logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

Gejala ADHD pada Anak, Ini Penyebab dan Pengobatannya

open-summary

ADHD pada anak dapat ditandai dengan sulit memperhatikan, mudah teralihkan, hingga sering melakukan kesalahan. Penanganan kondisi ini dapat dilakukan melalui psikoterapi dan pemberian obat-obatan.


close-summary

14 Jun 2022

| Maria Yuniar

Ditinjau oleh dr. Karlina Lestari

ADHD pada anak bisa ditandai dengan sulit memperhatikan

ADHD pada anak membutuhkan perhatian lebih dari orangtua

Table of Content

  • Apa itu ADHD?
  • Gejala ADHD pada anak
  • Penyebab ADHD pada anak
  • Bagaimana cara mendiagnosis ADHD pada anak?
  • Penanganan untuk Anak ADHD
  • Apakah ADHD dapat dicegah?

Attention deficit hyperactivity disorder atau ADHD adalah salah satu gangguan mental yang paling umum dialami anak-anak. ADHD pada anak dapat mempengaruhi rentang perhatian, kemampuan untuk duduk diam, serta pengendalian diri. 

Advertisement

Tak jarang, anak ADHD dianggap sebagai anak nakal karena tidak bisa diam. Untuk itu, orangtua perlu tahu berbagai gejala ADHD agar bisa mencari solusi terbaik bagi mereka.

Apa itu ADHD?

ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang bisa menyebabkan anak mengalami kesulitan memperhatikan, mengendalikan perilaku impulsif, atau menjadi terlalu aktif.

Terdapat tiga tipe ADHD yang dapat terjadi pada anak, yaitu:

  • Tipe inantensi

Jika memiliki tipe inatensi, anak akan kesulitan untuk mengatur atau menyelesaikan tugas, memperhatikan detail, dan mengikuti instruksi atau percakapan. Mereka juga mudah teralihkan atau pelupa.

  • Tipe hiperaktif/impulsif

Pada tipe hiperaktif/impulsif, anak biasanya resah dan tidak dapat mengontrol hasratnya. Mereka tidak bisa duduk diam untuk waktu yang lama, banyak berbicara, sering mengganggu orang lain, dan sulit bergiliran atau mendengarkan arahan. Impulsif adalah tipe yang bisa membuat anak dicap sebagai anak nakal.

  • Tipe kombinasi

Tipe kombinasi adalah yang paling umum. Anak mungkin memiliki ADHD tipe ini jika mereka kesulitan untuk memperhatikan dan berperilaku hiperaktif ataupun impulsif.

Gejala ADHD pada anak

anak adhd
ADHD dapat ditandai dengan anak tidak bisa duduk diam

ADHD dapat ditandai dengan kurangnya perhatian anak, disertai hiperaktivitas dan impulsivitas. Gangguan ini bisa mempengaruhi interaksi sosial dan prestasi akademik anak. 

Berikut adalah berbagai ciri-ciri ADHD pada anak yang bisa Anda identifikasi.

1. Sulit untuk memperhatikan

Salah satu ciri ADHD yang ditemukan pada anak adalah sulit memperhatikan. Anak mungkin akan mengalami kesulitan untuk mendengarkan seseorang ketika berbicara, mengikuti perintah, menyelesaikan tugas, atau menjaga barang bawaannya. 

2. Pelupa dan mudah terganggu

Gejala ADHD pada anak selanjutnya adalah mudah lupa karena sulit fokus terhadap banyak hal. Akibatnya, mereka sering lupa terhadap hal-hal yang diperintahkan.

3. Hiperaktif

Salah satu ciri anak ADHD adalah tidak bisa duduk diam. Mereka mungkin akan sering lari dan memanjat meskipun berada di dalam ruangan. 

Saat anak duduk, mereka cenderung bergeliat, gelisah, dan loncat-loncatan. Anda juga mungkin akan menyadari bahwa anak sering berbicara dan kesulitan untuk diam.

4. Impulsif

Anda mungkin menyadari bahwa anak kesulitan untuk menunggu giliran. Anak dengan ADHD umumnya berperilaku impulsif sehingga sering memotong antrean, mengganggu yang lain, atau bahkan menjawab pertanyaan sebelum guru selesai bertanya.

5. Tidak mampu menunggu giliran

Dikutip dari Healthline, salah satu gejala ADHD yang bisa dikenali adalah anak tidak mampu menunggu giliran.

Anak penderita ADHD dapat merasa kesulitan untuk menunggu giliran ketika mereka sedang bermain di dalam kelas atau lingkungan sosial.

6. Gejolak emosi yang tak menentu

Karakteristik anak ADHD lainnya adalah adalah gejolak emosi yang tak menentu. 

Mereka bisa merasa kesulitan untuk menjaga emosi sehingga dapat meluapkan amarahnya secara tiba-tiba pada waktu yang tidak tepat.

Bagi anak-anak penderita ADHD yang lebih muda, mereka juga dapat mengalami tantrum.

7. Tidak bisa tenang

Tidak bisa tenang juga termasuk salah satu ciri ADHD pada anak yang perlu diwaspadai. Misalnya, saat bermain dengan teman-temannya, anak bisa menjadi berisik dan tidak mampu untuk bermain dengan tenang.

8. Sulit menyelesaikan sebuah tugas

Anak ADHD mungkin dapat memiliki ketertarikan terhadap banyak aktivitas atau tugas di sekelilingnya. Namun, mereka bisa merasakan kesulitan untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Contohnya, saat melakukan pekerjaan rumah (PR) atau tugas tertentu. Mereka bisa saja langsung memulainya, tetapi bisa juga langsung melakukan hal lain yang menarik perhatiannya tanpa menyelesaikan tugas sebelumnya.

9. Kerap membuat kesalahan

Tanda dan gejala ADHD pada anak lainnya adalah sering membuat kesalahan. Pasalnya, mereka dapat kesulitan mengikuti perintah atau instruksi dari orangtuanya.

Kondisi ini berpotensi membuat penderita ADHD kesulitan ketika melakukan perencanaan atau mengeksekusi tugas tersebut. Mereka pun menjadi rentan untuk membuat kesalahan.

Ciri-ciri anak ADHD ini tentu perlu dimaklumi orangtua. Meski begitu, tetap bantu mereka ketika mengerjakan tugas atau aktivitas tertentu agar terhindar dari kesalahan.

10. Melamun

Gejala ADHD yang cukup mudah diidentifikasi adalah sering melamun. Jangan salah, anak penderita ADHD tidak selalu berisik. Ada kalanya mereka diam seribu bahasa dan menjadi pendiam.

Saat melamun, anak penderita ADHD cenderung menatap ruang di sekitar dan mengacuhkan apa yang terjadi di sekelilingnya.

Penyebab ADHD pada anak

Sampai saat ini, penyebab ADHD masih belum jelas. Namun, ada anggapan bahwa ADHD dapat disebabkan genetika. Sebab, banyak ahli menganggap gen memiliki peran yang penting.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), ada banyak kemungkinan penyebab ADHD pada anak selain faktor genetik, di antaranya:

  • Cedera otak
  • Terpapar dengan bahan kimia yang ada di lingkungan sekitarnya saat dalam kandungan (lewat ibunya) atau saat masih berusia dini
  • Ibu mengonsumsi alkohol dan merokok saat mengandung
  • Kelahiran prematur
  • Berat badan lahir rendah (BBLR).

Banyak rumor yang mengklaim bahwa ADHD disebabkan konsumsi gula terlalu banyak, menonton televisi terlalu sering, gaya asuh orangtua, faktor lingkungan dan kehidupan sosial, hingga kemiskinan. 

Namun, berbagai faktor penyebab ADHD ini hanyalah mitos belaka dan tidak didukung penelitian ilmiah.

Bagaimana cara mendiagnosis ADHD pada anak?

Belum ada pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui ADHD pada anak. Yang dapat dilakukan adalah mengunjungi dokter spesialis kejiwaan. 

Dokter dapat menanyakan anak beberapa pertanyaan, mendengarkan penjelasan masalah tingkah laku pada anak, serta meminta komentar dari guru. 

Untuk mendapatkan diagnosis, anak harus menunjukkan gejala-gejala ADHD selama 6 bulan, seperti tidak memperhatikan, hiperaktif, dan tingkah laku impulsif. Gejala tersebut harus muncul tidak lebih saat anak berusia 12 tahun.

ADHD sering kali diidentifikasi pada anak-anak usia sekolah ketika mereka menunjukkan gangguan saat berada di kelas atau masalah dalam mengerjakan tugas sekolah. Itulah mengapa kondisi ini umumnya didiagnosis ketika anak berusia 3-7 tahun.

Baca Juga

  • Ini 6 Cara Mengatasi Bayi Cegukan dan Mencegahnya Datang Kembali
  • Seputar ADD pada Anak yang Bisa Menyebabkan Sulit Fokus
  • Anak Hiperaktif Adalah Anak yang Memiliki Keaktifan Tak Biasa, Kenali Tanda-tandanya

Penanganan untuk Anak ADHD

penanganan adhd
Penanganan ADHD melalui konseling

Anak ADHD adalah kondisi yang tidak boleh diabaikan. Jika tidak ditangani dengan tepat, ADHD bisa menyebabkan kegagalan akademik, lebih banyak cedera atau kecelakaan, harga diri yang buruk, dan sulit diterima oleh orang lain.

Penanganan ADHD pada anak dapat dilakukan melalui psikoterapi dan pemberian obat-obatan.

1. Konseling

Konseling dapat membantu anak mengatasi rasa frustrasi yang mereka alami dan membantu membangun rasa percaya dirinya. 

Salah satu jenis terapi yang disebut pelatihan kemampuan sosial, menunjukkan pada anak ADHD bagaimana cara untuk mengantre dan berbagi. 

Penelitian menunjukkan bahwa pengobatan jangka panjang dengan gabungan antara obat-obatan dan terapi tingkah laku, lebih efektif jika dibandingkan dengan pengobatan saja.

2. Pendidikan khusus

Kebanyakan anak dengan ADHD bersekolah di kelas reguler, tetapi beberapa dari mereka belajar lebih baik di tempat yang memiliki struktur lebih lengkap. 

Jika anak belajar di sekolah khusus, mereka akan mendapatkan pembelajaran yang dikhususkan untuk menyesuaikan dengan gaya belajarnya.

3. Menyusun rutinitas yang jelas

Cobalah untuk menyusun rutinitas yang jelas di rumah bagi anak ADHD. Pasang jadwal harian yang dapat mengingatkannya hal-hal yang perlu mereka lakukan sepanjang hari. 

Hal ini akan membantu anak menyelesaikan tugasnya, seperti bangun, makan, bermain, mengerjakan PR, dan pergi tidur.

4. Sajikan makanan berprotein

Penelitian menunjukkan bahwa pola makan menghasilkan dampak yang beragam, tetapi beberapa ahli percaya bahwa makanan yang baik untuk otak dapat membantu anak ADHD. 

Makanan yang kaya akan protein, seperti telur, daging, kacang polong, dan kacang-kacangan, dapat membantu anak untuk berkonsentrasi dengan lebih baik.

Meskipun banyak anak yang berlompat-lompat setelah makan makanan manis atau cepat saji, tidak ada bukti kuat bahwa gula menjadi penyebab ADHD. Peran penambah rasa juga belum jelas dalam hal ini.

5. Batasi durasi menonton televisi

Kaitan antara duduk di depan TV dan ADHD belumlah jelas. Namun, para ahli menyarankan untuk membatasi waktu menonton pada anak, tepatnya tidak lebih dari 2 jam sehari.

Dengan perawatan yang tepat, mayoritas anak dengan ADHD bisa membaik. Jika gejala pada anak berlanjut hingga dewasa, segera konsultasikan dengan dokter. Anak tetap bisa mendapatkan pengobatan yang sesuai untuk usianya.

Apakah ADHD dapat dicegah?

Belum ada cara yang pasti untuk mencegah agar anak terhindar dari ADHD, tetapi ada beberapa langkah yang bisa Anda ambil untuk meminimalisir risiko tersebut. 

Ketika Anda hamil, hindari mengonsumsi alkohol, obat-obatan terlarang, dan merokok. Anak-anak yang ibunya merokok saat hamil berpotensi dua kali lebih tinggi untuk mengidap ADHD.

Selain itu, lindungi anak dari paparan polutan dan racun, seperti asap rokok dan cat timbal. Walaupun belum terbukti, hindari juga paparan berlebihan terhadap gawai dalam lima tahun pertama kehidupan anak.

Jika anak menunjukkan berbagai gejala ADHD di atas, jangan ragu untuk bertanya dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh di App Store atau Google Play sekarang juga!

Advertisement

klinik tumbuh kembang anaktips parentingtips membesarkan anak adhdtumbuh kembang anakadhd

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2023. All Rights Reserved