Kenali Gender Dysphoria, Kondisi Medis yang Masih Jarang Didengar

Gender dysphoria bukanlah gangguan mental, melainkan kondisi medis yang diakui dunia kesehatan.
Tidak semua transgender merasakan gender dysphoria, karena ada transgender yang nyaman dengan pilihan identitas gender-nya.

Gender dysphoria adalah kondisi psikologis yang membuat seseorang merasa jenis kelamin seksualnya tidak selaras dengan identitas gendernya. Mari kenali gender dysphoria, beserta definisi, penyebab, hingga penanganannya.

Gender dysphoria, apakah itu?

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), gender dysphoria adalah kondisi yang muncul ketika seseorang mengalami ketidaknyamanan karena merasa jenis kelamin biologis dengan identitas gendernya tidak sesuai.

Perlu diketahui, jenis kelamin dan identitas gender adalah dua hal berbeda. Jenis kelamin mengacu pada perbedaan biologis pada pria dan wanita. Sementara itu, identitas gender merujuk pada peran sosial dan budaya dari perempuan atau laki-laki dalam masyarakat.

Dalam kasus gender dysphoria, seseorang merasa bahwa jenis kelamin biologis yang ia bawa sejak lahir, tidak cocok dengan identitas gendernya. Mungkin ini menjadi alasan pengidap gender dysphoria ingin menjalani operasi ganti kelamin atau yang disebut dengan istilah transgender.

Perlu ditegaskan bahwa gender dysphoria bukanlah gangguan mental, melainkan kondisi medis yang sudah diakui oleh dunia kesehatan melalui DSM-5.

Selain itu, penting diketahui bahwa tidak semua transgender merasakan gender dysphoria. Beberapa dari mereka mungkin tidak merasa terbebani karena memiliki gender yang berbeda dari jenis kelamin biologisnya.

Apa saja gejala kondisi gender dysphoria?

Gejala awal gender dysphoria bisa muncul sejak pengidapnya masih kecil, bahkan di usia 2-3 tahun. Contoh kecilnya, pengidap gender dysphoria menolak mainan yang biasanya digemari oleh gendernya, dan lebih memilih mainan yang umumnya disukai oleh gender pilihannya.

Berikut ini adalah gejala gender dysphoria pada anak-anak:

  • Secara konsisten merasa dirinya adalah perempuan, meski memiliki jenis kelamin laki-laki atau sebaliknya
  • Menolak mainan atau pakaian yang tidak sesuai dengan identitas gendernya
  • Menolak cara buang air kecil sesuai dengan jenis kelaminnya (misalnya pria dengan gender dysphoria, memilih untuk buang air kecil dalam keadaan jongkok atau duduk)
  • Membahas tentang keinginan untuk menjalani operasi ganti kelamin
  • Merasa stres dengan perubahan tubuhnya saat mengalami pubertas

Pada remaja dan orang dewasa, berikut ini adalah gejala gender dysphoria:

  • Merasa bahwa jenis kelamin biologis tidak selaras dengan identitas gender-nya
  • Tidak menyukai alat kelamin yang dimiliki, sehingga menolak untuk mandi, ganti baju, dan berhubungan seksual
  • Memiliki keinginan kuat untuk menghilangkan alat kelamin dan ciri-ciri biologis
  • Seseorang akan didiagnosis dengan gender dysphoria jika beberapa gejala di atas ini, dirasakan selama 6 bulan atau lebih.

Penyebab gender dysphoria

gender dysphoria
Gender dysphoria berpotensi disebabkan beberapa kondisi medis

Menurut National Health Service, gender dysphoria bisa disebabkan oleh beberapa kondisi medis langka, seperti:

  • Hiperplasia adrenal kongenital

Kondisi ini terjadi jika kadar hormon pria di dalam janin perempuan, terlalu tinggi. Saat terlahir, sang anak mungkin merasa dirinya adalah laki-laki, dan bukan perempuan.

  • Interseks

Kondisi ini terjadi jika bayi memiliki perbedaan antara alat kelamin eksternal dan alat kelamin internal (testis dan ovarium). Kondisi ini disebut juga dengan istilah hermafrodit.

  • Sindrom ketidakpekaan androgen

Saat kondisi ini terjadi, gender dysphoria berpotensi muncul akibat hormon yang tidak bekerja secara baik di dalam rahim, saat sang bayi masih dalam kandungan ibunya.

  • Hormon tambahan

Hormon tambahan dalam sistem ibu, akibat mengonsumsi obat-obatan tertentu saat sedang mengandung, juga bisa menjadi salah satu penyebab gender dysphoria.

Penanganan gender dysphoria

Jika anak atau salah satu keluarga Anda mengidap gender dysphoria, biasanya akan ada penanganan dalam bentuk bantuan psikologis.

Sebab, penanganan gender dysphoria bertujuan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan rasa tidak nyaman yang timbul akibat ketidakselarasan antara jenis kelamin biologis dan identitas gender mereka.

Contohnya, membiarkan pengidap gender dysphoria menggunakan baju dari identitas gender yang ia pilih. Merka juga berpotensi menjalani operasi ganti kelamin ketika sudah dewasa, jika itu dirasa sebagai pilihan terbaik.

Selain itu, pengidap gender dysphoria yang takut akan perubahan bentuk tubuhnya saat pubertas, biasanya mengonsumsi obat-obat hormon (testosteron atau estrogen) yang bisa meminimalisir perubahan fisik akibat pubertas.

Namun tentu saja, hal ini dilakukan atas kemauan pengidap dengan pengawasan dokter. Biasanya sebelum melakukan hal ini, pengidap gender dysphoria harus berkonsultasi dengan dokter atau psikolog.

National Health Service. https://www.nhs.uk/conditions/gender-dysphoria/
Diakses pada 14 Februari 2020

Psychiatry. https://www.psychiatry.org/patients-families/gender-dysphoria
Diakses pada 14 Februari 2020

Web MD. https://www.webmd.com/sex/gender-dysphoria#1
Diakses pada 14 Februari 2020

Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/001669.htm
Diakses pada 14 Februari 2020

Artikel Terkait

Banner Telemed