Kecanduan Belanja dan Kaitannya dengan Gangguan Kepribadian Ambang

Wanita sembilan kali lebih berisiko memiliki perilaku gangguan belanja kompulsif
Biasanya, penderita compulsive buying disorder tidak bisa mengontrol keinginan untuk membeli pakaian, aksesoris, dan sepatu.

Mungkin Anda merasa memiliki kemiripan dengan karakter Rebecca Bloomwood, di film terkenal Confession of A Shopaholic. Film hasil adaptasi novel tersebut menceritakan, Rebecca memiliki mengalami kecanduan belanja, sebagai salah satu perilaku dalam gangguan kepribadian ambang.

Jika Anda memiliki perilaku serupa, berhati-hatilah. Sebab, ketidakmampuan untuk mengontrol nafsu belanja, bisa mengarah pada gangguan mental. Kondisi ini disebut sebagai gangguan belanja kompulsif atau compulsive buying disorder.

[[artikel-terkait]]

Mengenal gangguan belanja kompulsif

Compulsive buying disorder memiliki nama lain pathological buying atau monomania, yang didefinisikan sebagai perilaku belanja yang tidak bijak, mengganggu dan acapkali tidak tertahankan. Barang-barang yang menjadi objek sasaran penderita gangguan ini umumnya baju dan pakaian, sepatu, perhiasan serta perangkat rumah tangga, terutama peralatan dapur dan makan.

Umumnya, penderita monomania juga tidak dapat menolak tawaran diskon. Perkembangan teknologi dengan kehadiran online shop, juga memicu orang-orang menjadi kecanduan belanja. Saat berbelanja, penderita monomania memang biasanya lebih suka berbelanja sendiri atau membeli barang secara online.

Gangguan oniomania atau compulsive buying disorder merupakan gangguan yang nyata. Penderitanya akan sangat sulit menahan diri dari keinginan untuk berbelanja pakaian, alat rumah tangga, atau barang lain yang sebenarnya tidak diperlukan. Perilaku ini juga bisa berdampak pada hubungan Anda dengan orang-orang terdekat, termasuk keluarga.

Karakteristik penderita gangguan belanja kompulsif

Para penderita gangguan kondisi mental oniomania sering mengalami perasaan yang gembira, sesaat setelah berbelanja. Namun, barang sudah berada di tangan mereka, rasa senang dan gembira tersebut akan hilang. Penderita juga akan merasa hampa dan depresi, seiring hilangnya rasa gembira tersebut.

Selain perubahan suasana hati di atas, terdapat beberapa ciri atau karakteristik dari penderita gangguan belanja kompulsif ini. Ciri-ciri tersebut meliputi:

  • Sibuk belanja baju, pakaian atau barang lain yang tidak diperlukan
  • Menghabiskan sebagian besar waktu untuk mencari barang-barang yang diinginkan
  • Kesulitan menahan keinginan membeli barang yang tidak dibutuhkan
  • Mengalami masalah keuangan, karena belanja yang tidak terkendali
  • Memiliki masalah di rumah maupun tempat kerja, karena perilaku kecanduan berbelanja

Siapa yang berisiko menderita gangguan belanja kompulsif?

Baik pria maupun wanita, bisa terkena gangguan kecanduan belanja ini. Namun, wanita sembilan kali lebih berisiko untuk menderita oniomania.

Terkait dengan usia, kasus-kasus gangguan belanja kompulsif biasanya terjadi pada saat seseorang memasuki masa dewasa. Gangguan ini jarang ditemukan untuk pertama kalinya, untuk individu berusia 30 tahun ke atas. 

Beberapa gangguan mental lain juga berhubungan dengan oniomania. Misalnya, penderita oniomania terkadang juga memiliki gejala masalah suasana hati, seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Selain itu, sebuah studi terbaru yang melibatkan sejumlah penderita compulsive buying disorder sebagai responden, menemukan bahwa, sebagian dari mereka juga memiliki gejala gangguan obsesif-kompulsif dan gangguan kepribadian ambang.

Cara mengatasi gangguan belanja kompulsif

Berkonsultasi dengan ahli kejiwaan merupakan langkah utama jika Anda merasa memiliki kondisi ini. Walau masih diperlukan penelitian lebih lanjut, ditemukan beberapa bukti, bahwa gangguan belanja kompulsif, bisa diatasi dengan obat antidepresan Selective Serotonin Re-uptake Inhibitors atau SSRIs.

Terapi perilaku kognitif atau CBT juga mungkin efektif untuk menangani gangguan belanja kompulsif. Menyangkut masalah keuangan, Anda juga disarankan untuk mencari bantuan dari perencana finansial.

Terlebih jika Anda mulai merasa uang yang dikeluarkan, jauh lebih besar daripada pendapatan Anda. Langkah yang mungkin bisa diambil misalnya, dengan menyimpan uang Anda di tabungan berjangka.

Mental Help. https://www.mentalhelp.net/blogs/are-you-a-compulsive-shopper/
Diakses pada 17 Mei 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4117286/
Diakses pada 17 Mei 2019

Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-compulsive-shopping-disorder-2510592
Diakses pada 17 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed