Kecelakaan karena Jatuh pada Lansia Bisa Sebabkan 5 Hal Ini

Lansia paling sering mengalami kecelakaan karena terjatuh yang tentu saja ini membahayakan kesehatan mereka
Lansia paling sering mengalami kecelakaan karena terjatuh yang tentu saja membahayakan kesehatan mereka

Salah satu kecelakaan yang paling sering terjadi pada kaum lansia adalah kecelakaan karena jatuh. Meskipun merupakan hal yang sering terjadi, kecelakaan karena jatuh sering dianggap remeh. 

Kaum lansia dapat dengan mudah terjatuh di tangga, ruangan yang remang, lantai yang baru dipel atau licin, terdapat karpet yang tidak digelar dengan rapi di atas lantai, dan saat mencoba untuk meraih barang di lemari, dan sebagainya.

[[artikel-terkait]] 

5 Akibat kecelakaan pada lansia

Gangguan penglihatan dan kelemahan pada otot atau keseimbangan dapat menjadi penyebab kecelakaan karena jatuh. Respons yang lambat dan kesulitan untuk berkonsentrasi makin meningkatkan potensi kaum lansia mengalami kecelakaan karena jatuh.

Kecelakaan karena jatuh sekilas terlihat tidak serius, tetapi sebenarnya kecelakaan karena jatuh dapat mengakibatkan gangguan-gangguan yang serius. 

1. Hematoma epidural 

Saat terjatuh, hantaman antara kepala dan lantai dapat menyebabkan otak terbentur dengan tengkorak dan membuat beberapa sel otak, dinding otak, atau pembuluh darah di otak pecah. Tengkorak kepala adalah ruangan tertutup yang tidak mempunyai saluran keluar, sehingga perdarahan dalam tengkorak akan meningkatkan tekanan ke otak. 

Kerusakan tersebut menyebabkan pendarahan di antara lapisan pelindung di sekeliling otak dengan tengkorak. Jika tidak segera ditangani, pendarahan ini dapat menyebabkan kehilangan kesadaran dan bahkan kematian. 

Gejala hematoma epidural dapat muncul sesaat setelah terjatuh atau beberapa jam setelah kecelakaan terjadi. Gejala yang dapat dirasakan adalah kebingungan, kejang, pusing, mual, perubahan dalam bernapas, hilangnya penglihatan di satu sisi, dan muntah

Gejala lainnya adalah pupil yang membesar pada satu mata, sakit kepala yang parah, rasa ngantuk atau kehilangan kesadaran, dan kelemahan pada sebagian tubuh. Penderita juga dapat mengalami koma

2. Cedera saraf tulang belakang

Cedera saraf tulang belakang pada usia di atas 65 tahun seringkali dikarenakan terjatuh. Cedera saraf tulang belakang tidak dapat diobati dan mengakibatkan perubahan permanen bahkan kecacatan pada fungsi tubuh penderita. 

Penderita masih dapat menggerakkan dan merasakan beberapa bagian bawah tubuh, atau sama sekali tidak dapat menggerakkan dan merasakan bagian bawah tubuh. 

Selain tidak dapat menggerakkan dan merasakan bagian tubuh tertentu, cedera saraf tulang belakang akibat kecelakaan karena jatuh dapat membuat penderita kehilangan kendali buang air besar dan kecil, rasa sakit atau sensasi menyengat, serta perubahan pada fungsi seksual. 

Hal lain yang dapat dirasakan adalah refleks tubuh yang berlebih atau kejang, serta kesulitan untuk bernapas, batuk, dan mengeluarkan dahak dari paru-paru. 

3. Gegar otak

Kecelakaan karena jatuh dapat memicu gegar otak atau hilangnya fungsi normal otak secara sementara. Orang yang mengalami gegar otak tidak selalu kehilangan kesadarannya, tetapi gegar otak dapat membuat penderita menjadi linglung. 

Gegar otak berpengaruh pada memori, refleks, daya nalar, cara berbicara, koordinasi otot, dan keseimbangan tubuh. Tidak jarang penderita tidak dapat mengingat kejadian sebelum atau sesudah kecelakaan. Gegar otak bukanlah hal yang remeh dan harus ditangani dengan serius.

4. Keretakan tengkorak

Keretakan pada tengkorak disebabkan oleh adanya benturan kuat yang dapat meretakkan tengkorak, salah satunya adalah hantaman saat kecelakaan karena jatuh.

Beberapa gejala ringan yang dapat dialami adalah mual, penglihatan kabur, hilangnya keseimbangan, leher yang kaku, sakit kepala, muntah, gelisah, mudah marah, kebingungan, rasa kantuk yang berlebih, pingsan, dan pupil yang tidak bereaksi terhadap cahaya.

Sementara gejala berat yang dapat dialami adalah rasa sakit yang parah, pembengkakan, kemerahan, dan sensasi hangat di daerah yang terbentur, dan memar pada daerah yang cedera, di bawah mata, atau di belakang telinga.

Perdarahan dapat terjadi pada luka di dekat daerah yang cedera, di daerah cedera, atau di sekeliling mata, telinga, dan hidung. Perdaharan juga dapat timbul di kulit sebagai lebam.

5. Cedera aksonal difus (diffuse axonal injury)

Ketika kecelakaan karena jatuh terjadi, otak dapat bergerak secara cepat dan tiba-tiba dalam tengkorak yang menyebabkan jaringan otak putus. Cedera ini merupakan salah satu cedera otak paling umum dan yang paling parah. 

Jika cedera aksonal difus parah, maka penderita dapat kehilangan kesadaran selama enam jam atau lebih. Saat cedera tidak parah, penderita tetap sadar tetapi dapat mengalami beberapa gejala kerusakan otak. 

Beberapa gejala yang dapat dirasakan adalah sakit kepala, kesulitan tidur, mual atau muntah, kebingungan atau disorientasi, tidur lebih lama dari biasanya, pusing atau kehilangan keseimbangan, dan merasa lelah atau mengantuk.

Jangan remehkan kecelakaan pada lansia. Bawa orangtua Anda ke dokter sesegera mungkin setelah mereka terjatuh agar dapat segera mendapatkan penanganan.

American Association of Neurological Surgeons. https://www.aans.org/en/Patients/Neurosurgical-Conditions-and-Treatments/Concussion
Diakses pada 10 Mei 2019

Healthdirect. https://www.healthdirect.gov.au/what-causes-falls
Diakses pada 10 Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/diffuse-axonal-injury
Diakses pada 10 Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/skull-fracture
Diakses pada 10 Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/spinal-cord-injury/symptoms-causes/syc-20377890
Diakses pada 10 Mei 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320260.php
Diakses pada 10 Mei 2019

Medscape. https://reference.medscape.com/features/slideshow/falls-in-the-elderly
Diakses pada 10 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed