Kenali Perubahan pada Haid Menjelang Menopause lewat 4 Ciri-cirinya

Para wanita perlu mengenali tanda haid menjelang menopause agar lebih siap menghadapinya
Selain perubahan siklus haid, menopause juga bisa berdampak pada suasana hati atau mood

Menopause adalah masa di mana tubuh perempuan mengalami banyak perubahan. Perubahan yang jelas menandai masa tersebut adalah berhentinya siklus menstruasi dan berakhirnya kesempatan untuk hamil.

Sebelum benar-benar menopause, ada gejala dan perubahan tertentu yang terjadi pada haid menjelang menopause. Mari simak penjelasannya di bawah ini!

Menopause vs perimenopause

Yang dimaksud dengan menopause adalah masa di mana siklus menstruasi seorang perempuan sudah berhenti total dan selamanya. Seorang perempuan dikatakan telah menopause bila sama sekali tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan.

Rata-rata usia kaum hawa memasuki masa menopause adalah 51 tahun. Tetapi menopause masih dianggap normal bila terjadi di rentang usia antara 45 sampai 55 tahun. 

Sebelum memasuki masa menopause, ada masa yang disebut perimenopause. Kata perimenopause  berarti menjelang menopause.

Masa perimenopause bisa berlangsung sampai 10 tahun. Selama masa inilah kadar hormon mulai berubah-ubah, yang tentu saja akan berdampak pada siklus ovulasi serta menstruasi. 

Pada usia subur, kadar hormon estrogen dan progesteron perempuan naik-turun dalam pola yang teratur. Ovulasi akan terjadi di tengah-tengah siklus menstruasi, dan bila tidak ada pembuahan, menstruasi pun muncul pada sekitar dua minggu setelah ovulasi. 

Di masa perimenopause, kadar hormon dalam tubuh tidak lagi naik-turun mengikuti pola yang teratur. Akibatnya, siklus menstruasi juga jadi berantakan.

Kaum hawa bisa tiba-tiba mengalami spotting, siklus haid yang memanjang atau memendek, darah menstruasi yang keluar menjadi lebih banyak atau lebih sedikit, serta periode haid yang lebih panjang atau pendek. Kondisi ini juga sering dianggap sebagai gejala haid jelang menopause.

Ini 4 ciri-ciri haid menjelang menopause

Haid menjelang menopause akan mengalami perubahan dibanding haid yang terjadi pada usia subur. Beberapa perubahan tersebut meliputi:

1. Muncul spotting di saat tidak menstruasi

Spotting adalah keluarnya sedikit darah dari vagina, di sela-sela siklus menstruasi. Namun jumlahnya sedikit, sehingga tidak perlu menggunakan pembalut.

Wujud spotting bisa berupa darah merah atau hanya bercak-bercak darah kecoklatan di celana dalam. Selama masa subur, spotting biasa muncul sebagai pertanda datangnya atau berakhirnya haid. Beberapa perempuan juga mengalaminya saat ovulasi.

Di masa perimenopause, spotting muncul sebagai tanda perubahan kadar hormon perempuan dalam tubuh dan penumpukan jaringan dinding rahim (endometrium). Kalau Anda mengalami spotting tiap dua minggu, mungkin terjadi ketidakseimbangan hormon.

Berkonsultasilah dengan dokter guna mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sekaligus mempersiapkan diri untuk menghadapi menopause

2. Perdarahan yang sangat banyak atau menorrhagia

Jumlah darah yang keluar pada haid menjelang menopause juga biasa mengalami perubahan. Saat kadar hormon estrogen jauh lebih tinggi dibanding progesteron, akan terbentuk lapisan dinding rahim yang tebal.

Saat lapisan dinding rahim tersebut luruh, darah haid yang keluar menjadi lebih banyak. Siklus datang bulan yang tak teratur juga menyebabkan penumpuan lapisan dinding rahim, sehingga volume darah akan meningkat banyak saat Anda haid. 

Perdarahan menstruasi dianggap sangat banyak bila:

  • Darah sampai tembus satu pembalut dalam waktu singkat, sehingga Anda mesti beberapa kali ganti pembalut dalam waktu dua jam saja. 
  • Anda tidak cukup menggunakan satu pembalut. Misalnya harus menggunakan tampon ditambah pembalut, atau pembalut berlapis demi menampung darah haid agar tidak tembus ke luar pembalut.
  • Anda harus bangun dan mengganti pembalut di tengah-tengah waktu tidur pada malam hari
  • Haid berlangsung selama lebih dari tujuh hari.

3. Durasi dan siklus haid yang memendek

Ketika kadar estrogen dalam tubuh berada di tingkat rendah, lapisan dinding rahim akan menjadi lebih tipis. Bila luruh, perdarahan haid pun jadi lebih sedikit dan durasi haid akan lebih singkat dibanding biasanya. Kondisi ini sangat umum terjadi pada awal masa perimenopause.

Selain durasi datang bulan yang lebih pendek, siklus haid pun bisa memendek. Jika dahulu haid datang setiap empat minggu, pada masa perimenopause, haid bisa datang setiap tiga atau bahkan dua minggu sekali. 

4. Siklus menstruasi yang makin panjang

Menjelang akhir masa perimenopause, siklus haid justru akan semakin panjang. Definisi siklus panjang di sini adalah jarak antar haid lebih dari 36 hari.

Siklus jadi panjang sebab ada siklus di mana tidak terjadi ovulasi. Sebagai akibatnya, haid tidak terjadi atau haid menjadi sangat ringan dengan durasi yang pendek. 

Kadar hormon yang naik-turun juga bisa jadi penyebab siklus memanjang. Ketika siklus sudah sangat panjang, sampai akhirnya 12 bulan berturut-turut tidak mendapatkan datang bulan, seorang wanita bisa dianggap sudah masuk masa menopause. 

Haid menjelang menopause memang berbeda dengan haid pada masa usia subur. Namun selama haid masih terjadi, ini berarti masih ada proses ovulasi dan seorang wanita tetap berpotensi hamil di masa-masa perimenopause.

Jika Anda sudah tak ingin hamil lagi, tetap gunakan alat kontrasepsi saat berhubungan intim walau usia telah menjelang menopause. Diskusikan juga dengan dokter Anda mengenai alat KB yang tepat untuk Anda dan pasangan.

The American College of Obstetriticians & Gynecologists. https://www.acog.org/Patients/FAQs/Perimenopausal-Bleeding-and-Bleeding-After-Menopause?IsMobileSet=false#common
Diakses pada 18 Juli 2019

Healtline. https://www.healthline.com/health/menopause/perimenopause-periods
Diakses pada 18 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed