Kenapa Keringat Asin? Ini Penjelasannya


Kenapa keringat asin? Jawabannya adalah karena di dalam keringat ada komponen seperti sodium, protein, urea, bahkan amonia yang dikeluarkan yang rasanya cenderung asin.

(0)
30 May 2021|Azelia Trifiana
Keringat asin adalah hal yang normalKeringat asin adalah hal yang normal
Tak perlu risau karena rasa keringat asin karena justru itulah mekanisme mengagumkan tubuh untuk mengeluarkan zat-zat beracun. Kenapa keringat asin? Karena memang ada komponen seperti sodium, protein, urea, bahkan amonia yang dikeluarkan.Hebatnya lagi, mengeluarkan keringat ini juga merupakan cara alami untuk mendinginkan tubuh. Semua ini terjadi secara alami, menyesuaikan dengan suhu tubuh dan lingkungan sekitar.

Kenapa keringat asin?

Keringat adalah cairan yang diproduksi secara alami oleh tubuh. Kelenjar yang memproduksi keringat disebut kelenjar ekrin. Lokasinya ada di ketiak, dahi, telapak kaki, dan juga telapak tangan.Untuk menjawab kenapa keringat asin, menarik untuk melihat lebih jauh apa saja komponen dalam cairan keringat ini, yaitu:
  • Sodium: Untuk membantu menyeimbangkan kadar sodium dalam tubuh. Inilah alasan utama kenapa keringat asin.
  • Protein: Terdapat sekitar 95% protein di dalam keringat. Fungsinya membantu memaksimalkan kekebalan tubuh dan menjaga kondisi kulit.
  • Urea: Liver memproduksi zat sisa berupa urea. Ini terjadi ketika liver sedang memproses protein. Penting untuk mengeluarkan urea lewat keringat agar tidak ada akumulasi racun dalam tubuh.
  • Amonia: Zat sisa ketika ginjal tidak bisa menyaring seluruh nitrogen dalam urea, setelah diproses liver.

Faktor lain yang berpengaruh

Memang secara umum rasa keringat adalah asin. Namun, tidak semua orang berkeringat dengan cara dan rasa yang sama. Beberapa faktor yang juga turut berpengaruh adalah:

1. Kinerja kelenjar apokrin

Selain kelenjar ekrin, ada pula kelenjar apokrin yang memproduksi keringat. Konsentrasi terbesar dari kelenjar apokrin ada pada keringat, dada, dan juga paha bagian dalam. Ini juga merupakan kelenjar yang berperan dalam terbentuknya bau badan seseorang.

2. Makanan

Apa yang dikonsumsi juga turut berpengaruh terhadap terbentuknya keringat asin. Semakin banyak konsumsi sodium atau garam, maka rasa garam juga akan demikian. Tubuh perlu membuang seluruh kelebihan garam itu.Proses keluarnya keringat merupakan fase paling penting dalam membuang kelebihan garam. Dengan demikian, berat badan dan tekanan darah akan menjadi lebih stabil.

3. Intensitas olahraga

Seberapa tinggi intensitas berolahraga juga turut berperan dalam terbentuknya rasa keringat. Semakin intens olahraganya, maka akan kian banyak garam yang dikeluarkan lewat keringat.Perbandingannya adalah ketika melakukan olahraga dengan intensitas tinggi, maka kadar garam dalam tubuh akan terbuang 3 kali lipat lebih banyak.

Pentingnya berkeringat

Kerap kali orang merasa tidak nyaman saat berkeringat. Padahal, ini adalah fase yang sangat penting untuk mengeluarkan zat yang tidak diperlukan tubuh dan sebagainya. Berikut ini beberapa manfaat dari berkeringat:
  • Membersihkan pori-pori dari kotoran, bakteri, dan zat lain yang berpotensi menyumbat
  • Membersihkan penumpukan bakteri di kulit dengan menghasilkan glikoprotein agar bersih dan lebih dingin
  • Menurunkan risiko memiliki batu ginjal apabila disertai dengan cukup minum cairan
  • Membuang racun dari zat logam berat berbahaya
  • Membuang zat beracun seperti PCB dan BPA yang biasanya ada di produk berbahan plastik
Justru ketika seseorang tidak berkeringat, itu bisa jadi tanda bahaya. Kelenjar keringat mungkin tidak bekerja sesuai fungsinya. Ini bisa terjadi seiring dengan bertambahnya usia seseorang.Selain itu, kerusakan saraf juga bisa memicu hal ini. Beberapa kondisi medis yang bisa mengganggu produksi keringat seseorang adalah:
  • Sindrom Ross
  • Diabetes
  • Penyalahgunaan alkohol
  • Penyakit Parkinson
  • Sindrom Sjögren
  • Sindrom Horner
  • Psoriasis
  • Dermatitis eksfoliatif
  • Ichthyosis
  • Heat rash
  • Kerusakan kulit akibat radiasi, infeksi, cedera

Kapan keringat jadi mengganggu?

keringat berlebih
Ada kalanya, keringat seseorang bisa menimbulkan gejala yang mengganggu. Ini biasanya terjadi karena apa yang dimakan serta gaya hidup. Beberapa kondisi itu adalah:
  • Acidosis

Kondisi penumpukan terlalu banyak zat asam dalam tubuh sehingga tidak bisa dicerna dengan baik. Ini juga bisa terjadi sebagai konsekuensi berolahraga terlalu sering.
  • Keringat berbau

Merupakan dampak dari keringat stres yang diproduksi kelenjar apokrin. Terkadang, ini juga terjadi karena konsumsi makanan dan minuman tertentu seperti daging merah dan alkohol. Bakteri yang menumpuk ketika kontak dengan keringat juga dapat mengeluarkan bau yang tidak sedap.
  • Menimbulkan nyeri

Apabila keringat sampai menimbulkan rasa nyeri atau sakit saat masuk mata atau terkena luka terbuka, artinya Anda konsumsi garam terlalu banyak
  • Amis

Kondisi keringat beraroma amis bisa jadi indikasi trimethylaminuria. Ini terjadi ketika tubuh tidak bisa memecah kandungan trimethylamine sehingga dilepaskan secara langsung ke keringat. Akibatnya, keringat berbau amis seperti ikan. Terkadang, urine juga beraroma demikian.
  • Hyperhidrosis

Kondisi keringat berlebihan dan sangat tidak wajar. Tidak ada pemicu pasti, namun bisa juga berkaitan dengan kondisi medis lain yang diderita. Selain itu, hyperhidrosis juga bisa timbul akibat konsumsi obat tertentu.

Catatan dari SehatQ

Jadi, tak perlu bingung kenapa keringat asin karena itu justru merupakan sinyal bahwa tubuh sedang bekerja dengan baik. Tidak berkeringat malah berbahaya dan bisa mengindikasikan ada masalah pada saraf.Rasa keringat asin merupakan tanda proses metabolisme yang fungsional. Bukan hanya menjaga pori-pori kulit bersih, namun juga membuang zat sisa serta membuat suhu tubuh tetap stabil.Jika ingin tahu lebih lanjut seputar produksi keringat di kala stres, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
menjaga kesehatanhidup sehatpola hidup sehat
Healthline. https://www.healthline.com/health/why-is-sweat-salty
Diakses pada 14 Mei 2021
Journal of Science and Medicine in Sport. https://www.jsams.org/article/S1440-2440(11)00422-1/fulltext
Diakses pada 14 Mei 2021
Chemical Senses. https://academic.oup.com/chemse/article/31/8/747/364338
Diakses pada 14 Mei 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait