Mengenal Kondisi Keringat Berdarah (Hematidrosis), Apa Penyebab dan Gejalanya?

Hematridosis bisa terjadi jika seseorang merasa takut dan stres luar biasa.
Hematridosis memang sangat langka, namun, sekitar dua tahun lalu, ada perempuan berusia 21 tahun yang mengalaminya.

Pernahkah Anda membayangkan, bagaimana jadinya kalau kelenjar keringat di tubuh tidak mengeluarkan air, melainkan darah? Meski kondisi medis ini sangat langka, namun keringat berdarah (hematidrosis) memang nyata.

Jika dibayangkan, Anda bisa panik dan ketakutan, melihat darah keluar dari kelenjar keringat yang ada di tubuh. Sekitar dua tahun lalu, seorang perempuan berusia 21 tahun di Italia mengalaminya. Ketika sedang tidur, darah mulai keluar dari kulit wajah dan telapak tangannya.

Sebenarnya, apa itu hematidrosis? Seperti apa penyebab dan gejalanya?

Mengenal hematidrosis, yang menyebabkan keringat berdarah

Kulit akan mengeluarkan darah jika terluka. Namun, saat tidak ada sayatan yang ada pada kulit, darah tidak akan keluar.

Akan tetapi, kondisi hematidrosis bisa menyebabkan kulit mengeluarkan darah, tanpa luka sayatan atau cedera sama sekali. Kondisi ini sangat langka, bahkan hanya beberapa kasus saja yang terjadi pada abad lalu.

Seorang perempuan berusia 21 tahun dari Italia, mengalaminya pada 2017. Wajah dan telapak tangannya mengeluarkan darah, tanpa didahului luka. Bahkan, darah keluar lebih banyak saat dirinya sedang mengalami stres.

Gejala dari hematidrosis pun hanya dua, yakni keluarnya darah dari kelenjar keringat yang ada di tubuh seseorang dan pembengkakan di area yang mengeluarkan darah. Biasanya, darah muncul di sekitar muka.

Penyebab hematridosis

Karena kasusnya yang sangat langka, penyebab hematidrosis pun masih belum dimengerti sepenuhnya. Namun, biasanya hematidrosis terjadi saat seseorang merasakan rasa takut atau stres luar biasa.

Hematidrosis juga bisa terjadi pada seseorang yang akan menghadapi ancaman. Sebab, saat Anda “terjerumus” dalam kondisi stres, tubuh akan masuk ke dalam mode flight-or-fight.

Ini merupakan reaksi alami terhadap ancaman yang dirasakan seseorang. Bisa saja, reaksi ini menyelamatkan Anda dari situasi yang berpotensi membahayakan nyawa.

Saat hal ini terjadi, tubuh akan melepas zat kimia, seperti adrenalin dan kortisol, yang mempersiapkan tubuh untuk melawan atau melarikan diri dari bahaya. Akibatnya, Anda jadi lebih waspada dan energi juga meningkat.

Dalam kasus hematridosis, reaksi alami di atas bisa menyebabkan pecahnya kapiler atau pembuluh darah kecil yang terletak di seluruh jaringan tubuh, termasuk pada kelenjar keringat.

Ketika seseorang merasa takut dan stres, kapiler bisa pecah dan darah pun keluar dari kelenjar keringat.

Siapa yang rentan hematridosis?

Hematridosis bisa saja menjadi gejala dari penyakit lain yang diidap seseorang, seperti tekanan darah tinggi atau gangguan pendarahan. Hematridosis juga bisa terjadi pada wanita yang sedang dalam masa menstruasi.

Hematridosis juga bisa dipicu oleh rasa stres dan takut yang luar biasa. Momen seperti menghadapi kematian atau penyiksaan bisa jadi contohnya.

Apakah hematridosis berbahaya?

Karena kasusnya sangat langka, belum ada pedoman yang jelas mengenai penyakit hematridosis ini. Maka dari itu, belum ada tata cara pengobatannya yang jelas.

Namun, hematridosis disebut tidak mengancam nyawa korbannya. Untuk menghentikan darah keluar dari kulit, biasanya perawatan akan dilakukan dengan mengatasi penyebab stres yang memicu kapiler pecah.

Dokter biasanya akan melakukan tes diagnostik, untuk:

  • Mengetahui jumlah darah
  • Memeriksa jumlah trombosit
  • Menyingkirkan kemungkinan gangguan perdarahan

Beberapa dokter biasanya akan meminta para pengidap hematridosis untuk menjalani tes laboratorium. Pemeriksaan ini diperlukan untuk melihat fungsi ginjal dan hati. Sebab, dengan melihat sampel tes urin, pengidap hematridosis bisa menemukan kelainan dalam organ tubuh mereka.

Jika hasil tes laboratorium tidak menemukan kelainan dalam tubuh pengidap hematridosis, dokter akan langsung meminta sang penderita untuk mencari cara agar rasa stres, takut dan emosi buruk lain, bisa dihilangkan.

Selain itu, kalau sudah “mengetuk palu” bahwa hematidrosis berhasil disembuhkan atau tidak muncul lagi pada seseorang, biasanya dokter akan merekomendasikan pasien untuk mengonsumsi obat-obatan berikut ini.

  • Beta-blockers atau vitamin C untuk menurunkan tekanan darah Anda.
  • Antidepresan, obat antikecemasan atau terapi untuk menghindari perasaan stres “merasuki” tubuh dalam waktu yang lama.
  • Obat-obatan lain untuk membantu pembekuan darah atau menghentikan pendarahan.

Ketiga jenis obat-obatan di atas diharapkan mampu mencegah hematidrosis agar tidak muncul lagi.

Perlu diketahui, biasanya darah yang keluar dari kelenjar keringat akibat hematridosis, akan berhenti dengan sendirinya. Walau tidak dianggap sebagai penyakit serius, hematridosis bisa membuat Anda dehidrasi dan menimbulkan rasa malu, jika terjadi di depan publik.

Catatan dari SehatQ

Jika Anda atau orang terdekat mengalami hematidrosis, jangan panik. Sebab, kepanikan hanya akan memperburuk keadaan. Ada baiknya, Anda segera bersihkan darah yang keluar dari kulit, dan langsung pergi ke dokter, untuk mengetahui penyebab hematidrosis.

CMAJ. https://www.cmaj.ca/content/189/42/E1314

Diakses pada 28 Oktober 2019

 

Web MD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/hematidrosis-hematohidrosis#1

Diakses pada 28 Oktober 2019

 

Healthline. https://www.healthline.com/health/hematidrosis#causes

Diakses pada 28 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed