3 Cara Ini Aman Untuk Mengobati Tirotoksikosis pada Wanita

Tirotoksikosis adalah gangguan kelenjar tiroid yang terjadi ketika kelenjar tiroid terlalu aktif
Sepasang kelenjar tiroid terletak di leher

Kelenjar tiroid berfungsi memproduksi hormon yang membuat tubuh Anda tetap bekerja secara normal. Ketika kelenjar berbentuk kupu-kupu ini terlalu aktif, Anda bisa mengalami salah satu penyakit tiroid pada wanita yang disebut tirotoksikosis.

Secara garis besar, tirotoksikosis adalah kondisi saat tubuh mengandung terlalu banyak hormon tiroid dalam darah. Ini terjadi ketika kelenjar tiroid memproduksi hormon tersebut secara berlebihan, atau dikenal juga sebagai kondisi hipertiroidisme.

Sekilas, tirotoksikosis mungkin sulit dikenali karena gejalanya yang sering mirip dengan penyakit lain. Untuk itu, penting untuk lebih waspada agar diagnosis dan pengobatan bisa dilakukan dengan tepat.

Seperti apa gejala tirotoksikosis?

Ketika terjadi tirotoksikosis, kinerja organ-organ di dalam tubuh akan menjadi lebih cepat. Misalnya, jantung berdetak lebih cepat, sering merasa gugup dan cemas, tangan yang gemetar, serta otot yang lemah.

Anda juga dapat mengalami metabolisme yang lebih cepat. Sebagai akibatnya, Anda berkeringat lebih banyak dan sering buang air kecil maupun buang air besar.

Penurunan berat badan pun bisa terjadi. Pasalnya, Anda mungkin saja tidak mengonsumsi kalori yang cukup untuk mengimbangi proses metabolisme tubuh yang terlalu cepat.

Bila Anda mengalami gejala-gejala penyakit tiroid pada wanita tersebut, segera periksakan diri ke dokter. Terlebih lagi jika Anda tengah menjalani program hamil atau bahkan sedang mengandung.

Bagaimana cara mendiagnosis tirotoksikosis?

Pastikan Anda memaparkan semua gejala yang Anda rasakan pada dokter. Demikian pula dengan obat yang sudah Anda konsumsi. Selain itu, dokter juga akan melakukan serangkaian pemeriksaan berikut:

1. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik berfungsi mengecek apakah detak jantung Anda terlalu cepat serta kelenjar tiroid Anda mengalami pembesaran atau tidak.

2. Pemeriksaan tambahan

Dalam beberapa kasus, dokter juga bisa menganjurkan pemeriksaan tambahan berupa ultrasound (USG) pada kelenjar tiroid. Alat ini menggunakan gelombang suara untuk mengetahui kondisi kelenjar tiroid di dalam tubuh Anda.

3. Tes darah

Sampel darah pasien kemudian akan diambil untuk diperiksa di laboratorium. Melalui tes darah ini, kadar thyroid stimulating hormone (TSH) akan diketahui. Kadar hormon inilah yang akan menentukan apakah Anda mengalami tirotoksikosis atau tidak.

4. Tes radioactive iodine uptake 

Ketika hasil pemeriksaan darah positif menunjukkan Anda terkena tirotoksikosis, dokter akan menyarankan Anda untuk kembali melakukan tes lain. Tes ini adalah radioactive iodine uptake (RAIU).

Tes tersebut bertujuan mengukur berapa banyak iodium radioaktif yang diserap oleh tubuh dalam periode tertentu. Hasilnya kemudian akan menentukan penyebab terjadinya penyakit tiroid pada wanita ini, misalnya Graves’ disease atau tiroiditis.

5. Pemindaian kelenjar tiroid

Tes lain yang bisa disarankan ialah pemindaian kelenjar tiroid. Tes ini bertujuan melihat kondisi kelenjar tersebut. 

Setelah diagnosis dan penyebab di balik tirotoksikosis terdeteksi, dokter akan menentukan pengobatan yang sesuai untuk kondisi Anda.

Cara mengobati tirotoksikosis sesuai rekomendasi dokter

Pengobatan tirotoksikosis akan sangat bergantung pada kondisi kelenjar tiroid maupun penyebab terjadinya penyakit tiroid pada wanita ini. Namun pada sebagian besar kasus, hipertiroidisme di balik tirotoksikosis dapat ditangani dengan konsumsi obat antitiroid, pil iodium radioaktif, maupun operasi.

1. Obat antitiroid

Jenis obat antitiroid yang biasanya diresepkan oleh dokter adalah thionamide propylthiouracil (PTU). Sekitar 90% penderita tirotoksikosis berhasil mengurangi sintesis hormon tiroid dengan mengonsumsi PTU hanya dalam hitungan minggu.

Berdasarkan beberapa penelitian, PTU paling efektif dikonsumsi dalam kurun 12 hingga 18 bulan. Pada penderita tirotoksikosis akibat Greaves’ disease, PTU dapat mengurangi sintesis hormon tiroid hingga 40-60%. Tapi obat ini tidak cocok diberikan pada penderita tirotoksikosis yang disebabkan oleh tiroiditis.

Sama seperti semua obat, PTU bisa mengakibatkan efek samping. Beberapa di antaranya meliputi munculnya ruam dan biduran. Kandungan enzim transaminase yang memengaruhi fungsi hati juga bisa meningkat, tapi jarang menyebabkan keracunan pada organ hati. 

Khusus bagi wanita, kandungan dalam PTU bisa saja sedikit terserap oleh janin. Akibatnnya, muncul risiko janin yang mengalami hipotiroidisme.

Oleh karena itu, ibu hamil hanya boleh mengonsumsi obat ini dalam dosis yang rendah, yakni hanya cukup untuk menurunkan jumlah hormon di dalam tubuh hingga level aman batas atas. 

Begitu pula pada ibu menyusui, obat untuk penyakit tiroid pada wanita ini hanya aman dikonsumsi sesuai dosis yang disarankan oleh dokter. Meski terdapat sedikit sekret yang mungkin terserap dalam air susu ibu (ASI), PTU terbukti tidak menyebabkan bayi rawan menderita hipotirodisme.

2. Kapsul iodium radioaktif

Untuk mengatasi produksi hormon tiroid yang berlebihan, Anda bisa mengonsumsi kapsul iodium radioaktif. Obat ini mampu memecah sel tiroid. 

Meski terdengar menyeramkan, Anda tidak perlu khawatir karena prosedur ini aman dan terbukti dapat mengurangi gejala penyakit tiroid pada wanita. Misalnya, tangan gemetar dan jantung berdebar-debar.

Hanya saja, pengobatan jenis ini hanya boleh dilakukan untuk jangka pendek. Iodium radioaktif juga tidak mampu mengurangi kemampuan kelenjar tiroid dalam memproduksi hormon. Karena itu, Anda mungkin harus berkali-kali datang ke dokter untuk mendapatkan perawatan dengan kapsul ini.

3. Operasi

Ketika tirotoksikosis sudah berada pada level yang parah, tidak ada pilihan selain menjalani operasi untuk menyembuhkan kondisi Anda. Dokter mungkin akan mengangkat sebagian kelenjar tiroid atau bahkan seluruhnya guna mengurangi gejala akibat penyakit tiroid pada wanita ini.

Semua jenis pengobatan tirotoksikosis memiliki sisi positif dan negatif. Selalu konsultasikan tindakan yang akan Anda ambil bersama dokter agar pengobatan Anda berjalan efektif dan oprimal, serta memicu efek samping yang paling sedikit.

WebMD. https://www.webmd.com/women/thyrotoxicosis-hyperthyroidism#1
Diakses pada 30 Juni 2019

Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/003689.htm
Diakses pada 30 Juni 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1476727/
Diakses pada 30 Juni 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed