logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Bayi & Menyusui

Asfiksia Neonatorum, Penyebab dan Tanda Bayi Kekurangan Oksigen Selepas Lahir

open-summary

Asfiksia neonatorum adalah kondisi yang harus diwaspadai pada bayi baru lahir. Kondisi ini menyebabkan bayi kekurangan oksigen selepas lahir yang dapat berakibat fatal.


close-summary

24 Apr 2019

| dr. M. Helmi A.

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

penyebab asfiksia neonatorum dan tanda-tanda bayi kekurangan oksigen selepas lahir

Asfiksia neonatorum adalah penyebab bayi kekurangan oksigen selepas lahir karena minimnya asupan oksigen selama proses persalinan

Table of Content

  • Tidak semua bayi berisiko alami asfiksia neonatorum
  • Gejala asfiksia neonatorum atau bayi kekurangan oksigen selepas lahir
  • Penyebab asfiksia neonatorum
  • Cara mendeteksi bayi kekurangan oksigen selepas lahir
  • Penanganan bayi kurang oksigen

Asfiksia neonatorum adalah kondisi yang membuat bayi kekurangan oksigen selepas lahir. Kondisi ini juga dikenal sebagai asfiksia perinatal atau asfiksia pada bayi baru lahir.

Advertisement

Selama kehamilan, asfiksia dapat menyebabkan gawat janin yang merupakan kondisi fatal. Bahkan, asphyxia neonatorum berat dapat memicu kelainan akibat cedera otak, atau hipoksia-iskemik ensefalopati. Kekurangan asupan oksigen dan darah bisa mengakibatkan kelainan otak pada bayi selepas lahir.

Tidak semua bayi berisiko alami asfiksia neonatorum

Menurut estimasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada sekitar 90.000 bayi yang meninggal setiap tahunnya karena asphyxia neonatorum. Sebagian besar kasus tercatat terjadi di negara berkembang. Sementara di Indonesia sendiri, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penyebab kematian neonatus 0-6 hari akibat asfiksia sebanyak 37 persen. 

Bayi dapat kekurangan asupan oksigen selama dalam kandungan dan selama proses persalinan berlangsung. Jika tubuhnya tidak mendapatkan cukup oksigen selama waktu tersebut, maka bayi dapat mengalami hipoksia

Bayi yang lahir prematur maupun bayi yang lahir dari ibu dengan komplikasi kehamilan seperti diabetes gestasional atau preeklampsia, memiliki risiko tinggi terhadap asfiksia neonatorum. Selain itu, bayi dengan berat rendah (BBLR) juga rentan mengalami kondisi ini.

Gejala asfiksia neonatorum atau bayi kekurangan oksigen selepas lahir

Gejala asfiksia dapat dirasakan secara langsung maupun tidak langsung setelah persalinan. Denyut jantung janin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, dapat digunakan sebagai acuan terjadinya asfiksia neonatorum atau tanda bayi kekurangan oksigen setelah lahir.

Beberapa gejala asfiksia neonatorum yang dapat diamati pada saat bayi baru lahir antara lain:

  • Kulit yang pucat atau kebiru-biruan (sianosis)
  • Kesulitan bernapas, yang ditandai dengan napas cuping hidung atau pernapasan perut
  • Denyut nadi yang rendah
  • Detak jantung terlalu kuat atau lemah
  • Anggota badan kaku atau lemas (hiotonia)
  • Respons yang buruk terhadap stimulasi

Baca juga: Ini Napas Bayi Normal yang Harus Orangtua Ketahui

Semakin lama bayi tidak mendapatkan oksigen, gejala asfiksia akan semakin bertambah parah. Gejala yang parah dapat memicu kerusakan dari beberapa organ seperti paru-paru bayi, jantung, ginjal, dan otak. Kerusakan tersebut muncul secara langsung maupun tidak langsung.

Kerusakan yang terjadi secara langsung, yakni ketika sel yang kekurangan oksigen mengalami gangguan. Sementara itu, kerusakan yang muncul secara tidak langsung, yakni melalui efek radikal bebas dari sel yang kekurangan oksigen.

Penyebab asfiksia neonatorum

Seluruh proses yang menyebabkan terjadinya gangguan penyerapan oksigen oleh bayi dapat menyebabkan asfiksia neonatorum. Oleh karena itu, pada proses persalinan, dokter atau bidan harus memastikan bahwa kadar oksigen ibu dan bayi terpenuhi. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah bayi kekurangan oksigen selama persalinan dan selepas ia lahir.

Beberapa penyebab asfiksia neonatorum adalah:

  • Tersumbatnya jalan napas bayi
  • Ibu hamil mengalami anemia yang membuat darah tidak dapat membawa cukup oksigen
  • Proses persalinan berlangsung lama atau sulit
  • Ibu hamil tidak mendapatkan oksigen yang cukup sebelum atau selama persalinan
  • Ibu hamil memiliki tekanan darah yang terlalu tinggi atau rendah, saat persalinan berlangsung
  • Ibu dan/atau bayi mengalami infeksi
  • Plasenta lepas dari rahim terlalu cepat, yang mengakibatkan hilangnya oksigen
  • Bayi terlilit tali pusar atau tali pusar bayi berada di posisi yang tidak tepat
  • Infeksi

Baca juga: Bayi Lahir Tidak Menangis, Apakah Orang Tua Harus Khawatir?

Asphyxia neonatorum bisa terjadi hanya dalam hitungan menit, baik itu sebelum, saat, atau setelah proses persalinan. Hanya dalam hitungan menit itu pula, kerusakan organ bisa terjadi.

Bahkan, kerusakan juga dapat terjadi saat sel-sel sedang dalam tahap pemulihan dari asphyxia neonatorum. Pada fase ini, ada zat-zat beracun yang dilepaskan ke tubuh dan bisa berdampak negatif pada bayi.

Cara mendeteksi bayi kekurangan oksigen selepas lahir

Pada umumnya setelah bayi baru dilahirkan, dokter akan melakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring yang dinamakan skor Apgar. Pemeriksaan ini berlangsung pada lima menit pertama kelahiran.

Skor Apgar akan menunjukkan kondisi pernapasan, denyut nadi, keadaan umum, respons terhadap rangsangan, dan kontraksi otot bayi. Tiap variabel dari skor Apgar dinilai dengan angka 0 hingga 2 dengan skor tertinggi yakni 10.

Semakin rendah skor Apgar, maka risiko asfiksia akan semakin tinggi. Di mana bayi dengan skor Apgar 3 dan bertahan selama 5 menit, diduga kuat mengalami kondisi asfiksia.

Dokter juga bisa melakukan pemeriksaan darah bayi untuk mengetahui kadar asam dalam darah. Jika kadar asam cukup tinggi, artinya bayi tidak mendapat cukup oksigen. Apabila diperlukan, dokter juga akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menganalisis apakah jantung, ginjal, dan liver bayi terdampak.

Penanganan bayi kurang oksigen

Langkah penanganan terhadap bayi yang mengalami asphyxia neonatorum bergantung pada kondisinya. Jika terdeteksi sebelum persalinan, maka bantuan oksigen bisa diberikan kepada sang ibu lebih dulu. Alternatif lainnya adalah melakukan persalinan caesar segera untuk mengantisipasi asphyxia neonatorum sebelum jatuh pada keadaan gawat janin.

Sedangkan jika bayi sudah dilahirkan, tindakan resusitasi dilakukan untuk mengembalikan napas bayi yang mengalami kondisi asphyxia neonatorumTim medis akan melakukan berbagai langkah untuk menyelamatkan bayi, dengan cara memperlancar jalan napas, memberikan oksigen, serta memijat jantung.

Selain itu, dokter juga mungkin memberikan obat-obatan, serta memasang alat bantu napas melalui intubasi. Seluruh langkah tersebut dilakukan untuk mencegah asfiksia pada bayi memburuk.

Antisipasi adalah kunci terbaik untuk mencegah bayi kekurangan oksigen selepas lahir. Identifikasi faktor risiko ibu dan bayi selama masa kehamilan, akan membantu seluruh tenaga medis mempersiapkan tindakan yang diperlukan untuk mencegah, dan melakukan resusitasi bayi.

Jika Anda ingin berkonsultasi langsung pada dokter terkait asphyxia neonatorum, Anda bisa  langsung chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

menjaga kehamilankehamilanpersalinangawat janin

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved