Kelainan Refraksi, Bisa Terdeteksi Sejak Kecil Hingga Lansia

Kelainan refraksi bisa ditangani dengan penggunaan kacamata sesuai kebutuhan
Saat mata tida bisa fokus melihat objek yang jelas, gunakan kacamata yang akan membantu fungsi penglihatan Anda

Salah satu masalah mata yang paling umum terjadi adalah kelainan refraksi. Kondisi ini terjadi ketika mata tidak bisa fokus pada objek dengan jelas. Akibatnya, penderitanya akan merasakan mata buram bahkan jika parah, bisa memicu gangguan penglihatan.

Kelainan refraksi sulit dicegah, namun bisa didiagnosis lewat pemeriksaan mata berkala dan diberikan rekomendasi menggunakan kacamata sesuai kebutuhan. Jika ditangani dengan baik, orang yang mengalami kelainan refraksi tidak akan terganggu fungsi penglihatannya.

Jenis kelainan refraksi

Ada 4 jenis kelainan refraksi yang paling umum terjadi yaitu:

1. Miopi (rabun jauh)

Pada penderita miopi, objek yang berada di dekat mata akan terlihat jelas. Namun sebaliknya, objek yang ada cukup jauh akan terlihat buram. Biasanya, miopi bisa terdeteksi bahkan pada anak-anak sekalipun.

Itulah mengapa jika ada anak kecil yang menggunakan kacamata, bukan berarti terlalu sering terpapar layar. Bisa jadi, memang lensa matanya sejak lahir mengalami kondisi kelainan refraksi miopi. 

Biasanya, kondisi kelainan refraksi miopi bisa berubah seiring dengan pertumbuhan seorang anak. Itu sebabnya penting untuk memeriksakan mata secara berkala sehingga tahu apakah kacamata yang dikenakan saat ini perlu diganti atau tidak.

2. Hipermetropi (rabun dekat)

Berlawanan dengan miopi, hipermetropi atau hiperopi adalah kelainan refraksi sehingga objek di dekat mata justru terlihat buram. Di sisi lain, objek yang terletak cukup jauh justru masih jelas.

Pada penderita hipermetropi yang sudah cukup parah, objek akan terlihat buram terlepas dari jaraknya. Kelainan refraksi hipermetropi juga bisa bersifat genetik atau keturunan.

3. Astigmatisme (silindris)

Astigmatisme atau silindris terjadi ketika kornea mata berbentuk asimetris. Padahal idealnya, kornea mata berbentuk melengkung sempurna sehingga cahaya yang masuk dapat fokus dan terlihat. 

Pada penderita kelainan refraksi astigmatisme, garis yang lurus bisa terlihat tidak lurus bahkan miring. Itu sebabnya penderita astigmatisme cenderung buram melihat objek dengan jarak berapa pun.

4. Presbiopi 

Kelainan refraksi terakhir terjadi seiring dengan penuaan. Ketika usia seseorang sudah berada di atas 40 tahun, lensa mata tidak lagi fleksibel seperti sebelumnya. Konsekuensinya, kemampuan fokus mata berkurang sehingga sulit melihat objek yang ada dalam jarak dekat. 

Ini adalah bagian normal dari proses penuaan dan bisa terjadi secara universal. Orang yang menderita kelainan refraksi presbiopi juga bisa mengalami miopi, hipermetropi, atau astigmatisme di saat yang sama.

Pentingnya memeriksakan mata secara berkala

Menurut World Health Organization, setidaknya 153 juta orang di seluruh dunia mengalami masalah penglihatan akibat kelainan refraksi. Angka ini masih belum mencakup lansia yang mengalami presbiopi dan biasanya terjadi secara universal.

Tanda-tanda di atas bisa terdeteksi sejak anak masih kecil, kecuali kelainan refraksi presbiopi. Namun seringkali, anak-anak tidak tahu bahwa penglihatan mereka mengalami kelainan refraksi dan tidak bercerita pada orangtua atau pengasuh.

Mungkin saja anak mengeluh tidak bisa melihat apa yang dijelaskan guru di depan kelas, atau mengalami mata juling.

Oleh sebab itu, penting untuk selalu memeriksakan diri ke dokter spesialis mata secara berkala sehingga bisa diketahui adakah kelainan refraksi yang dialami seseorang. Ketika memeriksakan mata, dokter akan melakukan tes dengan instrumen terkomputerisasi atau instrumen mekanis sehingga bisa diketahui adanya kelainan refraksi.

Jika seseorang mengeluh penglihatannya buram, bisa jadi ada lebih dari satu jenis kelainan refraksi. Misalnya, penglihatan buram terjadi karena miopi dan astigmatisme sekaligus.

Apabila itu yang terjadi, dokter akan meresepkan lensa kacamata sesuai dengan kondisi mata setiap individu.

World Health Organization. https://www.who.int/features/qa/45/en/
Diakses 21 Februari 2020

Kellogg Eye Center. https://www.umkelloggeye.org/conditions-treatments/refractive-errors
Diakses 21 Februari 2020

All About Vision. https://www.allaboutvision.com/eye-exam/refraction.htm
Diakses 21 Februari 2020

Artikel Terkait