Kerap Mengoleksi Barang Tak Perlu? Bisa Jadi Gejala Hoarding Disorder

(0)
31 Jul 2020|Azelia Trifiana
Penderita hoarding disorder suka mengumpulkan barang yang tak perluHoarding disorder membuat rumah terlihat tidak beraturan
Hoarding disorder adalah gangguan ketika seseorang terus menerus mengumpulkan barang yang tak perlu. Sayangnya, kebiasaan ini tidak disertai kemampuan memilah mana yang harus dibuang. Akibatnya, lingkungan dalam rumah menjadi tidak aman dan jauh dari kata sehat.Tak hanya tak sedap dipandang dan membuat pikiran selalu penuh, kebiasaan hoarding disorder juga membuat kualitas hidup seseorang menurun. Dalam jangka panjang, hubungan personal dengan orang lain pun menjadi tidak keruan.

Mengenal hoarding disorder

Dari waktu ke waktu, hoarding disorder bisa menjadi semakin buruk. Meski remaja bisa mengalaminya, kebiasaan menumpuk barang tak penting ini kerap dialami orang dewasa. Kondisi ini membuat hoarding disorder termasuk dalam diagnosis kesehatan mental independen. Namun, bisa juga terjadi bersamaan dengan macam-macam gangguan psikologis lain.Ada banyak hal yang memicu terjadinya hoarding disorder, di antaranya:

1. Ikatan dengan benda

Orang yang mengalami hoarding disorder kerap merasa benda yang mereka kumpulkan bisa sangat bermanfaat dan berharga suatu saat nanti. Terkadang, keinginan untuk menumpuk barang ini juga dilandasi unsur emosional seperti mengingatkan pada seseorang atau kejadian tertentu.

2. Masa kecil sulit

Troubled inner child atau masa kecil yang tidak berjalan mulus juga bisa menjadi pemicu seseorang menjadi hoarding disorder. Pemicunya beragam, entah itu terbiasa melihat tumpukan barang di rumah, kerap dimarahi, atau kesulitan membeli sesuatu karena keterbatasan justru bisa menjadi titik balik menjadi seseorang dengan hoarding disorder.

3. Kebiasaan

Orang yang terbiasa hidup dalam lingkungan atau situasi berantakan juga bisa terbentuk menjadi hoarding disorder. Lambat laun, mereka terbiasa dengan situasi serba tak teratur dan menganggapnya sebagai hal biasa. Terkadang, hoarding disorder lebih rentan terjadi pada orang yang hidup seorang diri.

4. Masalah mental

Terkadang hoarding disorder juga berkaitan dengan masalah mental lainnya. Mulai dari cemas berlebih, ADHD, depresi, demensia, OCD, hingga skizofrenia. Perlu penanganan dari tenaga medis profesional jika masalah mental yang mendasari terjadinya hoarding disorder.

5. Fungsi eksekutif tak optimal

Menurut penelitian, hoarding disorder berhubungan dengan ketidakmampuan seseorang menjalankan fungsi eksekutif, yaitu mengendalikan proses kognitif dan perilaku. Itulah sebabnya, orang dengan hoarding disorder tak bisa meregulasi dirinya sendiri. Kerap kali, kondisi ini disertai dengan kesulitan fokus, mengambil keputusan, dan mengklasifikasikan benda-benda.

Siapa yang rentan mengalami hoarding disorder?

Hoarding disorder bukan hal yang langka. Setidaknya 1 dari tiap 20 orang bisa mengalami tendensi melakukan kebiasaan hoarding secara signifikan. Baik perempuan maupun laki-laki sama-sama bisa mengalami hoarding disorder. Faktor penting terkait hoarding disorder adalah usia. Orang dewasa berusia 55 tahun ke atas tiga kali lebih rentan mengalami hoarding disorder ketimbang yang lebih muda. Rata-rata, orang yang merasa butuh bantuan psikiater akibat hoarding disorder adalah mereka yang berusia 50 tahun.Remaja bisa juga mengalami hoarding disorder, namun gejalanya lebih tidak signifikan. Ini karena remaja biasanya masih tinggal bersama orangtua atau teman sekamar sehingga dapat menerapkan regulasi. Hoarding disorder bisa mulai mengintervensi kehidupan sejak usia 20-30 tahun.

Gejala mengalami hoarding disorder

Dari waktu ke waktu, hoarding disorder menjadi semakin parah. Bahkan, orang yang mengalaminya bisa tidak sadar menunjukkan gejala hoarding disorder. Beberapa gejalanya seperti:
  • Tidak bisa berpisah dengan benda-benda baik yang berharga maupun tidak
  • Sangat banyak barang di rumah, kantor, atau lingkungan yang kerap disambangi
  • Sulit menemukan hal penting karena terlalu banyak benda
  • Sulit membuang benda karena merasa suatu hari akan membutuhkannya
  • Menyimpan banyak benda karena merasa bisa mengingatkan pada seseorang atau kejadian penting
  • Menyimpan benda gratis dan tak berguna
  • Merasa stres dengan banyaknya barang namun tak berusaha mengurangi jumlah benda
  • Menyalahkan area terlalu sempit atas banyaknya barang dalam suatu ruangan
  • Ruangan terlalu penuh sehingga tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya
  • Tidak mengizinkan orang memperbaiki barang yang sudah rusak di rumah
  • Menghindari menerima tamu di rumah karena penuh dengan barang
  • Konflik dengan orang terdekat karena terlalu banyak barang di rumah
Penanganan untuk orang yang mengalami hoarding disorder harus fokus pada orangnya, bukan hanya mengosongkan ruangan atau rumah dari benda-benda tak  bermanfaat. Jenis terapi yang bisa dilakukan mulai dari terapi perilaku kognitif, konsumsi obat tertentu, hingga bergabung dalam support group.Tentunya, perlu bantuan tenaga medis profesional untuk membantu diagnosis dan penanganan hoarding disorder. Dengan bantuan profesional dari waktu ke waktu, kebiasaan hoarding bisa berkurang dan mengurangi kemungkinan banyaknya benda yang memicu emosi negatif pemiliknya.
gangguan mentalkesehatan mentalpola hidup sehat
Healthline. https://www.healthline.com/health/hoarding
Diakses pada 16 Juli 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hoarding-disorder/symptoms-causes/syc-20356056
Diakses pada 16 Juli 2020
American Psychiatric Association. https://www.psychiatry.org/patients-families/hoarding-disorder/what-is-hoarding-disorder
Diakses pada 16 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait