

Anak yang memiliki kepercayaan diri rendah juga mungkin mengatakan kebohongan untuk membuat mereka tampak lebih spesial di mata orang lain. Hal ini biasa terjadi pada anak-anak berusia 8 tahun yang cenderung berbohong melebih-lebihkan sesuatu hingga 80% dari kondisi aslinya.

 

 

  • Mengalihkan fokus dari dirinya

 

Anak-anak yang mengalami depresi atau cemas berlebih juga bisa berbohong tentang kondisi yang mereka alami. Tujuannya untuk menekan kemungkinan terjadinya masalah. Mereka tidak ingin orang di sekitar merasa khawatir terhadap kondisinya.

 

 

  • Impulsif

 

Anak berbohong juga bisa karena impulsif, yaitu berbicara sebelum berpikir. Utamanya, hal ini mungkin terjadi pada anak dengan ADHD. 

 

Ketika anak berbohong, orangtua harus apa?

Sebelum menentukan apa yang harus dilakukan orangtua ketika anak mereka berbohong, ketahui dulu apa alasan yang mendasari anak sampai berbohong. Lakukan evaluasi sebelum terburu-buru merespons.

Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua ketika anak berbohong adalah:

 

  • Tekankan pentingnya kejujuran

 

Konsep kejujuran harus diperkenalkan pada anak sejak dini. Tanamkan logika bahwa berbuat atau berucap jujur justru lebih tidak berisiko, bahkan tidak ada konsekuensi yang mengikutinya. 

 

 

  • Mengabaikan

 

Jika anak berbohong hanya untuk mencari perhatian, akan jauh lebih baik bila orangtua mengabaikannya. Jangan berikan anak perhatian berlebih karena berpotensi membuat anak ingin melontarkan kebohongan lagi dan lagi. Apalagi jika yang berbohong adalah anak dengan kepercayaan diri rendah. Mereka bisa berbohong soal prestasi di sekolah. Selama tidak ada yang tersakiti dari kebohongan itu, sebaiknya abaikan saja.

 

 

  • Menegur halus

 

Pada situasi tertentu, orangtua juga bisa menegur anak secara halus atau menyindir mereka. Apabila orangtua sudah tahu anak berbohong, sampaikan bahwa apa yang mereka katakan sudah layaknya dongeng. Dalam tahap ini, orangtua menggarisbawahi bahwa anak sedang berbohong sepengetahuan mereka.

 

  • Paparkan konsekuensi

Apabila anak berbohong sudah dalam tahap yang lebih serius seperti tidak jujur dari mana saja seharian atau soal kewajiban mereka, paparkan konsekuensi dari kebohongan mereka.

 

Orangtua wajib menyampaikan dengan jelas bahwa ada konsekuensi dari setiap kebohongan yang mereka buat. Selain itu, orangtua dan anak juga bisa membuat kesepakatan “hukuman” apa yang akan diberikan apabila anak berbohong.

 

 

  • Jangan berekspektasi terlalu tinggi

 

Ada kalanya anak berbohong demi memenuhi ekspektasi orangtua mereka, entah itu soal prestasi akademik atau non-akademik. Untuk itu, orangtua perlu paham bahwa ekspektasi terhadap anak sebaiknya jangan terlalu tinggi. 

 

Sampaikan bahwa Anda akan tetap mencintai Si Kecil – dan akan tetap bangga padanya – tanpa tergantung pada prestasi yang ia buat.

 

 

  • Jangan sebut anak pembohong

 

Menyebut anak sebagai pembohong hanya karena mereka pernah mengucapkan kebohongan adalah kesalahan besar. Anak akan terluka dan merasa orangtuanya tak lagi percaya kepadanya. Jika sudah parah, ini justru membangun kebiasaan anak berbohong.

Tiap anak dalam rentang usia mereka masing-masing bisa berbohong dalam tingkatan yang berbeda. Penting bagi orangtua untuk tidak terburu-buru marah atau melabeli mereka sebagai pembohong, sebelum tahu alasan anak berbohong.

Berikan contoh kepada anak bagaimana bersikap jujur dan ksatria, dalam hal sekecil apapun. Monkey see, monkey do. Dengan demikian, anak akan tahu betapa pentingnya kejujuran dalam menjalani tapak demi tapak usianya.

Artikel Terkait