Kekerasan Seksual pada Anak, Kenali Tandanya Jika Si Kecil Jadi Korban

Kekerasan seksual pada anak kerap luput dari perhatian orangtua
Anak yang mengalami kekerasan seksual cenderung menarik diri

Kekerasan seksual bisa dialami oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Dalam pemberitaan di media massa, begitu marak terjadi kasus kekerasan seksual pada anak. Akan tetapi, anak cenderung takut untuk melapor sehingga orangtua kerap tak menyadari hal yang memprihatinkan tersebut. Meski begitu, terdapat tanda-tanda kekerasan seksual pada anak yang dapat orangtua perhatikan.

Apa itu kekerasan seksual pada anak?

Kekerasan seksual pada anak adalah keterlibatan seorang anak dalam segala bentuk aktivitas seksual yang terjadi sebelum anak mencapai batas usia tertentu di mana orang dewasa, anak lain yang usianya lebih tua, atau orang yang dianggap memiliki pengetahuan lebih memanfaatkan anak tersebut untuk kesenangan seksual atau aktivitas seksual. 

Kekerasan seksual pada anak dilakukan dalam bentuk sodomi, pemerkosaan, pencabulan atau incest. Adapun aktivitas dalam kekerasan seksual yang dapat terjadi pada anak, yaitu:

  • Penetrasi, seperti pemerkosaan atau seks oral
  • Aktivitas seksual tanpa penetrasi, seperti menyentuh bagian luar pakaian, mencium, masturbasi
  • Menonton orang lain menonton tindakan seksual atau membuat anak menonton tindakan tersebut
  • Melihat, menunjukkan atau berbagai gambar, video, mainan atau materi seksual lain
  • Menceritakan lelucon atau cerita berbau pornografi
  • Memaksa atau membujuk anak membuka pakaian
  • Menunjukkan alat kelamin seseorang pada anak
  • Mendorong anak untuk berperilaku tidak pantas secara seksual

Baik anak laki-laki maupun anak perempuan dapat menjadi korban kekerasan seksual. Namun, anak perempuan lebih cenderung mengalaminya. Pelaku pelecehan seksual biasanya merupakan orang yang dikenal si anak.

Tanda-tanda kekerasan seksual pada anak

Anak-anak seringkali tak menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya karena berpikir bahwa itu merupakan kesalahannya atau telah diyakinkan oleh pelaku bahwa hal tersebut normal untuk dilakukan dan cukup menjadi rahasia saja. 

Selain itu, anak juga dapat disuap atau diancam oleh pelaku. Bahkan mungkin pelaku memberitahu si anak bahwa orang-orang tak akan memercayai apa yang dikatakannya. Hal tersebut  membuat anak khawatir akan berada dalam masalah sehingga memilih memendamnya. Akan tetapi, terdapat tanda-tanda yang bisa orangtua perhatikan bila anak menjadi korban kekerasan seksual, antara lain:

  • Berbicara tentang pelecehan seksual
  • Menunjukkan pengetahuan atau perilaku seksual yang melampaui usianya, aneh atau tak biasa
  • Menarik diri dari teman maupun orang lain
  • Menjauh dari orang tertentu
  • Melarikan diri dari rumah
  • Sulit berjalan atau duduk karena nyeri di area genital atau anal
  • Mengalami mimpi buruk
  • Sulit berkonsentrasi dan belajar
  • Nilai di sekolah menurun
  • Mengompol di celana padahal sebelumnya tidak pernah
  • Perubahan suasana hati dan nafsu makan
  • Hamil atau memiliki penyakit menular seksual

Kekerasan seksual pada anak bisa menyebabkan kerusakan fisik dan emosional yang serius baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, anak-anak dapat mengalami masalah kesehatan, seperti cedera fisik, infeksi menular seksual, dan kehamilan yang tak diinginkan.

Sementara, dalam jangka panjang korban kekerasan seksual lebih mungkin menderita depresi, kecemasan, gangguan makan, gangguan stres pasca trauma (PTSD), fobia pada hubungan seks atau terbiasa dengan kekerasan sebelum melakukan hubungan seks. Selain itu, ia juga lebih cenderung melukai diri sendiri, melakukan tindakan kriminal, penyalahgunaan narkoba atau alkohol, bahkan bunuh diri.

Mencegah kekerasan seksual pada anak

Orangtua harus bertanggung jawab untuk memastikan anak memiliki hubungan dan lingkungan yang aman dan stabil. Selain itu, pengasuhan orangtua juga harus dilakukan dengan baik, jangan sampai mengabaikan anak bahkan membiarkannya sendirian dengan orang yang mungkin saja dapat menjadi pelaku kekerasan seksual. Ingatlah bahwa orang terdekat juga bisa saja memiliki niatan yang buruk.

Sebisa mungkin selalu pantau anak, dan jalin komunikasi yang baik dengannya sehingga ia tak akan segan untuk membicarakan apa pun yang ia rasakan atau pikirkan. Bahkan anak juga akan lebih terbuka dan merasa diberi perlindungan oleh Anda.

Ketika Anda mencurigai anak mengalami kekerasan seksual, ajak anak untuk berbicara dan bujuklah ia untuk mengatakannya dengan jujur. Jika anak telah mengaku, segeralah melapor pada pihak yang berwajib dan bawa anak ke psikolog untuk mendapat pendampingan yang tepat. Beradalah selalu di sisinya dan beri dukungan yang tiada henti agar trauma anak bisa membaik.

Ejournal Kemsos. https://ejournal.kemsos.go.id/index.php/Sosioinforma/article/view/87/55
Diakses pada 04 Mei 2020
NHS UK. https://www.nhs.uk/live-well/healthy-body/spotting-signs-of-child-sexual-abuse/
Diakses pada 04 Mei 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/241532#sexual-abuse
Diakses pada 04 Mei 2020

Artikel Terkait