Kerap Dianggap Bagaikan “Disunat Jin”, Ini yang Sebenarnya Dialami Penderita Parafimosis

(0)
06 Sep 2020|Azelia Trifiana
Parafimosis adalah kondisi medis di belakang fenomena disunat jinKondisi disunat jin sebenarnya adalah kondisi medis yang disebut parafimosis
Parafimosis atau yang biasa disebut disunat jin adalah kondisi yang terjadi pada laki-laki yang belum disunat. Tak hanya mereka yang belum menjalani sunat dewasa, parafimosis lebih kerap dialami anak-anak. Ini terjadi ketika kulup penis tak bisa ditarik ke kepala penis, sehingga menyebabkan sirkulasi darah terganggu.Berbeda dengan fimosis ketika kulup tak bisa ditarik dari ujung penis yang kerap dialami anak-anak, parafimosis adalah kondisi yang lebih darurat. Sebagian besar pemicunya adalah setelah dilakukannya prosedur medis pada penis.

Mengapa disebut disunat jin?

Parafimosis dijuluki disunat jin karena terkesan khitan dilakukan secara gaib. Contohnya ketika seorang anak atau remaja tiba-tiba mendapati kulup penisnya tak lagi bisa ditarik ke posisi semula, seakan-akan sudah disunat sebelumnya.Padahal, ini bisa terjadi karena berbagai hal terutama ketika kulup penis tertarik dalam periode waktu terlalu lama tanpa disadari. Ada banyak faktor yang membuat parafimosis terjadi, seakan-akan seseorang disunat oleh “jin”.Lebih jauh lagi, parafimosis atau disunat jin terjadi setelah melakukan pemeriksaan atau prosedur medis, seperti memasukkan kateter ke lubang urin.Selain itu, ada beberapa penyebab lain dari parafimosis, seperti:
  • Mengalami infeksi
  • Trauma fisik di area kelamin
  • Menarik kulup penis terlalu kencang
  • Kulup penis terlalu rapat dari normal
  • Sunat atau sirkumsisi yang kurang tepat
  • Gigitan serangga
  • Aktivitas seksual terlalu keras
  • Kulup penis tertarik dalam periode waktu lama

Gejala parafimosis

Gejala utama dari parafimosis adalah ketika kulup penis tidak bisa kembali ke posisi normalnya. Akibatnya, ujung penis menjadi membengkak dan terasa sakit. Sirkulasi darah pun terganggu sehingga warna penis menjadi kemerahan atau kebiruan.Orang yang mengalami parafimosis juga biasanya kesulitan buang air kecil. Rasa tidak nyaman dan nyeri juga turut menyertai, utamanya jika penis membengkak.

Cara mengatasi parafimosis

Ketika seseorang mengalami gejala parafimosis, jangan tunda mendapatkan penanganan medis. Ini adalah kondisi darurat. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik terutama di bagian penis. Selain itu, dokter juga akan menanyakan gejala atau masalah lain yang dialami.Langkah penanganan bergantung pada seberapa parah kondisinya. Usia pasien juga menjadi pertimbangan dalam memberikan penanganan. Tindakan awal dilakukan untuk meredakan pembengkakan di penis, dengan cara-cara seperti:
  • Memberikan kompres es batu
  • Membungkus penis dengan perban
  • Mengeluarkan darah atau nanah dengan jarum
  • Menyuntikkan hyaluronidase yaitu enzim untuk meredakan pembengkakan
  • Insisi kecil untuk mengurangi tegangan di penis
Ketika pembengkakan sudah mereda, dokter akan mengembalikan kulup kembali ke posisi semula. Tentunya sebelum melakukan prosedur ini, pasien akan mendapatkan obat bius lokal agar tidak merasakan sakit.Kemudian, dokter akan melumasi penis dan kulupnya. Barulah secara perlahan kulup ditarik ke posisi semula. Apabila kondisinya cukup parah, dokter juga bisa melakukan prosedur sirkumsisi atau sunat untuk mencegah terulangnya parafimosis.Setelah prosedur medis dilakukan, pastikan selalu mengikuti instruksi dokter. Konsumsi obat yang diresepkan dokter sesuai dosis. Selain itu, dokter juga akan mengajarkan bagaimana membersihkan dan merawat penis setelah prosedur dilakukan.Jika mengalami demam atau merasakan nyeri berkepanjangan setelah prosedur dilakukan, segera hubungi dokter. Bisa saja terjadi infeksi dan perlu diberikan antibiotik untuk menyembuhkannya.

Bisakah parafimosis dicegah?

Sunat atau sirkumsisi adalah cara utama untuk mencegah terjadinya parafimosis. Selain itu, ada beberapa langkah lain untuk mencegah mengalami parafimosis:
  • Pastikan selalu membersihkan kulup penis secara berkala
  • Selalu mengembalikan kulup ke posisi semula setelah buang air kecil, dibersihkan, atau berhubungan seksual
  • Setelah pemeriksaan medis, pastikan kulup sudah kembali ke posisi semula
  • Jangan biarkan kulup tertarik dalam periode terlalu lama
Laki-laki usia berapapun bisa mengalami parafimosis, namun lebih sering terjadi pada remaja. Lansia juga dapat mengalami parafimosis, terutama bagi penderita diabetes yang menderita inflamasi kronis pada penis dan kulupnya.Apabila segera ditangani, parafimosis bisa sembuh dengan sempurna. Sangat jarang ada dampak negatif dari prosedur medisnya pada jangka panjang. Meski demikian, antisipasi kemungkinan terulangnya parafimosis.Jika dibiarkan, parafimosis dapat mengakibatkan komplikasi mulai dari hilangnya aliran darah hingga cedera pada ujung penis.
penyakitkesehatan organ intimkesehatan pria
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/318833
Diakses pada 23 Agustus 2020
AAFP. https://www.aafp.org/afp/2000/1215/p2623.html
Diakses pada 23 Agustus 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/paraphimosis
Diakses pada 23 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait