Kerap Terjadi di Hari Pertama Anak Demam, Ini Penyebab Kejang Berulang

(0)
25 Jun 2020|Azelia Trifiana
Anak bayi hingga anak berusia 5 tahun bisa terkena kejang berulangKejang berulang rentan dialami oleh anak bayi hingga anak usia 5 tahun
Kejang demam atau febrile seizures adalah jenis kejang yang kerap terjadi pada anak-anak mulai usia bayi hingga 5 tahun. Ketika kejang demam terjadi, otot tubuh mengalami kontraksi cepat sehingga gerakan tubuh tidak terkendali.Demam tinggi penyebab kejang berulang bisa terjadi karena infeksi virus, bakteri, atau anak yang membawa faktor risiko.Kejang demam paling sering terjadi pada anak berusia 12-18 bulan. Umumnya, kejang demam terjadi di hari pertama anak mengalami sakit.Ada dua jenis kejang demam, kompleks yang berlangsung lebih lama serta kejang demam sederhana yang lebih umum terjadi.

Penyebab kejang berulang

Anak yang pernah mengalami kejang demam bisa mengalaminya lagi atau kejang berulang. Penyebab kejang berulang ini berbeda-beda, di antaranya:
  • Demam setelah vaksinasi yang bisa terjadi sampai 2 hari setelah vaksinasi
  • Demam karena infeksi bakteri atau virus
  • Anak membawa faktor risiko seperti adanya anggota keluarga lain yang sering mengalami kejang demam
Kejang bisa terjadi karena respons otak terhadap demam yang naik drastis, terutama di hari pertama anak mulai sakit.Sedangkan berdasarkan jenis kejang demamnya, gejala yang dialami bisa berbeda seperti:

1. Kejang demam sederhana

Kejang demam sederhana paling umum terjadi, biasanya hanya berlangsung kurang dari 2 menit hingga 15 menit. Meski demikian, kejang demam jenis ini hanya terjadi sekali dalam periode 24 jam.Beberapa gejala terjadinya kejang demam sederhana atau simple febrile seizure adalah:
  • Anak hilang kesadaran
  • Kejang dengan gerakan lengan menyilang (ritme teratur) dan terjadi di seluruh tubuh
  • Kelelahan
  • Merasa bingung setelah kejang terjadi
  • Lengan dan kaki lunglai

2. Kejang demam kompleks

Sementara pada kejang demam kompleks, durasi terjadinya kejang bisa lebih dari 15 menit. Selain itu, kejang bisa berulang dalam interval waktu 30 menit sekali. Dalam periode 24 jam, kejang demam ini juga bisa terjadi lebih dari sekali.Beberapa gejala terjadinya kejang demam kompleks atau complex febrile seizure adalah:
  • Ketika kejang terjadi pertama kali, suhu tubuh belum tinggi
  • Kejang berulang dalam periode satu tahun sejak pertama kali terjadi
  • Kejang hanya di sisi atau bagian tubuh tertentu Punya riwayat gangguan sarafKerap terjadi pada anak berusia di bawah 15 bulan

Cara mengatasi kejang demam

Jika kejang hanya terjadi saat demam, terjadi tidak sering dan belangsung tidak lama, maka sebenarnya tidak akan menyebabkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan si kecil. Meski demikian, selalu hubungi dokter ketika kejang terjadi. Ini penting untuk memastikan anak tidak kejang berulang, terutama ketika usianya masih di bawah satu tahun.Lalu, apa yang harus orangtua atau orang terdekat lakukan ketika anak mengalami kejang demam, baik yang berulang maupun tidak?
  • Miringkan tubuh ke satu sisi
  • Jangan letakkan objek apapun di mulut
  • Jangan membatasi gerakan saat kejang terjadi
  • Jauhkan objek sekitar yang mungkin membahayakan (perabotan, barang bersudut tajam, dan lainnya)
  • Catat waktu dan interval terjadinya kejang
  • Hubungi layanan medis darurat apabila kejang terjadi lebih dari 5 menit
  • Setelah kejang terjadi, basuh tubuh dengan air suhu ruangan
  • Bawa ke dokter atau rumah sakit
Anak tidak memerlukan rawat inap kecuali ada infeksi serius yang diderita. Sebagian besar kasus kejang demam juga tidak memerlukan obat khusus, hanya obat penurun panas seperti ibuprofen atau acetaminophen.Pada kasus kejang demam berulang, bisa ditambahkan obat diazepam berbentuk peluru gel yang dimasukkan lewat dubur. Orangtua bisa melakukannya sendiri di rumah atas arahan dokter apabila anak kerap mengalami kejang demam. Perlu dicatat pula bahwa anak yang kerap mengalami kejang berulang juga berisiko menderita epilepsi ketika sudah dewasa.

Bisakah kejang demam dicegah?

Penyebab kejang berulang sebenarnya tidak bisa dicegah. Memberikan obat seperti ibuprofen dan acetaminophen ketika mereka demam pun tidak serta merta menghilangkan kemungkinan mengalami kejang.Tidak disarankan pula memberikan obat anti-kejang karena sebagian besar kasus kejang demam tidak berdampak apapun pada kesehatan anak dalam jangka panjang.Meskipun kejang demam terjadi berulang, tak perlu khawatir berlebihan. Wajar jika orangtua merasa panik melihat anak mengalami kejang, terutama yang baru pertama kali terjadi. Konsultasikan dengan dokter spesialis anak untuk tahu apakah anak perlu perawatan lebih jauh atau tidak.Terlebih jika ada gejala seperti leher anak terlihat kaku, muntah, kesulitan bernapas, atau mengantuk parah setelah anak mengalami kejang. Hubungi dokter segera apabila hal ini terjadi.Jika setelah mengalami kejang demam anak bisa kembali beraktivitas seperti semula, tak perlu terlalu khawatir akan kemungkinan komplikasi.
penyakitbayi & menyusuiibu dan anak
Healthline. https://www.healthline.com/health/febrile-seizure
Diakses pada 11 Juni 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/febrile-seizure/symptoms-causes/syc-20372522#:~:text=A%20febrile%20seizure%20is%20a,can%20seem%20like%20an%20eternity.
Diakses pada 11 Juni 2020
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/febrile-seizures/
Diakses pada 11 Juni 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait