Keguguran Berulang (Abortus Habitualis): Penyebab, Faktor Risiko, dan Cara Mencegahnya


Keguguran berulang atau abortus habitualis adalah keguguran yang terjadi sebanyak dua kali atau lebih. Penyebab abortus berulang adalah kelainan genetik, bentuk rahim yang abnormal, hingga penyakit autoimun.

(0)
Keguguran berulang adalah keguguran yang terjadi sebanyak dua kali atau lebihKeguguran berulang adalah adanya keguguran pada ibu hamil dengan jumlah dua kali atau lebih
Keguguran berulang atau abortus habitualis adalah keguguran yang terjadi sebanyak dua kali atau lebih secara berturut-turut sebelum usia kehamilan mencapai 20 hingga 24 minggu.Maka untuk mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi kehamilan ini, Anda harus mengetahui penyebabnya.

Penyebab keguguran berulang (abortus habitualis)

Riset yang diterbitkan dalam jurnal Nature Reviews Disease Primers memaparkan, jenis abortus ini terjadi pada 2,5 persen wanita.Beberapa hal yang dapat menyebabkan abortus berulang adalah:

1. Kelainan genetik

Banyak kasus keguguran berulang terjadi akibat kelainan kromosom
Banyak kasus keguguran berulang terjadi akibat kelainan kromosom
Sekitar 60% kasus keguguran yang berulang terjadi akibat jumlah kromosom abnormal. Normalnya, sel manusia terdapat 46 kromosom. Namun, kelainan genetik tertentu dapat menyebabkan kromosom berjumlah kurang dari itu atau justru lebih.Penyebab pasti dari kelainan genetik sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Tidak ada kondisi medis yang menjadi penyebabnya.Akan tetapi, kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita yang hamil di usia tua.

2. Penyakit autoimun

Risiko keguguran yang terjadi berulang dapat meningkat pada ibu yang memiliki penyakit autoimun disebut antiphospholipid. Bahkan, sebanyak 5 hingga 20 persen kasus ini terjadi akibat sindrom antiphospholipid.Penyakit ini membuat tubuh ibu memproduksi antibodi yang memicu penggumpalan darah pada pembuluh dalam plasenta. Adanya gumpalan dalam plasenta menyebabkan asupan oksigen dan nutrisi dari ibu tidak diterima oleh bayi, dan pada akhirnya berhenti sama sekali. Hal ini dapat menyebabkan janin kekurangan nutrisi dan meninggal di dalam kandungan.Penyakit autoimun adalah penyakit seumur hidup. Apabila tidak ditangani sejak sebelum kehamilan, efek yang diakibatkan oleh penyakit ini dapat memicu keguguran repetitif.

3. Masalah pada organ reproduksi

Kelainan rahim mampu meningkatkan risiko keguguran berulang
Kelainan rahim mampu meningkatkan risiko keguguran berulang
Sekitar 15% kasus abortus habitualis terjadi akibat masalah pada bentuk rahim abnormal yang menjadi bawaan lahir.Masalah struktur leher rahim dan/atau vagina akibat paparan obat dietilstilbestrol juga mampu meningkatkan risiko keguguran.Risiko juga mungkin meningkat pada wanita yang memiliki pertumbuhan jaringan abnormal pada rahim, seperti fibroid rahim, polip rahim, atau jaringan parut.Tumbuhnya jaringan parut pada rahim dapat menyebabkan sindrom Asherman yang membuat kedua sisi rahim menempel sehingga ukurannya mengecil.

4. Infeksi

Menurut studi dari Reviews in Obstetrics & Gynecology, penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, maupun parasit yang menyerang organ reproduksi dapat memicu keguguran repetitif.Beberapa penyebab infeksi yang umum tersebut adalah Listeria monocytogenes, Toxoplasma gondii, rubella, virus herpes simpleks (HSV), campak, cytomegalovirus, coxsackievirus, dan Chlamydia trachomatis.Selain itu, infeksi pada organ reproduksi wanita juga dapat disebabkan oleh:
  • Infeksi pada uterus, janin, atau plasenta
  • Kerusakan plasenta
  • Endometriosis (jaringan yang mirip dengan lapisan rahim tumbuh di ovarium atau tuba falopi)
  • Infeksi cairan ketuban (korioamnitis)
  • Infeksi akibat penggunaan IUD.

5. Masalah endokrin

Salah satu penyebab keguguran berulang adalah gangguan tiroid
Salah satu penyebab keguguran berulang adalah gangguan tiroid
Beberapa masalah endokrin yang dapat meningkatkan risiko wanita mengalami keguguran berulang adalah:
  • Diabetes, diabetes yang tak terkontrol meningkatkan risiko keguguran dan cacat lahir pada bayi.
  • Gangguan tiroid, seperti kelainan autoimun berupa antibodi antitiroid dan hipotiroid.
  • Cacat fase luteal, adanya kendala pada siklus menstruasi, yakni ovarium tidak melepaskan progesteron atau lapisan rahim tidak merespon hormon sehingga lapisan rahim tidak menebal untuk mempersiapkan kehamilan.
  • Sindrom ovarium polikistik (PCOS), hal ini terjadi adanya ovulasi tidak teratur, tidak ada ovulasi, meningkatnya hormon laki-laki (hiperandrogenisme), atau adanya kista pada ovarium. Oleh karena itu, mampu meningkatkan risiko abortus ini.

6. Obesitas

Bila indeks massa tubuh Anda lebih dari 30, Anda mungkin berisiko mengalami keguguran. Obesitas dapat mempengaruhi fungsi dan struktur endometrium untuk mempertahankan kehamilan, dan sebagai tambahan, wanita dengan obesitas memiliki lebih sedikit fase mid-luteal.Ketika Anda memiliki fase luteal yang pendek, tubuh tidak mengeluarkan cukup progesteron sehingga lapisan rahim tidak berkembang dengan baik. Ini menyulitkan sel telur yang telah dibuahi untuk tertanam dan menempel di dalam rahim. Jika Anda hamil setelah ovulasi, fase luteal pendek dapat menyebabkan keguguran dini.Terlebih pada dasarnya, obesitas juga berkaitan erat dengan masalah pada endokrin, seperti hipotiroidisme, diabetes, hingga PCOS yang dapat menghambat kesuburan maupun proses kehamilan.

7. Pola hidup tidak sehat

Merokok saat hamil membuat Anda lebih rentan mengalami abortus berulang
Merokok saat hamil membuat Anda lebih rentan mengalami abortus berulang
Penyebab keguguran berulang lainnya adalah bila Anda terbiasa mengonsumsi kafein dan alkohol saat hamil secara berlebihan. Di samping itu, ibu hamil yang merokok atau menjadi perokok pasif selama hamil juga rentan mengalami komplikasi kehamilan ini.Paparan berlebihan secara jangka panjang terhadap bahan kimia tertentu, obat-obatan, hingga radiasi rontgen selama hamil, juga dapat meningkatkan risiko keguguran.

8. Usia ibu di atas 35 tahun

Risiko keguguran akan meningkat bila Anda memiliki riwayat abortus habitualis. Namun, risiko ini kurang dari 50%.Bila usia ibu hamil di atas 35 tahun, hal ini akan menurunkan kualitas sel telur. Jadi, risiko kelainan kromosom yang dibawa dari ibu pun meningkat.

Gejala abortus berulang (abortus habitualis)

Sakit perut yang tak tertahankan saat hamil merupakan salah satu tanda abortus repetitif
Sakit perut yang tak tertahankan saat hamil merupakan salah satu tanda abortus repetitif
Selain mengalami 2 kali keguguran atau lebih, ciri-ciri keguguran yang berulang yang khas adalah:
  • Keluar darah dari vagina, baik berupa bercak maupun mengalir
  • Sakit punggung saat hamil yang tidak tertahankan
  • Berat badan turun
  • Keluar lendir berwarna putih bercampur merah muda dari vagina
  • Kontraksi yang menyakitkan setiap 5-20 menit padahal usia kehamilan belum cukup untuk kontraksi.
  • Keluarnya gumpalan jaringan dari vagina
  • Tanda-tanda hamil yang berkurang drastis.

Cara mencegah keguguran berulang (abortus habitualis)

USG mampu mendeteksi adanya kemungkinan keguguran berulang pada ibu hamil
USG mampu mendeteksi adanya kemungkinan keguguran berulang pada ibu hamil
Memang, ada beberapa penyebab keguguran berulang yang tidak bisa dihindari. Namun, tetap ada cara yang mampu mengurangi risiko ibu mengalami abortus habitualis, yaitu:
  • Rutin cek kandungan dengan USG dan hysterosalpingogram atau HSG
  • Mengecek penyakit autoimun
  • Menguji resistensi insulin atau masalah endokrin lainnya yang terkait kelenjar tiroid
  • Menguji DNA
  • Penelusuran riwayat pembekuan darah dari keluarga
  • Pengujian kromosom dari kedua orang tua.
Selain itu, Anda juga sangat disarankan untuk menerapkan pola hidup sehat dengan memenuhi asupan nutrisi selama kehamilan serta menghindari rokok, kafein, dan alkohol.

Catatan dari SehatQ

Keguguran berulang merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang mampu menggagalkan program hamil (promil) Anda.Memang, beberapa penyebabnya tidak dapat dihindari. Namun, bila Anda senantiasa menjaga kandungan dengan gaya hidup sehat dan menghindari paparan lingkungan yang berbahaya, risiko ini mungkin dapat diminimalisasi.Bila Anda ingin mengetahui lebih lanjut terkait abortus berulang dan komplikasi kehamilan lainnya, konsultasikan pada dokter kandungan atau chat gratis dengan dokter melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
menjaga kehamilanhamilkehamilantes kehamilankeguguranmasalah kehamilanpemeriksaan kehamilanibu hamilabortus
Nature Reviews Disease Primers. https://www.nature.com/articles/s41572-020-00228-z Diakses pada 2 April 2021Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/260495-overview Diakses pada 2 April 2021Washington University Physicians. https://fertility.wustl.edu/getting-started-infertility/multiple-miscarriages/ Diakses pada 2 April 2021Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/abnormal-uterus-and-miscarriage-risk-2371694 Diakses pada 2 April 2021Healthline. https://www.healthline.com/health/womens-health/asherman-syndrome Diakses pada 2 April 2021Reviews in Obstetrics & Gynecology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2709325/ Diakses pada 2 April 2021Web MD. https://www.webmd.com/infertility-and-reproduction/guide/luteal-phase-defect Diakses pada 2 April 2021BMC Pregnancy and Childbirth. https://bmcpregnancychildbirth.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12884-020-2740-6 Diakses pada 2 April 2021University of California, Los Angeles Obstetrics and Gynecology. https://www.uclahealth.org/obgyn/recurrent-pregnancy-loss Diakses pada 2 April 2021Family Doctor. https://familydoctor.org/condition/recurrent-pregnancy-loss/ Diakses pada 2 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait