Konsumsi kacang dalam jumlah sedikit pun dapat menimbulkan gejala alergi yang serius pada pengidap alergi kacang
Kacang termasuk salah satu makanan yang kerap memicu reaksi alergi

Alergi yang dialami oleh setiap orang berbeda-beda. Mulai dari alergi terhadap jenis makanan tertentu, debu, tungau, maupun obat.

Di antara jenis-jenis alergi tersebut, alergi makanan merupakan salah satu tipe alergi yang paling umum. Salah satu bahan pangan yang kerap memicu kemunculan reaksi alergi adalah kacang. Seperti apakah gejala alergi kacang dan bagaimanakah menanganinya?

7 Gejala alergi karena kacang

Umumnya, seseorang yang mengalami alergi kacang akan menunjukkan gejala alergi pada beberapa menit setelah mengonsumsi kacang. Gejala umum yang mungkin akan timbul meliputi:

  • Ruam merah dan gatal-gatal di kulit.
  • Bentol-bentol pada kulit.
  • Hidung tersumbat atau mengeluarkan ingus.
  • Tenggorokan terasa menyempit.
  • Sensasi gatal atau geli di dalam atau sekitar mulut dan tenggorokan.
  • Masalah pencernaan, seperti kram pada perut, diare, mual, atau muntah.
  • Gangguan pada pernapasan, misalnya sesak napas atau mengi (muncul bungi ‘ngik’ tiap menarik napas).

Gejala alergi kacang dan anafilaksis

Anda sebaiknya tidak menganggap remeh alergi kacang. Bagi pengidap, konsumsi kacang dalam jumlah sedikit pun dapat menimbulkan reaksi serius dan sangat parah. Kondisi yang dapat mengancam jiwa ini dikenal dengan istilah anafilaksis.

Gejala anafilaksis yang harus diwaspadai meliputi pembengkakan pada tenggorokan, kesulitan bernapas, kulit yang pucat, bibir yang membiru, tekanan darah yang turun drastis, serta pingsan

Kenapa alergi kacang bisa terjadi?

Alergi terjadi jika sistem kekebalan tubuh Anda keliru mengidentifikasi zat yang masuk sebagai sesuatu yang berbahaya bagi tubuh. Pada alergi kacang, protein kacanglah yang terdeteksi sebagai zat yang mengancam kesehatan dan memancing reaksi dari sistem imun.

Hingga saat ini, penyebab terjadinya alergi kacang belum diketahui secara pasti. Namun beberapa faktor di bawah ini diyakini dapat memperbesar risiko seseorang terkena alergi kacang:

  • Pengaruh faktor usia. Alergi makanan paling umum terjadi pada anak-anak, terutama bayi dan balita. Pasalnya, sistem pencernaan mereka belum sempurna. Namun seiring pertambahan usia, sistem cerna anak akan semakin berkembang, sehingga kemungkinan munculnya reaksi tubuh terhadap makanan pemicu alergi pun akan menurun.
  • Faktor keturunan. Bila ada anggota keluarga Anda yang memiliki alergi kacang, Anda berisiko lebih tinggi untuk mengidap alergi yang sama.
  • Pernah mengalami alergi kacang. Alergi kacang pada anak-anak berkemungkinan untuk kambuh walaupun sudah pernah diatasi.
  • Memiliki alergi lainnya. Jika mengidap alergi terhadap bahan pangan tertentu, Anda akan memiliki risiko lebih tinggi untuk alergi terhadap makanan lainnya. Misalnya, orang yang alergi telur bisa pula mengalami alergi terhadap kacang. 
  • Mengalami dermatitis atopik. Sebagian orang yang menderita penyakit dermatitis atopik atau eksim atopik juga memiliki alergi terhadap makanan.

Harapan baru mengenai pengobatan alergi kacang

Alergi termasuk penyakit yang sulit ditangani. Pasalnya, belum ada pengobatan khusus untuk mengatasinya. Termasuk alergi kacang.

Pengobatan biasanya bertujuan untuk mengendalikan gejala alergi sekaligus mencegah reaksi alergi berkembang semakin parah dan berujung pada anafilaksis.

Namun sebuah penelitian menyebutkan bahwa ada suatu cara untuk mengobati alergi kacang. Cara tersebut dinamakan imunoterapi oral (oral immunotherapy/OIT).

Imunoterapi oral bertujuan meningkatkan toleransi tubuh penderita terhadap alergen yang terdapat pada makanan yang dikonsumsi. Sebagai contoh, pada kasus alergi kacang, penderita akan diberi kacang dalam jumlah yang sangat kecil di tahap awal. Jumlah kacang yang diberikan tersebut kemudian akan ditingkatkan secara bertahap.

Harap diingat bahwa langkah imunoterapi oral ini harus dilakukan di bawah pengawasan dokter. Jangan sekali-kali mencobanya sendiri di rumah.

Langkah pengobatan tersebut juga masih membutuhkan penelitian lebih lanjut dan lebih luas. Oleh sebab itu, selalu konsultasikan dengan dokter terlebih dulu sebelum Anda mencobanya.

Bisakah alergi kacang dicegah?

Cara terbaik dan teraman untuk mencegah munculnya gejala alergi kacang adalah dengan sama sekali menghindari kacang. Mulai dari kacang itu sendiri maupun kacang dalam bentuk lain, misalnya minyak kacang maupun campuran dalam adonan dan hidangan.

Pastikan Anda membaca label maupun komposisi pada kemasan jika ingin membeli makanan. Sama halnya ketika Anda hendak memesan makanan di restoran.

Sebaiknya, beritahukan pada pramusaji jika Anda mengidap alergi kacang agar proses masak dan penyajian hidangan bisa lebih berhati-hati.

Tanyakan juga pada dokter mengenai makanan pengganti yang bisa Anda konsumsi dengan aman. Dengan ini, alergi kacang pun bisa dijauhi.

Para ibu yang sedang hamil atau menyusui mungkin enggan mengonsumsi kacang karena takut buah hati akan terpapar kacang dan berpotensi terkena alergi kacang. Namun anggapan ini tidaklah tepat.

Berdasarkan penelitian dari Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular Amerika, para ibu yang sedang hamil dan menyusui dihimbau agar tidak menghindari konsumsi kacang. Apa alasannya?

Para peneliti sama sekali tidak menemukan adanya kaitan antara ibu yang menghindari konsumsi kacang selagi hamil dan menyusui dengan risiko alergi kacang pada anak.

Meski demikian, konsumsi kacang tetap tidak boleh berlebihan. Penting bagi para wanita hamil dan menyusui untuk mengikuti rekomendasi dari dokter mengenai makan kacang, terkait sang ibu memiliki riwayat keluarga yang alergi terhadap makanan tertentu maupun tidak.

Sebagai tambahan, para pakar juga menyarankan para orangtua untuk tidak memberikan kacang atau makanan lain pada bayi di bawah enam bulan. Sebaiknya, hanya berikan air susu ibu (ASI) atau susu formula khusus bayi selama masa-masa tersebut.

Sementara itu, anak-anak yang memiliki riwayat keluarga mengidap alergi kacang sebaiknya berkonsultasi dengan dokter dulu sebelum mengonsumsi kacang. Dengan memerhatikan apa yang dikonsumsi, reaksi dan gejala alergi kacang niscaya bisa dihindari.

WebMD. https://www.webmd.com/allergies/guide/allergy-symptoms-types
Diakses pada 21 Juni 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/peanut-allergy/symptoms-causes/syc-20376175
Diakses pada 21 Juni 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/allergies/peanut#prevention
Diakses pada 25 Juni 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/food-allergy/living-with/
Diakses pada 25 Juni 2019

AllergyUK. https://www.allergyuk.org/information-and-advice/conditions-and-symptoms/778-peanut-allergy
Diakses pada 16 Juli 2019

Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/allergy-pictures/fascinating-facts-about-peanut-allergies.aspx#you-may-find-peanuts-in-unlikely-foods
Diakses pada 16 Juli 2019

American College of Allergy, Asthma & Immunology. https://acaai.org/allergies/types/food-allergies/types-food-allergy/peanut-allergy
Diakses pada 17 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed