logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Mental

Gejala Hoarding Disorder Saat Sering Menimbun Barang

open-summary

Hoarding disorder adalah gangguan mental saat seseorang sering mengumpulkan barang biarpun tidak berguna. Mereka menganggap barang tersebut sangat berharga.


close-summary

4.5

(2)

2 Mar 2022

| Azelia Trifiana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Hoarding disorder

Hoarding disorder membuat rumah terlihat tidak beraturan

Table of Content

  • Mengenal hoarding disorder
  • Mereka yang rentan mengalami hoarding disorder
  • Gejala hoarding disorder
  • Catatan dari SehatQ

Hoarding disorder adalah gangguan ketika seseorang terus menerus mengumpulkan barang yang tidak perlu. Sayangnya, kebiasaan ini tidak disertai kemampuan memilah mana yang harus dibuang. Akibatnya, lingkungan dalam rumah menjadi tidak aman dan jauh dari kata sehat.

Advertisement

Tak hanya tak sedap dipandang dan membuat pikiran selalu penuh, kebiasaan hoarding disorder juga membuat kualitas hidup seseorang menurun. Dalam jangka panjang, hubungan personal dengan orang lain pun menjadi tidak keruan.

Mengenal hoarding disorder

Meski remaja bisa mengalaminya, kebiasaan menumpuk barang tak penting ini kerap dialami orang dewasa. Kondisi ini membuat gangguan ini termasuk dalam diagnosis kesehatan mental independen. Namun, bisa juga terjadi bersamaan dengan macam-macam gangguan psikologis lain.

Ada banyak hal yang memicu terjadinya hoarding disorder, di antaranya:

1. Ikatan dengan benda

Orang yang mengalami gangguan ini kerap merasa benda yang mereka kumpulkan bisa sangat bermanfaat dan berharga suatu saat nanti. Terkadang, keinginan untuk menumpuk barang ini juga dilandasi unsur emosional seperti mengingatkan pada seseorang atau kejadian tertentu.

2. Masa kecil sulit

Hoarang disorder
Kebiasaan menyimpan barang yang tidak berguna.

Troubled inner child atau masa kecil yang tidak berjalan mulus juga bisa menjadi pemicu seseorang menjadi memiliki masalah pada masa tuanya. Pemicunya beragam, entah itu terbiasa melihat tumpukan barang di rumah, kerap dimarahi, atau kesulitan membeli sesuatu karena keterbatasan justru bisa menjadi titik balik menjadi seseorang gangguan ini.

3. Kebiasaan

Orang yang terbiasa hidup dalam lingkungan atau situasi berantakan juga bisa jadi penyebabnya. Lambat laun, mereka terbiasa dengan situasi tidak teratur dan menganggapnya sebagai hal biasa. Terkadang, kondisi ini lebih rentan terjadi pada orang yang hidup seorang diri.

4. Masalah mental

mental hoarding disorder
Kecemasan bisa menjadi memicunya

Terkadang hoarding disorder juga berkaitan dengan masalah mental lainnya. Mulai dari cemas berlebih, ADHD, depresi, demensia, OCD, hingga skizofrenia. Perlu penanganan dari tenaga medis profesional jika masalah mental yang mendasari terjadinya kebiasaan tidak sehat ini.

5. Fungsi eksekutif tak optimal

Menurut penelitian, suka menimbun barang berhubungan dengan ketidakmampuan seseorang menjalankan fungsi eksekutif, yaitu mengendalikan proses kognitif dan perilaku. Itulah sebabnya, orang dengan gangguan ini tidak bisa meregulasi dirinya sendiri. Kerap kali, kondisi ini disertai dengan kesulitan fokus, mengambil keputusan, dan mengklasifikasikan benda-benda.

Baca juga: Manfaat Support System untuk Kesehatan Mental

Mereka yang rentan mengalami hoarding disorder

Hoarding disorder bukan hal yang langka. Setidaknya 1 dari tiap 20 orang bisa mengalami tendensi melakukan kebiasaan hoarding secara signifikan. Baik perempuan maupun laki-laki sama-sama bisa memiliki kebiasaan menyimpan barang tidak perlu.

Faktor penting yang bisa mempengaruhi kondisi ini adalah usia. Orang dewasa berusia 55 tahun ke atas tiga kali lebih rentan mengalaminya ketimbang yang lebih muda. Rata-rata, orang yang merasa butuh bantuan psikiater adalah mereka yang berusia 50 tahun.

Remaja bisa juga mengalami gangguan ini, namun gejalanya lebih tidak signifikan. Ini karena remaja biasanya masih tinggal bersama orang tua atau teman sekamar sehingga dapat menerapkan regulasi. Kebiasaan menyimpan barang bisa mulai mengintervensi kehidupan sejak usia 20-30 tahun.

Gejala hoarding disorder

Jika min parang, orang yang mengalaminya bisa tidak sadar menunjukkan gejalanya. Beberapa gejalanya seperti:

  • Tidak bisa berpisah dengan benda-benda baik yang berharga maupun tidak
  • Sangat banyak barang di rumah, kantor, atau lingkungan yang kerap disambangi
  • Sulit menemukan hal penting karena terlalu banyak benda
  • Sulit membuang benda karena merasa suatu hari akan membutuhkannya
  • Menyimpan banyak benda karena merasa bisa mengingatkan pada seseorang atau kejadian penting
  • Menyimpan benda gratis dan tak berguna
  • Merasa stres dengan banyaknya barang namun tak berusaha mengurangi jumlah benda
  • Menyalahkan area terlalu sempit atas banyaknya barang dalam suatu ruangan
  • Ruangan terlalu penuh sehingga tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya
  • Tidak mengizinkan orang memperbaiki barang yang sudah rusak di rumah
  • Menghindari menerima tamu di rumah karena penuh dengan barang
  • Konflik dengan orang terdekat karena terlalu banyak barang di rumah

Penanganan untuk orang yang mengalaminya harus fokus pada orangnya, bukan hanya mengosongkan ruangan atau rumah dari benda-benda tak  bermanfaat. Jenis terapi yang bisa dilakukan mulai dari terapi perilaku kognitif, konsumsi obat tertentu, hingga bergabung dalam support group.

Baca juga: Mengenal Hipnoterapi dalam Perawatan Kesehatan Mental

Catatan dari SehatQ

Tentunya, perlu bantuan tenaga medis profesional untuk membantu diagnosis dan penanganan hoarding disorder. Dengan bantuan profesional dari waktu ke waktu, kebiasaan menimbun barang bisa berkurang dan mengurangi kemungkinan banyaknya benda yang memicu emosi negatif pemiliknya.

Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar kebiasaan yang tidak sehat, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

gangguan mentalkesehatan mentalpola hidup sehat

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved