logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Lansia

Kenali Penyebab Lansia Jatuh, Bahaya, dan Cara Mencegahnya

open-summary

Kecelakaan pada lansia yang berbahaya salah satunya adalah jatuh. Kecelakaan karena jatuh sekilas terlihat tidak serius, tetapi sebenarnya kecelakaan karena jatuh dapat mengakibatkan gangguan-gangguan yang serius. 


close-summary

5

(2)

4 Jul 2019

| Anita Djie

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Lansia jatuh

Penyebab lansia jatuh biasanya karena gangguan keseimbangan tubuh akibat penuaan yang terjadi

Table of Content

  • Penyebab lansia jatuh
  • Bahaya lansia jatuh
  • Cara mencegah lansia jatuh
  • Catatan dari SehatQ

Salah satu kecelakaan yang paling sering terjadi pada kaum lansia adalah terjatuh. Walaupun sering terjadi, lansia jatuh sering dianggap remeh. Padahal, hal ini bisa membahayakan dirinya. 

Advertisement

Oleh sebab itu, penting bagi anggota keluarga maupun caregiver untuk mengetahui apa penyebab lansia jatuh dan bagaimana cara mengantisipasinya agar risiko jatuh pada lansia dapat diminimalisir. Simak informasi selengkapnya berikut ini. 

Penyebab lansia jatuh

Lansia dapat dengan mudah terjatuh di tangga, kamar mandi, ruangan yang remang, karpet yang tidak digelar dengan rapi di atas lantai, hingga saat mencoba untuk meraih barang di lemari dan sebagainya. 

Apa saja penyebab lansia jatuh?

1. Gangguan keseimbangan tubuh

Risiko jatuh pada lansia akan meningkat akibat adanya gangguan keseimbangan tubuh. Hal ini biasanya dialami oleh lansia yang menderita penyakit seperti Parkinson dan stroke.

Sejumlah kondisi lainnya seperti hipertensi, dehidrasi, dan gangguan pendengaran yang menyebabkan kepala pusing juga bisa berimbas pada terganggunya keseimbangan sehingga lansia mudah jatuh.

2. Otot tubuh melemah

Penyebab lansia jatuh selanjutnya adalah otot tubuh yang melemah. Ya, tidak bisa dipungkiri, seiring bertambahnya usia, otot-otot tubuh akan berkurang kekuatannya. Padahal, otot memiliki peran penting dalam menopang dan menunjang pergerakan tubuh.

Tak ayal, melemahnya otot tersebut membuat lansia kesulitan untuk bergerak, seperti saat berjalan, hingga akhirnya membuatnya sering terjatuh. Oleh sebab itu, sebaiknya anggota keluarga maupun caregiver yang merawat perlu untuk mendampinginya setiap beraktivitas. 

3. Gangguan penglihatan

Adanya gangguan penglihatan pada lansia seperti katarak dan glaukoma juga dapat meningkatkan risiko jatuh pada lansia. Penglihatan yang buruk akan membuat lansia kesulitan untuk melihat benda-benda di sekitarnya. Alhasil, lansia berpotensi menabrak atau menyenggol barang-barang tersebut hingga akhirnya terjatuh.

4. Hilang kesadaran

Lansia jatuh bisa karena ia tiba-tiba saja kehilangan kesadaran alias pingsan. Umumnya, kasus ini dialami oleh lansia yang mengalami masalah pada jantung, seperti:

  • Detak jantung cepat (takikardia)
  • Detak jantung lambat (bradikardia)
  • Detak jantung tidak teratur (fibrilasi atrium)

Baca Juga

  • Pertolongan Pertama Cedera Lutut, Apa yang Harus Dilakukan?
  • Waspadai Penyebab Tangan Tremor yang Bisa Jadi Gejala Parkinson
  • Cedera Kepala: Penyebab, Gejala, dan Cara Perawatannya

Bahaya lansia jatuh

Insiden jatuh pada lansia sekilas tampak tidak serius. Namun, sebenarnya lansia jatuh dapat mengakibatkan dirinya mengalami masalah serius di kemudian hari apabila hal ini terjadi berulang-ulang, seperti:

1. Hematoma epidural 

Akibat lansia jatuh, kepala akan menghantam lantai dan dapat menyebabkan otak terbentur dengan tengkorak. Ini bisa membuat beberapa sel otak, dinding otak, atau pembuluh darah di otak pecah. Tengkorak kepala adalah ruangan tertutup yang tidak mempunyai saluran keluar, sehingga perdarahan dalam tengkorak akan meningkatkan tekanan ke otak. 

Kerusakan tersebut menyebabkan perdarahan di antara lapisan pelindung di sekeliling otak dengan tengkorak. Jika tidak segera ditangani, perdarahan dapat menyebabkan kehilangan kesadaran dan bahkan kematian. Dalam dunia medis, kondis ini disebut sebagai hematoma epidural.

Gejala hematoma epidural dapat muncul sesaat setelah terjatuh atau beberapa jam setelah kecelakaan terjadi. Gejala yang dapat dirasakan adalah kebingungan, kejang, pusing, mual, perubahan dalam bernapas, hilangnya penglihatan di satu sisi, dan muntah

Gejala lainnya adalah pupil yang membesar pada satu mata, sakit kepala yang parah, rasa ngantuk atau kehilangan kesadaran, dan kelemahan pada sebagian tubuh. Penderita juga dapat mengalami koma

2. Cedera saraf tulang belakang

Cedera saraf tulang belakang pada usia di atas 65 tahun seringkali dikarenakan terjatuh. Cedera saraf tulang belakang tidak dapat diobati dan mengakibatkan perubahan permanen bahkan kecacatan pada fungsi tubuh penderita. 

Penderita masih dapat menggerakkan dan merasakan beberapa bagian bawah tubuh, atau sama sekali tidak dapat menggerakkan dan merasakan bagian bawah tubuh. 

Selain tidak dapat menggerakkan dan merasakan bagian tubuh tertentu, cedera saraf tulang belakang akibat kecelakaan karena jatuh dapat membuat penderita kehilangan kendali buang air besar dan kecil, rasa sakit atau sensasi menyengat, serta perubahan pada fungsi seksual. 

Hal lain yang dapat dirasakan adalah refleks tubuh yang berlebih atau kejang, serta kesulitan untuk bernapas, batuk, dan mengeluarkan dahak dari paru-paru. 

3. Gegar otak

Kecelakaan karena jatuh dapat memicu gegar otak atau hilangnya fungsi normal otak secara sementara. Orang yang mengalami gegar otak tidak selalu kehilangan kesadarannya, tetapi gegar otak dapat membuat penderita menjadi linglung. 

Gegar otak berpengaruh pada memori, refleks, daya nalar, cara berbicara, koordinasi otot, dan keseimbangan tubuh. Tidak jarang penderita tidak dapat mengingat kejadian sebelum atau sesudah kecelakaan. Gegar otak bukanlah hal yang remeh dan harus ditangani dengan serius.

4. Keretakan tengkorak

Keretakan pada tengkorak disebabkan oleh adanya benturan kuat yang dapat meretakkan tengkorak, salah satunya adalah hantaman saat kecelakaan karena jatuh.

Beberapa gejala ringan yang dapat dialami adalah mual, penglihatan kabur, hilangnya keseimbangan, leher yang kaku, sakit kepala, muntah, gelisah, mudah marah, kebingungan, rasa kantuk yang berlebih, pingsan, dan pupil yang tidak bereaksi terhadap cahaya.

Sementara gejala berat yang dapat dialami adalah rasa sakit yang parah, pembengkakan, kemerahan, dan sensasi hangat di daerah yang terbentur, dan memar pada daerah yang cedera, di bawah mata, atau di belakang telinga.

Perdarahan dapat terjadi pada luka di dekat daerah yang cedera, di daerah cedera, atau di sekeliling mata, telinga, dan hidung. Perdaharan juga dapat timbul di kulit sebagai lebam.

5. Cedera aksonal difus (diffuse axonal injury)

Ketika kecelakaan karena jatuh terjadi, otak dapat bergerak secara cepat dan tiba-tiba yang mana menyebabkan jaringan otak putus. Cedera ini merupakan salah satu cedera otak paling umum dan yang paling parah. 

Jika cedera aksonal difus parah, maka penderita dapat kehilangan kesadaran selama enam jam atau lebih. Saat cedera tidak parah, penderita tetap sadar tetapi dapat mengalami beberapa gejala kerusakan otak. 

Beberapa gejala yang dapat dirasakan adalah sakit kepala, kesulitan tidur, mual atau muntah, kebingungan atau disorientasi, tidur lebih lama dari biasanya, pusing atau kehilangan keseimbangan, dan merasa lelah atau mengantuk.

Jangan remehkan lansia yang jatuh. Bawa orangtua Anda ke dokter sesegera mungkin setelah mereka terjatuh agar dapat segera mendapatkan penanganan dan terhindar dari akibat lansia jatuh yang berbahaya tadi.

Cara mencegah lansia jatuh

Ada berbagai cara yang bisa Anda lakukan untuk melindungi lansia dari risiko terjatuh. Berikut ini sejumlah langkah pencegahan jatuh pada lansia:

1. Berkonsultasi dengan dokter

Berkonsultasi rutin dengan dokter bermanfaat bagi para lansia untuk mengetahui apa saja yang memicu lansia mudah terjatuh. Dokter biasanya akan menilai kondisi lansia dengan mengajukan beberapa pertanyaan umum, seperti:

  • Apakah pernah terjatuh sebelumnya?
  • Apakah penyebabnya berasal dari penyakit tertentu?
  • Adakah efek samping obat tertentu yang membuat mereka mudah terjatuh?
  • Apakah lansia perlu menggunakan tongkat atau berpegangan saat berjalan?
  • Apakah mereka merasa tubuhnya tidak stabil?

2. Pahami rutinitas lansia

Supaya bisa meminimalisir risiko jatuh pada lansia, Anda juga perlu memahami kegiatan sehari-harinya. Kenali dan catat apa saja yang bisa memicu lansia jatuh, mulai dari bangun pagi hingga kembali tidur di malam hari.

Anda perlu mengetahui perabot apa saja di rumah yang membuat lansia sering tersandung, obat-obatan yang mengganggu koordinasi tubuhnya, serta bahaya lain yang ada di sekitar tempat tinggal lansia.

3. Jauhkan lansia dari jangkauan barang-barang berbahaya yang ada di rumah

Bahaya lebih rentan terjadi di area dapur, ruang tamu, kamar mandi, tangga, dan lorong rumah. Bahaya ini bisa berasal dari perabotan, tata letak, bahkan kebersihan rumah Anda.

Anda bisa mencegah lansia agar tidak terjatuh dengan cara menyingkirkan sumber bahaya di rumah. Berikut caranya:

  • Pindahkan meja kecil, rak, atau tanaman dari tempat yang sering dilewati
  • Simpan tumpukan pakaian, makanan, perabot makan, dan peralatan lain yang sering digunakan dalam tempat yang mudah diraih
  • Segera bersihkan semua tumpahan air, minyak, serta remah makanan
  • Rapikan kumpulan kotak, tumpukan koran, serta kabel yang menghalangi jalan
  • Perbaiki lantai dan karpet yang rusak atau mencuat
  • Singkirkan karpet yang tidak diperlukan

4. Gunakan peralatan pengaman

Menyediakan peralatan pengaman bisa membantu Anda mencegah lansia agar tidak mudah terjatuh di rumah. Buatlah lingkungan tempat tinggal lansia seaman dan senyaman mungkin dengan memasang peralatan berikut:

  • Memasang pegangan tangan pada kedua sisi tangga
  • Menyediakan dudukan toilet khusus dengan penyangga lengan
  • Alas antilicin di bawah pancuran air dan lantai kamar mandi yang sering dipijak
  • Tempat duduk khusus di kamar mandi agar lansia bisa mandi sambil duduk
  • Pegangan di sekitar pancuran air atau bak mandi

5. Upayakan rumah Anda memiliki cahaya yang cukup

Menyingkirkan bahaya terlihat saja terkadang tidak cukup untuk mencegah lansia agar tidak terjatuh. Mereka sering kali tidak fokus dan tidak menyadari adanya bahaya karena menurunnya kemampuan penglihatan.

Pastikan tempat tinggal lansia memiliki pencahayaan cukup dengan memasangkan lampu di kamar tidur, kamar mandi, serta lorong rumah. Tombol lampu pun juga harus bisa dicapai dengan mudah, dan selalu siapkan lampu senter yang mudah dijangkau untuk keadaan darurat.

Catatan dari SehatQ

Lansia jatuh disebabkan oleh hal-hal yang terkait dengan penurunan fungsi tubuhnya seiring penuaan yang terjadi. Pastikan Anda maupun caregiver yang menangani lansia selalu mendampingi di setiap kegiatan yang dilakukan.

Punya pertanyaan seputar kesehatan lansia lainnya? Jangan ragu untuk chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SwehatQ. Download aplikasi SehatQ sekarang juga di App Store dan Google Play. Gratis! 

Advertisement

lansiacederacedera fisikgangguan lansiakesehatan lansia

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved