Kelebihan Zat Besi, Bikin Kulit Keabuan Hingga Komplikasi

Kelebihan zat besi dapat membahayakan organ-organ tubuh, salah satunya adalah organ hati
Kanker hati merupakan salah satu dampak dari kelebihan zat besi

Tidak ada satupun sel manusia yang tidak mengandung zat besi. Begitu pentingnya mineral yang satu ini, sampai-sampai pembentukan sel darah merah juga terkait erat dengan perannya. Namun di sisi lain, kelebihan zat besi juga berbahaya bagi organ tubuh dan dapat memicu komplikasi.

Kelebihan zat besi bisa terjadi pada siapapun. Ketika tubuh mengalami akumulasi zat besi, maka organ seperti hati, pankreas, dan jantung mau tak mau akan menjadi tempat penyimpanannya. Konsekuensinya, organ-organ tersebut bisa terganggu.

Bahaya kelebihan zat besi

Istilah medis untuk kondisi kelebihan zat besi adalah hemokromatosis. Ini terjadi saat seseorang menyerap terlalu banyak zat besi dari makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Faktor lain seperti penyakit sebelumnya hingga genetik juga memegang peran.

Bahaya dari kelebihan zat besi terhadap organ vital tubuh di antaranya:

Bahaya yang mengintai akibat kelebihan zat besi tidak main-main. Itulah mengapa seseorang yang memiliki persentase zat besi terlalu tinggi dalam tubuhnya, harus segera diatasi.

Penyebab kelebihan zat besi

Menilik penyebab dari kelebihan zat besi, maka bisa dibedakan menjadi 3 faktor yaitu:

1. Hemokromatosis primer

Kondisi hemokromatosis primer terjadi apabila diturunkan dari orangtua ke anak-anaknya atau genetik. Setidaknya 90% kasus kelebihan zat besi terjadi karena hal ini. Pada penderitanya, terjadi mutasi umum pada agen HFE sehingga jumlah zat besi yang diserap sukar dikendalikan.

2. Hemokromatosis sekunder

Berbeda dengan penyebab primer, hemokromatosis sekunder terjadi karena ada masalah medis sebelumnya. Contohnya adalah:

  • Penyakit hati dipicu konsumsi alkohol berlebihan
  • Dialisis ginjal yang terjadi pada jangka panjang
  • Suntik atau pil mengandung zat besi dengan dosis terlalu tinggi
  • Konsumsi suplemen vitamin C dalam jangka waktu yang lama sehingga meningkatkan penyerapan zat besi oleh tubuh
  • Penyakit langka terkait sel darah merah
  • Gangguan darah (thalasemia)
  • Penyakit hati (infeksi hepatitis C kronis)
  • Transfusi darah

3. Hemokromatosis neonatal

Sesuai namanya, penyakit kelebihan zat besi ini terjadi sejak bayi terlahir ke dunia. Biasanya, zat besi terakumulasi di organ hati. Seringnya, bayi tidak akan bisa bertahan lama. Pemicunya adalah sistem imunitas sang ibu justru merusak hati janin.

Dari sisi jenis kelamin, kelebihan zat besi rentan dialami pria ketimbang wanita. Biasanya, pria mengalami kondisi ini di usia 40-60 tahun. Sementara wanita bisa mengalaminya setelah menopause karena tidak lagi “membuang” zat besi lewat menstruasi dan kehamilan.

Rasionya adalah dari 28 orang penderita hemokromatosis, 18 merupakan pria dan 10 wanita.

Kenali gejala kelebihan zat besi

Jangan sepelekan kelebihan zat besi karena risiko komplikasi yang mungkin terjadi. Kenali beberapa gejalanya seperti berikut ini:

  • Mudah lelah
  • Nyeri perut
  • Nyeri sendi
  • Gairah seksual menurun
  • Menstruasi tidak teratur bahkan berhenti
  • Lesu dan mudah lelah
  • Gula darah naik drastis
  • Impotensi
  • Detak jantung tidak beraturan
  • Hati mengalami pembesaran hingga risiko kerusakan
  • Warna kulit terlihat abu-abu karena endapan zat besi

Sebagian besar penderita kelebihan zat besi akan menunjukkan gejala yang berkaitan dengan fungsi hati. Selain itu, yang juga terlihat mencolok adalah perubahan warna kulit menjadi keabuan diiringi dengan rasa lesu dan tidak bertenaga.

Biasanya, warna kulit menjadi keabuan merupakan tanda bahwa kelebihan zat besi sudah cukup parah.

Cara mengobati kelebihan zat besi

Penderita kelebihan zat besi harus menjalani terapi untuk mengurangi zat besi. Namun sebelum menjalani terapi ini, pihak medis perlu melihat berapa kadar hemoglobin seseorang.

Pengobatan yang biasa diberikan untuk penderita kelebihan zat besi adalah venesection atau phlebotomy. Ini merupakan terapi untuk menghilangkan darah dengan kandungan zat besi terlalu tinggi dari tubuh.

Mekanismenya seperti donor darah, namun targetnya adalah mengembalikan kadar zat besi kembali normal. Jika setelah pengobatan zat besi kembali tinggi, maka terapi ini harus diulang kembali.

Tentu saja, pengobatannya tidak bisa disamaratakan. Harus bisa memperhitungkan usia, kondisi kesehatan, dan seberapa parah kasus kelebihan zat besi yang diderita.

Selain phlebotomy, terapi chelation juga bisa dilakukan. Namun biasanya, dokter tidak akan merekomendasikan terapi ini untuk penanganan pertama kali.

Tak hanya itu, pengobatan dalam bentuk pil yang bisa membuang kelebihan zat besi juga bisa diberikan kepada penderitanya. Secara berkala, penderita kelebihan zat besi perlu menjalani tes darah.

Iron Disorders Institute. http://www.irondisorders.org/iron-overload
Diakses 8 Oktober 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hemochromatosis/symptoms-causes/syc-20351443
Diakses 8 Oktober 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/166455.php
Diakses 8 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed