Pelaku voyeurisme mendapatkan gairah seksual mereka dengan cara mengintip
Ilustrasi pelaku voyeurisme yang suka mengintip

Kelainan seksual adalah kondisi ketika seseorang terangsang dengan membayangkan atau terlibat dalam hubungan seksual yang tidak biasa, sudah berlangsung lama, dan bahkan bisa mengganggu kehidupan sehari-hari. Kelainan seksual dapat menjadi penyimpangan seksual yang merupakan penyakit mental jika pelakunya membahayakan psikologis atau fisik orang lain.

Kelainan ini dapat terjadi pada siapa saja, tapi lebih banyak diderita oleh laki-laki dibanding perempuan. Penyebabnya banyak faktor, misalnya trauma masa lalu atau perubahan fisik yang mendadak, tapi tak jarang juga penyebabnya tidak diketahui.

Jenis kelainan seksual dan ciri-cirinya

Jenis kelainan seksual sangat banyak dan beragam. Namun, berdasarkan panduan yang dikeluarkan Akademi Psikiater Amerika (APA), terdapat delapan jenis kelainan seksual maupun penyimpangan seksual yang dibukukan dalam DSM-5, yaitu:

  • Eksibisionisme

Orang yang memiliki kelainan seksual ini kerap memamerkan alat kelaminnya kepada orang asing. Pelaku eksibisionis akan meraih kepuasan seksual ketika korbannya terlihat kaget, syok, atau bahkan terkesan dengan perbuatan tersebut.

Secara fisik, kelainan seksual ini tidak menyebabkan kerugian bagi orang lain. Meski demikian, tidak dipungkiri bahwa tindakan tersebut menimbulkan keresahan, apalagi jika pelaku eksibisionis sampai bermasturbasi ketika memperlihatkan kemaluannya tersebut.

  • Fetisisme

Kelainan seksual ini akan membuat seseorang akan mendapatkan kepuasan seksual lewat ‘berhubungan’ dengan benda mati. Misalnya, pelakunya akan terangsang ketika menyentuh, merasakan, memasukkan, atau mencium berbagai benda mati, seperti celana dalam, baju, sepatu, dan lain-lain.

Seseorang dengan fetish bisa menggunakan benda tersebut untuk bermasturbasi. Bisa juga, rangsangan terhadap benda mati itu disalurkan lewat berhubungan seksual dengan pasangan yang harus mengenakan benda spesifik tersebut.

Pada pria dengan fetisisme, berhubungan seksual dengan pasangan tanpa kehadiran benda yang membuat terangsang bisa sampai mengakibatkan disfungsi ereksi.

  • Transvetitisme

Transvetitisme alias fetisisme tranvestik adalah perilaku yang ditunjukkan seseorang dengan berpakaian seperti lawan gendernya. Misalnya, seorang laki-laki berpakaian seperti wanita atau sebaliknya, dan bisa dilakukan oleh seorang heteroseksual maupun homoseksual.

Pemilik kelainan seksual ini bisa hanya menggunakan sebagian identitas lawan jenis (misalnya pria menggunakan lingerie) atau bisa juga berpakaian seluruhnya seperti lawan jenis. Berperilaku seperti itu akan membuat mereka mencapai kepuasan seksual, meski tidak melakukan hubungan seksual dengan siapa pun.

  • Voyeurisme

Pelaku kelainan seksual ini disebut juga sebagai pengintip. Pasalnya, mereka memang menjalankan aksinya dengan mengintip orang asing saat mandi, berganti pakaian, atau saat berhubungan seksual dengan orang lain.

Meski demikian, para pengintip tidak bertujuan memperkosa atau melakukan hubungan seksual dengan orang yang diintipnya. Mereka hanya ingin masturbasi dan mencapai kepuasan seksual dengan melihat aktivitas orang asing lewat lubang intip tersebut.

  • Frotteurisme

Anda pernah mendengar ada pria yang senang menggesek-gesekkan kemaluannya pada wanita yang tak dikenalnya di tengah keramaian, misalnya di gerbong kereta api? Nah, itu adalah salah satu bentuk kelainan seksual yang dinamakan frotteurisme.

Anda dikatakan menderita frotteurisme bila sudah merasakan kelainan ini dalam periode 6 bulan beruntun. Jika Anda merasa memilikinya, berkonsultasi dengan ahli kejiwaan bisa mengurangi keinginan untuk melakukan penyimpangan seksual yang bisa berujung pidana ini.

  • Masokisme

Kelainan seksual ini dicirikan dengan kepuasan seksual seseorang yang hanya bisa dicapai ketika ia dipermalukan atau dilakukan secara kasar oleh pasangan. Masokisme bisa berbentuk hanya sebatas verbal hingga perlakuan yang menyakiti fisik, seperti memukul hingga membakar diri.

Salah satu aliran masokisme yang bisa berbahaya adalah asfiksiasi autoerotis, yakni ketika masokis mencekik dirinya sendiri (atau meminta bantuan pasangan seksualnya). Tujuannya adalah kesulitan bernapas hingga akhirnya mencapai klimaks, namun hal ini tak jarang berlangsung di luar batas hingga menyebabkan kerusakan otak permanen atau bahkan kematian.

  • Sadisme seksual

Sadisme bisa dikatakan sebagai penyimpangan seksual yang mungkin berujung pada hukuman pidana. Pasalnya, orang dengan kelainan ini hanya mencapai kepuasan seksual setelah melakukan adegan sadis pada pasangannya, misalnya teror, pemerkosaan, hingga pembunuhan.

  • Pedofilia

Penyimpangan seksual lainnya yang tak kalah sadis adalah pedofilia, yakni ketika orang dewasa menunjukkan ketertarikan dengan anak-anak yang berusia di bawah 13 tahun. Penyimpangan yang dilakukan bisa berupa memaksa anak menonton mereka masturbasi, membuka baju anak, menyentuh kemaluannya, hingga berhubungan seksual.

Pedofil bukan hanya menyasar anak pada umumnya, namun juga bisa mengincar anak mereka sendiri. Tindakan pedofilia dapat dikategorikan sebagai pemerkosaan dan orang yang melakukannya bisa dituntut dan dihukum secara pidana.

Seseorang kadang tidak menyadari bahwa diri mereka mengalami kelainan seksual. Namun, jika Anda merasa memiliki kecenderungan tersebut, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikiater demi menghindari kemungkinan gangguan tersebut meningkat menjadi penyimpangan seksual.

APA. https://www.psychiatry.org/File%20Library/Psychiatrists/Practice/DSM/APA_DSM-5-Paraphilic-Disorders.pdf
Diakses pada 23 Februari 2020

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/paraphilias
Diakses pada 23 Februari 2020

Psych Central. https://psychcentral.com/sex/
Diakses pada 23 Februari 2020
Psych Central. https://psychcentral.com/disorders/fetishism-symptoms/
Diakses pada 23 Februari 2020

WebMD. https://www.webmd.com/sexual-conditions/guide/paraphilias-overview
Diakses pada 23 Februari 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/frotteurism
Diakses pada 23 Februari 2020