Kenali Penyebab Kusta, Penyakit Purba yang Masih Eksis Hingga Sekarang

Penyebab kusta adalah bakteri Mycobacterium leprae yang dapat menyebar melalui kontak dengan penderita yag berlangsung untuk jangka panjang
Kusta yang tidak diobati dapat berujung pada jari-jari tangan yang buntung

Penyebab kusta sering dianggap berasal dari kutukan. Salah satu penyakit tertua di dunia ini sudah ada sejak zaman peradaban kuno dan paling banyak terjadi di negara-negara dengan iklim tropis, termasuk Indonesia.

Riset dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia berada pada urutan ketiga di dunia. Ini berarti, masih banyak kasus kusta yang ditemukan di Indonesia. Oleh sebab itu, kita perlu lebih waspada agar penularan kusta bisa dibendung.

Penyebab kusta dan penularannya

Kusta bukanlah disebabkan oleh karma dari dosa-dosa di masa lampau. Penyakit yang juga dikenal dengan nama penyakit Hansen ini disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium leprae (M. leprae).

Bakteri tersebut bisa menyebar melalui percikan air liur atau ingus yang ketika penderita bersin atau batuk. Meski begitu, kusta tidak menular dengan cepat seperti flu atau pilek.

Perlu kontak untuk waktu lama dan berulang-ulang dengan penderita kusta yang tidak menjalani pengobatan, sebelum Anda dapat mengalami penularan penyakit ini. Pasalnya, bakteri M. leprae yang memicu kusta, berkembang biak dengan lamban

Berdasarkan informasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), butuh waktu hingga lima tahun sejak seseorang pertama ketularan bakteri sampai ia menunjukkan gejala kusta. Durasi ini disebut sebagai masa inkubasi.

Perhatikan bercak pucat pada kulit sebagai gejala awal kusta

Gejala awal dari penyakit kusta adalah munculnya bercak-bercak berwarna pucat (hipopigmentasi) atau kemerahan pada kulit. Bercak-bercak ini umumnya akan kehilangan indera peraba atau mengalami sensasi mati rasa, yaitu tidak terasa apa-apa ketika disentuh atau bahkan saat terluka.

Semakin lama, jumlah bercak yang muncul akan semakin banyak. Pada beberapa kasus, bisa terbentuk benjolan-benjolan.

Biasanya, orang yang sudah tertular bakteri penyebab kusta, tidak akan langsung mengalami gejala-gejala penyakit kusta. Seperti yang disebutkan sebelumnya, perlu waktu bertahun-tahun sampai seseorang mengalami gejala kusta.

Karenanya, kusta umumnya baru disadari oleh penderita ketika ia telah mengalami komplikasi berupa kecatatan fisik. Pada kondisi ini, kusta memang bisa tetap disembuhkan, namun komplikasi yang sudah terjadi tidak bisa diobati lagi dan akan menyertai penderita seumur hidup.

Apakah penderita kusta bisa sembuh total?

Mungkin banyak orang yang bertanya-tanya apakah sakit kusta dapat sembuh secara total atau tidak. Jawabannya adalah bisa!

Penderita kusta sejatinya dapat sembuh sepenuhnya dari penyakit ini, bahkan tanpa mengalami kecacatan fisik. Meski begitu, beberapa syarat di bawah ini sebaiknya diingat:

1. Kusta harus dideteksi dan diobati sedini mungkin

Sebagian besar kasus kusta terlambat didiagnosis dan ditangani oleh dokter. Pasalnya, banyak orang yang mungkin menganggap remeh gejala awal kusta yang berupa bercak-bercak kulit karena mirip dengan panu atau penyakit kulit lainnya.

Bercak-bercak pertanda kusta juga umumnya tidak terasa gatal atau sakit. Karena itu, gejala awal ini kerap tidak disadari oleh penderita.

2. Penderita kusta perlu berobat hingga tuntas

Karena penyebab kusta adalah bakteri, dokter akan memberikan obat antibiotik untuk memberantas bakteri dan menyembuhkan penyakit ini. Rifampin, ofloxacin, minocycline, clofamizine, dan dapsone merupakan jenis-jenis antibiotik yang mungkin diresepkan.

Kombinasi jenis antibiotik dan durasi pengobatan akan ditentukan oleh dokter berdasarkan pada seberapa parah kusta yang diidap oleh seseorang. Penderita kusta sangat dianjurkan untuk mematuhi instruksi dokter dalam aturan meminum antibiotik. Tujuannya adalah memastikan kusta kambuh lagi.

Jangan sekali-sekali berhenti mengonsumsi obat antibiotik tanpa berkonsultasi ke dokter. Pasalnya, hal ini dapat menyebabkan bakteri yang resistan terhadap antibiotik, sehingga kondisi penderita semakin parah.

Dapatkah Anda mencegah kusta?

Semua orang dapat membantu pencegahan kusta dengan melakukan beberapa hal sederhana. Berikut contohnya:

  • Mencari informasi akurat sebanyak-banyaknya mengenai kusta dan menyebarkan informasi ini ke orang-orang di sekitar. Misalnya, tentang kusta yang sebenarnya bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, maupun cara penyebaran kusta.
  • Membatasi intensitas dan durasi kontak dengan orang yang belum sembuh dari kusta, khususnya keluarga penderita.
  • Menerima vaksin BCG. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa vaksin BCG yang digunakan untuk mencegah tuberkulosis, juga cukup berperan dalam menjauhkan Anda dari kusta.

Dengan mengetahui penyebab kusta berikut pengobatan dan pencegahannya, wawasan Anda diharap menjadi lebih terbuka. Penyakit kusta bisa disembukan dan dicegah.

Jika Anda mendapati seseorang yang menunjukkan gejala-gejala kusta, jangan langsung menjauhi atau mengucilkannya tanpa penanganan medis. Karena nyatanya, penderita kusta masih memiliki harapan untuk sembuh dari penyakit tersebut.

Segera bawa ia ke dokter agar mendapatkan penanganan yang sesuai. Dengan ini, risiko penularan juga bisa ditanggulangi.

Emedicine Health. https://www.emedicinehealth.com/leprosy/article_em.htm#what_is_leprosy
Diakses pada 13 Juli 2019

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. http://www.depkes.go.id/article/view/19020800001/waspada-kusta-kenali-cirinya.html
Diakses pada 13 Juli 2019

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. http://www.depkes.go.id/article/view/15012000003/penyakit-kusta-bisa-disembuhkan-tanpa-cacat-kuncinya-berobat-tuntas.html
Diakses pada 13 Juli 2019

Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/features/world-leprosy-day/index.html
Diakses pada 13 Juli 2019

WebMD. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/guide/leprosy-symptoms-treatments-history#2
Diakses pada 13 Juli 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/leprosy
Diakses pada 13 Juli 2019

National Organization for Rare Disorders. https://rarediseases.org/rare-diseases/leprosy/
Diakses pada 13 Juli 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5834475/
Diakses pada 29 Juli 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed