Mengenal Gejala ADHD pada Anak dan Cara untuk Menanganinya


Beragam gejala ADHD pada anak di antaranya sulit untuk memerhatikan, pelupa dan mudah teralihkan, hiperaktif, hingga impulsif. Bagaimana cara mengatasinya?

0,0
09 May 2019|Maria Yuniar
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
ADHD pada anakADHD pada anak membutuhkan perhatian lebih dari orangtua.
Attention deficit hyperactivy disorder atau ADHD adalah salah satu gangguan mental yang paling umum dialami anak-anak. Anak ADHD adalah anak yang memiliki perbedaan pada perkembangan dan aktivitas otak yang akhirnya berdampak pada perhatian, kemampuan untuk duduk diam, serta pengendalian diri. Orangtua perlu tahu berbagai gejala ADHD pada anak agar bisa mencari solusi terbaik bagi si kecil.

10 gejala ADHD pada anak

ADHD pada anak dapat ditandai oleh kurangnya perhatian anak, disertai hiperaktivitas dan impulsivitas. Gangguan ini bisa memengaruhi interaksi sosial dan prestasi akademik anak. Berikut ini sejumlah ciri-ciri anak yang mengalami ADHD.Berikut adalah berbagai ciri-ciri ADHD pada anak yang bisa Anda identifikasi.

1. Sulit untuk Memperhatikan

Salah satu ciri ADHD yang ditemukan pada anak adalah sulit memperhatikan. Anak Anda mungkin akan mengalami kesulitan untuk mendengarkan seseorang ketika berbicara, mengikuti perintah, menyelesaikan tugas, atau menjaga barang bawaannya. 

2. Pelupa dan Mudah Teralihkan

Gejala ADHD pada anak selanjutnya ialah mudah lupa, karena ia sulit fokus terhadap banyak hal. Akibatnya, ia sering lupa terhadap hal-hal yang diperintahkan.

3. Hiperaktif

Gejala lain ADHD adalah anak tidak bisa duduk diam. Ia mungkin akan sering lari dan memanjat, meski di dalam ruangan. Saat anak duduk, ia cenderung bergeliat, gelisah, dan loncat-loncatan. Anda juga mungkin akan menyadari bahwa anak Anda sering berbicara dan kesulitan untuk diam.

4. Impulsif

Anda mungkin menyadari bahwa anak Anda kesulitan untuk menunggu giliran. Anak dengan ADHD mungkin akan memotong antrian, mengganggu yang lain, atau bahkan menjawab pertanyaan sebelum guru selesai bertanya.

5. Tidak mampu menunggu giliran

Dikutip dari Healthline, salah satu gejala ADHD pada anak yang bisa dikenali adalah tidak mampu menunggu giliran.Anak penderita ADHD dapat merasa kesulitan untuk menunggu giliran ketika ia sedang bermain di dalam kelas atau lingkungan sosial.

6. Gejolak emosi yang tak menentu

Karakteristik anak ADHD lainnya adalah adalah gejolak emosi yang tak menentu.  Anak ADHD bisa merasa kesulitan untuk menjaga emosinya. Sehingga, ia dapat meluapkan amarahnya secara tiba-tiba pada waktu yang tak tepat.Bagi anak-anak penderita ADHD yang lebih muda, mereka juga dapat mengalami tantrum.

7. Tidak bisa tenang

Tidak bisa tenang juga termasuk salah satu ciri ADHD pada anak yang perlu diwaspadai. Misalnya, saat si kecil bermain dengan teman-temannya, ia bisa menjadi berisik dan tak mampu untuk bermain dengan tenang.

8. Sulit menyelesaikan sebuah tugas

Anak ADHD mungkin dapat memiliki ketertarikan terhadap banyak aktivitas atau tugas di sekelilingnya. Namun, mereka bisa merasakan kesulitan untuk menyelesaikan tugas tersebut.Contohnya, saat melakukan pekerjaan rumah (PR) atau tugas tertentu. Mereka bisa saja langsung memulainya, tetapi mereka juga dapat langsung melakukan hal lain yang menarik perhatiannya tanpa menyelesaikan tugas sebelumnya.

9. Kerap membuat kesalahan

Tanda dan gejala ADHD pada anak lainnya adalah sering membuat kesalahan. Pasalnya, mereka bisa kesulitan mengikuti perintah atau instruksi dari orangtuanya.Kondisi ini dapat membuat penderita ADHD kesulitan ketika melakukan perencanaan atau mengeksekusi tugas tersebut. Mereka pun menjadi rentan untuk membuat kesalahan.Ciri-ciri anak ADHD ini tentu perlu dimaklumi orangtua. Meski begitu, tetap bantu mereka ketika mengerjakan tugas atau aktivitas tertentu agar terhindar dari kesalahan.

10. Melamun

Gejala ADHD pada anak yang cukup mudah diidentifikasi adalah sering melamun. Jangan salah, anak penderita ADHD tidak selalu berisik. Ada kalanya mereka diam seribu bahasa dan menjadi pendiam.Saat melamun, anak penderita ADHD cenderung menatap ruang di sekitar dan mengacuhkan apa yang terjadi di sekelilingnya.

Penyebab ADHD pada anak

Sampai saat ini, penyebab gejala ADHD masih belum jelas. Namun, ADHD dapat disebabkan oleh genetika. Banyak ahli menganggap gen memiliki peran yang penting.Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), ada banyak kemungkinan penyebab ADHD pada anak selain faktor genetik, di antaranya:
  • Cedera otak
  • Terpapar dengan bahan kimia yang ada di lingkungan sekitarnya saat dalam kandungan (lewat ibunya) atau saat masih berusia dini
  • Pada saat mengandung, sang ibu mengonsumsi alkohol dan merokok
  • Kelahiran prematur
  • Berat badan lahir rendah (BBLR).
Banyak rumor yang mengklaim bahwa ADHD disebabkan oleh mengonsumsi gula terlalu banyak, menonton televisi terlalu sering, gaya asuh orangtua, faktor lingkungan dan kehidupan sosial, hingga kemiskinan. Namun, berbagai faktor penyebab ADHD ini hanyalah mitos belaka dan tidak didukung penelitian ilmiah.

Bagaimana cara mendiagnosis ADHD pada anak?

Belum ada pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui ADHD pada anak. Yang dapat dilakukan adalah mengunjungi dokter dokter spesialis kejiwaan. Dokter dapat menanyakan anak Anda beberapa pertanyaan, mendengarkan penjelasan masalah tingkah laku pada anak Anda, serta meminta komentar dari guru. Untuk mendapatkan diagnosis, anak Anda harus menunjukkan gejala-gejala ADHD pada anak selama 6 bulan, seperti halnya tidak memperhatikan, hiperaktif, dan tingkah laku impulsif. Dan gejala tersebut haruslah muncul tidak lebih saat anak berusia 12 tahun.

Tipe-Tipe ADHD

ADHD memiliki tiga tipe. Tipe kombinasi adalah yang paling umum, dan anak Anda mungkin memiliki ADHD jika ia tidak begitu memperhatikan, atau hiperaktif dan impulsif. Pada tipe hiperaktif/impulsif, anak biasanya resah dan tidak dapat mengontrol hasratnya. Jika memiliki tipe yang kurang memperhatikan, anak kesulitan untuk fokus tetapi tidak kelewat aktif dan biasanya tidak mengganggu suasana kelas.

Penanganan untuk Anak ADHD

Penanganan terhadap anak ADHD bisa dilakukan melalui psikoterapi dan pemberian obat-obatan.

1. Konseling

Konseling dapat membantu anak mengatasi rasa frustrasi yang ia alami serta membantu membangun rasa percaya dirinya. Salah satu jenis terapi, yang disebut pelatihan kemampuan sosial, menunjukkan pada anak ADHD bagaimana cara untuk mengantri dan berbagi. Penelitian menunjukkan bahwa pengobatan jangka panjang dengan gabungan antara obat-obatan dan terapi tingkah laku bekerja lebih efektif jika dibandingkan dengan hanya pengobatan.

2. Pendidikan khusus

Kebanyakan anak dengan ADHD bersekolah di kelas reguler, tetapi beberapa dari mereka belajar lebih baik di tempat yang memiliki struktur lebih lengkap. Jika anak Anda bersekolah di sekolah khusus, mereka akan mendapatkan pembelajaran yang dikhususkan untuk menyesuaikan dengan gaya belajarnya.

3. Menyusun rutinitas yang jelas

Anda dapat memberikan anak struktur yang lebih jelas di rumah jika Anda menyusun rutinitas yang jelas. Pasang jadwal harian yang dapat mengingatkannya hal-hal yang perlu ia lakukan sepanjang hari. Hal ini akan membantu menyelesaikan tugasnya, seperti halnya bangun, makan, bermain, mengerjakan pr, dan pergi tidur.

4. Sajikan makanan berprotein

Penelitian menunjukkan bahwa pola makan menghasilkan dampak yang beragam, tetapi beberapa ahli percaya bahwa makanan yang baik untuk otak dapat membantu anak. Makanan yang kaya akan protein, seperti telur, daging, kacang polong, dan kacang-kacangan dapat membantu anak Anda untuk berkonsentrasi dengan lebih baik. Meskipun banyak anak yang berlompat-lompat setelah mereka makan makanan cepat saji, tidak ada bukti kuat bahwa gula menjadi penyebab ADHD. Peran penambah rasa juga belum jelas dalam hal ini.

5. Batasi durasi menonton televisi

Kaitan antara duduk di depan TV dan ADHD belumlah jelas. Namun para ahli menyarankan untuk membatasi waktu menonton pada anak Anda. Mereka menyarankan anak tidak menonton TV lebih dari 2 jam sehari.

Apakah ADHD dapat dicegah?

Belum ada cara yang pasti untuk mencegah agar anak terhindar dari ADHD, namun ada beberapa langkah yang bisa Anda ambil untuk meminimalisir resiko tersebut. Ketika Anda hamil, hindari mengonsumsi alkohol, narkoba, dan menghisap rokok. Anak-anak yang ibunya merokok saat hamil berpotensi dua kali lebih tinggi untuk mengidap ADHD.

Pengawasan untuk anak ADHD

Dengan perawatan yang tepat, mayoritas anak dengan ADHD bisa membaik. Jika gejala pada anak Anda berlanjut hingga dewasa, segera berkonsultasi dengan dokter. Anak tetap bisa mendapatkan pengobatan yang sesuai untuk usianya.Jika anak Anda menunjukkan berbagai gejala ADHD di atas, jangan ragu untuk bertanya dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh di App Store atau Google Play sekarang juga!
klinik tumbuh kembang anaktips parentingtips membesarkan anak adhdtumbuh kembang anakadhd
WebMD. https://www.webmd.com/add-adhd/childhood-adhd/ss/slideshow-adhd-in-children
Diakses pada Oktober 2018
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3724232/
Diakses pada 4 April 2019
Kementerian Kesehatan RI.
http://www.yankes.kemkes.go.id/read-gangguan--pemusatan-perhatian-dan-hiperaktif-pada-anak-dan-remaja-4134.html
Diakses pada 4 April 2019
CDC. https://www.cdc.gov/ncbddd/adhd/facts.html
Diakses pada 23 Februari 2021
Psychiatry. https://www.psychiatry.org/patients-families/adhd/what-is-adhd
Diakses pada 26 November 2021
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/adhd.html
Diakses pada 26 November 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/adhd/signs#emotional-turmoil
Diakses pada 26 November 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait