Kejang pada bayi baru lahir dapat menyebabkan cedera otak yang berujung pada kecacatan
Otak bayi baru lahir belum berkembang sempurna dan kejang pada bayi dapat menyebabkan cedera otak

Saat bayi mengalami kejang, artinya asupan oksigen dan aliran darah sempat tersumbat. Rupanya, penelitian dari University of Virginia mengungkap bahwa kejang dapat menimbulkan cedera otak bayi dan terasa dampaknya beberapa tahun kemudian.

Biasanya, kejang pada bayi terjadi karena tidak ada asupan oksigen pada pembuluh darah atau hypoxia-ischemia terjadi pada saat persalinan. Ini adalah pemicu terjadinya kecacatan hingga kematian pada bayi baru lahir.

Bagi bayi yang berhasil melewati kejang dengan baik, biasanya tidak ada yang berbeda pada dirinya hingga diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Barulah beberapa tahun kemudian, ada kemungkinan muncul masalah perilaku, kognitif, hingga kesulitan belajar.

Kejang dan pengaruhnya pada cedera otak bayi

Penelitian yang dilakukan tim Jennifer Burnsed, MD ini, menggunakan tikus sebagai binatang percobaan. Hingga kini, belum pernah ada penelitian tentang cedera otak bayi yang melibatkan bayi itu sendiri karena mustahil dilakukan.

Tim peneliti ini gerah dengan fakta bahwa kejang menjadi salah satu pemicu kematian atau cacat pada bayi. Jelas, mereka merasa ada kaitan erat antara kejang dan cedera otak bayi.

Hipotesis mereka, kondisi kejang dapat berdampak pada sirkuit-sirkuit tertentu pada otak sehingga ada perubahan permanen. Konsekuensinya, cedera otak bayi dapat terjadi dengan kronis.

Penelitian yang dilakukan tim dari University of Virginia ini akan terus berlangsung dalam jangka panjang. Mereka akan melihat bagaimana kejang saat bayi baru lahir akan berdampak pada masalah perilaku, kognitif, atau kesulitan beradaptasi dengan proses belajar saat mereka tumbuh besar.

Dari sini, tim dokter Burnsed sepakat untuk merancang terapi atau obat yang dapat memberi stimulus pada otak bayi. Harapannya, masalah yang baru muncul beberapa tahun kemudian setelah bayi tumbuh besar ini dapat sebisa mungkin dihindari.

Saat kejang, ini yang terjadi…

Perlu dibedakan bahwa konteks kejang dalam artikel ini adalah yang terjadi pada bayi baru lahir, bukan kejang pada anak-anak seperti yang mungkin terjadi ketika mereka demam.

Otak bayi baru lahir masih berkembang dan belum dapat mengeluarkan respons yang melibatkan koordinasi bagian tubuh mereka. Bahkan terkadang, kejang pada bayi baru lahir kerap dianggap sebagai refleks biasa pada bayi saat terkejut atau Moro Reflex.

Untuk lebih detilnya, beberapa contoh tanda kejang pada bayi di antaranya:

  • Mengangkat lengan atau kaki bergantian satu sisi kanan dan kiri (clonic seizures)
  • Tubuh bagian atas tiba-tiba maju ke depan (infantile spasms)
  • Kedua kaki naik ke arah perut dengan lutut menekuk (myoclonic seizures)
  • Tubuh bayi menegang dan kelopak mata berkedip cepat (tonic seizures)
  • Ada perubahan pada ekspresi wajah dan detak jantung bayi
  • Tidak dapat merespons suara dari sekitar (focal seizures)

Pertolongan pertama bayi kejang

Saat bayi mengalami kejang, artinya aliran darah dan oksigen ke otak terhambat. Biasanya, bayi baru lahir akan langsung mendapatkan perawatan seperti resusitasi untuk memancing pernapasan dan detak jantungnya. Selain itu, bayi juga terkadang perlu berada di ventilator untuk membantu pernapasan.

Lebih jauh lagi, mengingat kejang dapat menimbulkan cedera otak bayi, perawatan brain cooling atau hipotermia juga disebut ampuh mencegah cedera. Terapi ini perlu dilakukan sesegera mungkin pada jam-jam awal kehidupan bayi.

Selain itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua saat anak mereka – tak hanya bayi baru lahir – mengalami kejang yaitu dengan:

  • Membaringkan di permukaan lembut seperti kasur
  • Cegah tersedak dengan berbaring miring
  • Pastikan jalan napas anak bersih dari benda asing
  • Jangan letakkan apapun di mulut anak
  • Perlahan bersihkan air liur dengan kain lembut
  • Catat berapa lama kejang berlangsung

Otak bayi sangat sensitif terhadap kemungkinan kejang sejak lahir hingga usia 7 hari. Penyebab yang sangat sering terjadi selain tersumbatnya aliran darah dan oksigen ke otak adalah:

  • Lahir prematur atau ada pendarahan di otak (intracranial haemorrhage)
  • Kadar glukosa, kalsium, dan sodium terlalu rendah
  • Mengalami infeksi seperti meningitis
  • Terlahir dengan cacat pada otak seperti cerebral dysplasia

Sebisa mungkin, jangan panik ketika anak mengalami kejang. Tidak semua kejang dapat mengakibatkan cedera otak bayi.

Setiap detik sangat berharga, pastikan tidak menunda mengambil tindakan agar kejang tidak berdampak negatif bagi perkembangan otak anak di masa depan.

Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/when-your-childs-fever-leads-to-a-seizure-8-things-to-do-when-to-call-9-1-1/
Diakses 8 November 2019

Epilepsy Action. https://www.epilepsy.org.uk/info/children-young-adults/newborn
Diakses 8 November 2019

Epilepsy Foundation. https://www.epilepsy.com/learn/seizures-youth/about-newborns-and-infants/seizures-newborns
Diakses 8 November 2019

Science Daily. https://www.sciencedaily.com/releases/2019/10/191030150542.htm
Diakses 8 November 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed