3 Kelainan Endometrium yang dapat Memicu Sulit Hamil

Kelainan endometrium dapat menjadi penyebab gangguan kesuburan atau infertilitas
Gangguan pada rahim dapat memicu kondisi sulit hamil pada wanita.

Saat Anda memutuskan untuk menjalani program hamil, dokter biasanya akan memeriksa kondisi rahim maupun endometrium (lapisan dinding rahim) Anda. Endometrium memegang peranan penting dalam proses reproduksi wanita. Mulai dari kemunculan siklus menstruasi hingga kehamilan.

Kelainan endometrium bisa menjadi penyebab gangguan kesuburan atau infertilitas, dan berakibat sulit hamil bagi para kaum hawa. Kenali jenis-jenis masalah pada rahim agar kita bisa lebih waspada.

[[artikel-terkait]]

1. Endometriosis

Pada kondisi normal, jaringan endometrium akan tumbuh pada bagian dalam rahim. Namun, jaringan ini kadang kala bisa tumbuh di luar dari rahim, misalnya pada ovarium maupun tuba falopi. Inilah yang dikenal dengan istilah endometriosis.

Endometriosis identik dengan sakit tak tertahankan pada perut bagian bawah. Gejala ini bisa muncul ketika haid dan selama atau setelah hubungan intim. Selain itu, pertumbuhan jaringan rahim di luar endometrium juga bisa ditandai dengan:

  • Perdarahan yang berlebihan saat menstrurasi (menorrhagia).
  • Perdarahan atau flek darah di luar siklus haid.
  • Gangguan kesuburan atau infertilitas, sehingga penderita sulit untuk hamil.
  • Masalah pencernaan, seperti konstipasi atau diare, perut kembung, mual. Gejala ini terutama muncul ketika penderita sedang haid.

Meskioun endometriosis dapat meningkatkan risiko gangguan kesuburan pada wanita, tidak sedikit penderitanya yang tetap bisa hamil dan melahirkan bayi yang sehat. Kuncinya adalah berkonsultasi dengan dokter secara rutin untuk memantau perkembangan kondisi Anda.

2. Endometrial hyperplasia

Pada endometrial hyperplasia, dinding rahim menebal karena adanya kelebihan hormon estrogen dalam tubuh penderita. Ketidakseimbangan hormon ini mengakibatkan ovulasi tidak terjadi, sehingga dinding rahim tidak meluruh, sebaliknya dinding rahim akan semakin tebal.

Gejala utama endometrial hyperplasia adalah ketika Anda tidak mengalami menstruasi secara teratur. Di samping itu, kondisi-kondisi di bawah ini juga bisa terjadi:

  • Durasi haid yang lebih lama atau lebih pendek dari biasanya.
  • Volume barah menstruasi yang lebih banyak.
  • Mentsruasi yang terjadi setelah masa menopause.

Endometrial hyperplasia biasanya terjadi menjelang atau setelah menopause. Namun jika Anda mengalaminya padausia reproduktif, kondisi ini mungkin dipengaruhi oleh banyak hal. Mulai dari konsumsi obat-obatan yang mengandung estrogen hingga sindrom polikistik ovarium (PCOS).

3. Kanker endometrium

Kanker endometrium disebabkan oleh adanya pertumbuhan sel-sel yang abnormal. Penyebab dari mutasi tersebut ini belum diketahui hingga saat ini.

Pada kanker endometrium, penderita akan mengalami indikasi utama berupa perdarahan yang tidak normal di vagina mereka. Contohnya, keluar darah di luar waktu menstruasi serta volume darah haid yang jauh lebih banyak dari biasa.

Di samping perdarahan abnormal, kanker jenis ini juga bisa memicu sederet gejala yang meliputi:

  • Rasa nyeri di panggul.
  • Muncul benjolan pada area panggul.
  • Mengalami penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.
  • Perubahan drastis pada periode menstruasi, misalnya durasi haid yang semakin lama.
  • Mengalami perdarahan setelah menopause

Kelainan pada endometrium memiliki gejala yang serupa sehingga sangat sulit diketahui. Oleh sebab itu, bantuan dan konsultasi dengan dokter diperlukan untuk mendeteksinya.

Bila Anda merasakan gejala yang mencurigakan pada tubuh Anda, segera periksakan diri dan konsultsasikan kondisi Anda ke dokter. Deteksi dini akan memungkinkan penanganan dilakukan secepat mungkin dan mengurangi risiko komplikasi.

Mayo Clinic.https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/endometriosis/symptoms-causes/syc-20354656
Diakses pada 15 Mei 2019

Woman’s Health. https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/endometriosis
Diakses pada 15 Mei 2019

Very Well Health. https://www.verywellhealth.com/what-is-the-endometrium-2721857
Diakses pada 15 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed