Mengenal Ciri-Ciri TB MDR yang Kebal Obat dan Cara Mencegahnya

kenali ciri TB MDR yang kebal dengan obat
TB MDR kebal dengan obat-obat

Masyarakat Indonesia pasti sudah familiar dengan tuberkulosis atau TB yang sempat menjadi momok di zaman dulu. Penyakit TB menyerang paru-paru dan memiliki ciri khas yang mencolok, yakni batuk berdarah dan penurunan berat badan yang signifikan dan penderitanya berpotensi mengalami kematian. Meski begitu, sekarang ini, pengobatan untuk TB sudah tersedia tetapi terapi TB membutuhkan durasi yang lama.

Namun, tahukah Anda bahwa terdapat jenis lain dari TB yang kebal dengan obat? Jenis TB ini dikenal dengan multidrug resistant tuberculosis atau TB MDR. Sebenarnya, ciri-ciri TB MDR kurang lebih sama dengan TB pada umumnya.

Bagaimana ciri-ciri TB MDR?

Pada dasarnya ciri-ciri TB MDR tidak berbeda dengan ciri-ciri TB pada umumnya. Pembeda dari ciri-ciri TB MDR dengan TB yang biasanya adalah dari kekebalan bakteri tersebut dari obat yang diberikan.

Bakteri penyebab TB MDR mengembangkan suatu pertahanan yang membuatnya kebal dari berbagai macam obat yang diberikan, termasuk obat rifampicin dan isoniazid yang merupakan dua jenis obat TB yang paling kuat. Sehingga, ketika diberikan obat TB, kuman-kuman ini tidak kunjung mati dan gejala TB tetap ada.

Karena ciri-ciri TB MDR serupa dengan ciri-ciri TB yang biasanya, maka tidak ada perbedaan gejala antara TB biasanya dan TB MDR. Berikut adalah ciri-ciri dari TB MDR:

Serupa dengan TB biasanya, TB MDR juga dapat menyerang bagian organ tubuh lain, seperti kulit, kelenjar, otak, ginjal, atau tulang belakang. Oleh karenanya, ciri-ciri TB MDR bergantung pada daerah tempat infeksinya. Misalnya, bila TB MDR menyerang bagian organ ginjal, maka Anda akan memiliki air seni yang mengandung darah.

Bagaimana membedakan ciri-ciri TB MDR dan TB biasanya?

Ciri-ciri TB MDR dan TB biasanya yang sama dapat membuat Anda bingung untuk membedakannya. Sejatinya, hanya pemeriksaan laboratorium khusus yang bisa mendeteksi jenis bakteri penyebab TB MDR.

Pemeriksaan di laboratorium akan menelaah sensitivitas bakteri terhadap obat TB atau melihat ada tidaknya pola kekebalan pada bakteri. Durasi keluarnya hasil bergantung pada jenis pemeriksaan laboratorium yang dilakukan. Pemeriksaan dengan teknik molekular biasanya akan memberikan jawaban dalam kurun waktu beberapa jam.

Mengapa TB MDR bisa muncul?

Timbulnya TB MDR umumnya diakibatkan oleh tidak tuntasnya penanganan TB yang diberikan atau karena penanganan yang salah. Kesalahan ini biasanya karena penggunaan obat TB yang salah dari pihak petugas kesehatan ataupun dari pasiennya, misalnya:

  • Pemberian dosis yang tidak tepat.
  • Tidak adanya obat yang sesuai untuk penderita karena efek samping yang ditimbulkan.
  • Pasien tidak menyelesaikan penanganan yang diberikan.

Ciri-ciri TB MDR akan lebih berisiko untuk muncul pada penderita TB yang tidak rutin mengonsumsi obat atau tidak menghabiskan obat TB yang diberikan, serta penderita TB yang kambuh. Orang yang sehat juga bisa terjangkit TB MDR bila sering meluangkan waktu bersama atau tinggal dengan penderita TB MDR.

Apakah ada pengobatan untuk TB MDR?

Pengobatan untuk penderita TB MDR sangat rumit karena bakteri pemicu TB kebal terhadap obat TB yang biasanya digunakan. Terkadang penderita TB MDR bisa diberikan antibiotik fluoroquinolone yang memiliki efek samping yang serius.

Oleh karenanya, penanganan pasien TB MDR memerlukan pengawasan dan penanganan yang tepat dari ahlinya untuk mengurangi risiko kematian.

Ada hampir setengah juta kasus baru TB-MDR setiap tahunnya yang dilaporkan hampir semua negara di dunia. Sayangnya, dari jumlah tersebut hanya 20 persen yang dapat memperoleh pengobatan.

Bagaimana mencegah TB MDR?

Pencegahan TB MDR sangat penting untuk mencegah kemunculan ciri-ciri TB MDR pada pasien yang mengalami TB. Pencegahan utamanya adalah dengan menghabiskan atau mengikuti penanganan TB hingga selesai.

Butuh kerjasama antara petugas kesehatan dengan pasien untuk bisa menuntaskan penanganan yang diberikan.

Pasien harus mau menghabiskan obat yang diberikan serta memberitahukan jika ada kendala dengan konsumsi obat dan petugas kesehatan perlu memeriksa dengan tepat, mengawasi, dan memastikan pasien menyelesaikan penanganan yang diberikan.

Selain itu, penderita TB MDR juga sebaiknya menggunakan masker dan menghindari terlalu sering berada di tempat publik untuk mencegah penularan TB MDR pada orang sehat lainnya.

CDC. https://www.cdc.gov/tb/topic/drtb/default.htm
Diakses pada 6 Desember 2019

CDC. cdc.gov/tb/publications/factsheets/drtb/mdrtb.htm
Diakses pada 6 Desember 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tuberculosis/symptoms-causes/syc-20351250
Diakses pada 6 Desember 2019

WHO. https://www.who.int/features/qa/79/en/
Diakses pada 6 Desember 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health-news/tuberculosis-spreading-worldwide-032314#2
Diakses 19 Mei 2020

Artikel Terkait