logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

Seputar Kesehatan Reproduksi Remaja yang Wajib Diketahui

open-summary

Kesehatan reproduksi remaja adalah hal yang penting untuk diperhatikan. Sebab, ada berbagai masalah yang dapat terjadi, seperti seks bebas, infeksi menular seksual, HIV/AIDS, kehamilan yang tidak diinginkan, perkawinan dini, hingga aborsi.


close-summary

2023-03-21 08:26:38

| Dina Rahmawati

Ditinjau oleh dr. Karlina Lestari

Kesehatan reproduksi remaja penting untuk dipahami

Kesehatan repduksi remaja tidak boleh diabaikan

Table of Content

  • Masalah kesehatan reproduksi remaja
  • Faktor pemicu masalah kesehatan reproduksi remaja
  • Cara menjaga kesehatan reproduksi remaja

Memasuki masa remaja atau masa peralihan menuju dewasa, penting untuk mengajarkan anak seputar kesehatan reproduksi remaja. 

Advertisement

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kesehatan reproduksi remaja adalah kondisi kesehatan yang menyangkut sistem, fungsi, dan proses reproduksi yang dimiliki remaja. 

Sehat yang dimaksud di atas bukan hanya bebas penyakit atau kecacatan secara fisik, tetapi juga secara mental dan sosial.

Di Indonesia, rentang usia remaja sendiri bervariasi. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengklasifikasikan remaja adalah orang yang berusia 10-24 tahun. 

Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI dalam program kerjanya menjelaskan bahwa remaja adalah mereka yang berumur 10-19 tahun. 

Dalam kehidupan sehari-hari, remaja dianggap sebagai pelajar berusia 13-16 tahun yang bersekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan belum menikah.

Masalah kesehatan reproduksi remaja

Masa remaja adalah masa eksplorasi. Ini adalah periode di mana anak mulai mempertanyakan banyak hal, termasuk soal identitas diri, seksualitas, dan gender.

Di saat yang sama, berbagai masalah yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi juga mengintai mereka. 

Sebab, sebagian besar remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas.

Berikut adalah masalah reproduksi remaja yang harus diwaspadai.

1. Seks bebas

Seks bebas adalah perilaku seksual yang dilakukan di luar nikah. Pelakunya juga bisa melakukan hubungan seks dengan pasangan yang berganti-ganti. 

Masalah ini dapat meningkatkan risiko terkena infeksi menular seksual, HIV, dan merangsang tumbuhnya sel kanker rahim pada remaja perempuan.

Selain itu, perilaku seks bebas biasanya diiringi dengan penggunaan obat-obatan terlarang sehingga memperparah persoalan terkait kesehatan reproduksi remaja.

2. Perkosaan

Kejahatan perkosaan pada remaja umumnya memiliki banyak modus.

Remaja perempuan rentan mengalami perkosaan oleh kekasihnya karena dibujuk dengan alasan cinta.

Namun, korban perkosaan bukan hanya remaja perempuan saja, melainkan juga remaja laki-laki (sodomi).

3. Infeksi menular seksual dan HIV

Alasan lain mengapa kesehatan reproduksi perlu dijaga selama masa pubertas atau remaja adalah mencegah infeksi menular seksual (IMS). 

Infeksi ini juga dikenal sebagai penyakit kelamin. IMS, dan juga HIV, umumnya ditularkan melalui hubungan seksual, baik lewat vagina, mulut, ataupun dubur.

Namun, HIV juga bisa menular melalui transfusi darah dari ibu kepada janin yang dikandungnya. 

Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan organ reproduksi, keguguran, kemandulan, kanker leher rahim, cacat pada bayi, hingga kematian.

4. Kehamilan tidak diinginkan

kehamilan tidak diinginkan
Hubungan seks pranikah bisa menyebabkan kehamilan tidak diinginkan

Hubungan seks pranikah di kalangan remaja bisa menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). 

Masalah ini didasari karena kurangnya pemahaman seputar seksualitas. Misalnya, berhubungan intim sekali saja tidak akan menyebabkan kehamilan. 

Padahal kenyataannya tetap bisa hamil selama remaja perempuan berada dalam masa subur.

5. Aborsi

Salah satu masalah kesehatan reproduksi remaja adalah aborsi. 

Aborsi pada remaja yang terkait dengan KTD biasanya sengaja dilakukan. Namun, ada juga yang kegugurannya terjadi secara alami.

Aborsi dapat dipicu karena kondisi remaja perempuan yang mengalami KTD merasa tertekan karena belum siap menjalani kehamilan. 

Kondisi psikologis yang tidak sehat ini juga dapat berdampak pada kesehatan fisiknya.

6. Perkawinan dan kehamilan dini

Perkawinan dini pada remaja umumnya terjadi karena pergaulan bebas, seperti hamil di luar nikah atau alasan ekonomi. 

Padahal remaja yang menikah dini belum cukup matang untuk memiliki anak sehingga rentan menyebabkan kematian pada ibu dan bayi saat melahirkan.

Remaja yang mengalami kehamilan dini pada usia di bawah 20 tahun juga sering mengalami kekurangan gizi dan anemia. 

Faktor pemicu masalah kesehatan reproduksi remaja

Secara umum, terdapat empat faktor yang berhubungan dengan masalah kesehatan reproduksi remaja.

  • Faktor sosial ekonomi dan demografi: kemiskinan, lokasi tempat tinggal yang terpencil, serta tingkat pendidikan yang rendah dan ketidaktahuan mengenai kesehatan reproduksi.
  • Faktor psikologis: ketidakharmonisan keluarga dan depresi bisa memberikan dampak pada kesehatan reproduksi remaja.
  • Faktor budaya dan lingkungan: praktik tradisional yang berdampak buruk terhadap kesehatan reproduksi, keyakinan banyak anak banyak rezeki, dan informasi yang membingungkan mengenai fungsi maupun proses reproduksi.
  • Faktor biologis: cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi, dan lain-lain.

Kehadiran internet juga dapat memancing remaja untuk meniru kebiasaan-kebiasaan yang berisiko. 

Itulah mengapa remaja perlu mengetahui informasi tentang kesehatan reproduksi dengan baik. 

Baca Juga

  • Bra untuk Remaja, Ini Usia Memakai dan Jenisnya yang Tepat
  • Infertilitas Adalah Gangguan Kesuburan yang Harus Diwaspadai Pasangan
  • 12 Bentuk Payudara yang Paling Sering Dijumpai pada Wanita

Cara menjaga kesehatan reproduksi remaja

Penting bagi remaja untuk mengetahui bagaimana cara menjaga kesehatan reproduksinya.

Secara umum, berikut adalah empat hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan reproduksi seksual remaja.

1. Waspadai berbagai penyakit seksual menular

orangtua memberi edukasi pada anak
Orangtua memberi edukasi seputar kesehatan reproduksi remaja

Beberapa jenis penyakit infeksi menular seksual, di antaranya gonore, klamidia, dan sifilis, termasuk infeksi virus HIV yang berujung pada AIDS.

Di dunia, sebanyak 20-25 persen penderita HIV terinfeksi virus tersebut saat remaja. 

Di Indonesia, pencatatan jumlah penderita IMS maupun HIV sendiri kurang akurat, tetapi bukan berarti penyakit menular ini tidak perlu diwaspadai.

Maka dari itu, penting untuk menghindari seks bebas sebagai cara menjaga kesehatan reproduksi pada masa pubertas.

Penyakit menular seksual juga bisa dengan mudah ditangani jika cepat terdeteksi. Sebaliknya, kesehatan reproduksi remaja bisa rusak atau bahkan menyebabkan kemandulan jika masalah ini tidak segera ditangani.

2. Proaktif dengan kondisi kesehatan sendiri

Ada banyak langkah preventif dalam memastikan kesehatan reproduksi remaja, misalnya melakukan screening kanker serviks.

Tidak jarang beberapa klinik meluncurkan promo pemeriksaan ini secara gratis atau dengan potongan harga yang terjangkau bagi remaja.

Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk memanfaatkan kesempatan ini.

3. Menjaga kebersihan alat reproduksi

Terjaganya kebersihan alat reproduksi dapat menurunkan risiko penyakit yang berasal dari bakteri atau jamur. 

Berikut adalah cara menjaga kesehatan reproduksi pada masa pubertas yang dapat dilakukan.

  • Memakai handuk yang lembut, kering, bersih, dan tidak berbau atau lembap.
  • Memakai celana dalam dengan bahan yang mudah menyerap keringat.
  • Ganti pakaian dalam minimal dua kali sehari.
  • Bagi remaja perempuan, bersihkan alat kelamin setelah buang air kecil maupun besar dengan menyeka tisu atau handuk bersih dari arah depan ke belakang, agar kuman di anus tidak masuk ke dalam organ reproduksi.
  • Bagi remaja laki-laki, sangat dianjurkan untuk menjalani khitan atau sunat untuk mencegah tertularnya penyakit menular seksual dan menurunkan risiko terkena kanker penis.

Pemerintah, orangtua, dan kelompok sebaya berperan penting dalam melakukan edukasi kesehatan reproduksi remaja. 

Berikan edukasi mengenai cara perawatan organ reproduksi, dampak pornografi, kehamilan tidak diinginkan, aborsi, infeksi menular seksual dan HIV/AIDS, serta pendewasaan usia pernikahan.

Dengan demikian, berbagai kegiatan di atas diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai pentingnya masalah kesehatan reproduksi.

Sementara itu, jika memiliki pertanyaan lain seputar masalah kesehatan, Anda bisa chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.

Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.

Advertisement

anak praremajamasalah reproduksipubertas

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2023. All Rights Reserved