logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Bayi & Menyusui

Bayi Obesitas, Kenali Penyebab, Bahaya, dan Pencegahannya

open-summary

Bayi obestas adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Penyebabnya bisa jadi dari kondisi kesehatan ibu, faktor genetik, asupan makanan yang terbukti mengandung gula yang tinggi.


close-summary

29 Mar 2021

| Larastining Retno Wulandari

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Bayi obesitas harus diatasi dengan pemberian pola makan yang sehat

Bayi obesitas bisa diatasi dengan pola makan yang sehat

Table of Content

  • Berat badan bayi obesitas
  • Penyebab bayi obesitas
  • Bahaya obesitas pada bayi
  • Ciri-ciri bayi obesitas
  • Cara mencegah bayi obesitas
  • Cara mengatasi bayi obesitas
  • Catatan dari SehatQ

Bayi obesitas adalah salah satu kerisauan orang tua yang perlu diperhatikan. 

Advertisement

Perlu diketahui, sebelum ragu apakah bayi obesitas karena ASI mungkin terjadi atau tidak, pertambahan berat badan bayi hingga usia 1 tahun memang sangat pesat.

Bahkan, ketika Anda mengamati pertumbuhan dan perkembangan bayi, ia bisa memiliki berat badan 2 kali lipat beratnya saat lahir ketika berusia 6 bulan. Ketika merayakan ulang tahun pertamanya pun, berat badan lahirnya sudah bisa mencapai 3 kali lipat.

Berat badan bayi obesitas

Berat badan bayi obesitas adalah 4 kg pada bayi baru lahir
Berat badan bayi obesitas adalah 4 kg pada bayi baru lahir

Lantas, berapa berat badan bayi yang dikatakan obesitas? Berat badan bayi obesitas pada waktu lahir adalah di atas 4 kg.

Pada bayi di bawah 3 bulan, berat badan normalnya adalah 4,2 sampai dengan 6,4 kg.

Pada bayi 4-6 bulan, berat badan idealnya adalah 6,4 kg sampai dengan 7,9 kg. Berat badan ideal bayi 7-9 bulan adalah 7,6 kg sampai dengan 8,9 kg.

Berat badan bayi yang normal pada usia 10-12 bulan adalah 8,5 kg sampai dengan 9,6 kg.

Penyebab bayi obesitas

Meski demikian, tetap saja ada kemungkinan bayi memiliki kelebihan berat badan.

Dari sinilah para pakar dari Harvard University sepakat bahwa bayi yang obesitas pada 2 tahun pertama usia ia lebih berisiko mengalami masalah kesehatan.

Bahkan, ini bisa terjadi hingga ketika ia tumbuh dewasa.

Itulah mengapa, penting bagi orangtua untuk selalu memantau pertumbuhan berat badan dan tinggi badan bayi sesuai usianya. Sesuaikan juga dengan titik kurva saat baru lahir.

Beberapa hal yang bisa menjadi pemicu sekaligus cara agar bayi tidak obesitas adalah:

1. Ibu alami diabetes gestasional

Diabetes gestasional meningkatkan risiko bayi obesitas
Diabetes gestasional meningkatkan risiko bayi obesitas

Bahkan sebelum hadir ke dunia, berat badan bayi berkaitan erat dengan kondisi kesehatan ibunya.

Berapa berat badan ibu sebelum hamil, riwayat kebiasaan buruk seperti merokok, hingga menderita diabetes gestasional merupakan faktor risiko bayi kelebihan berat badan.

2. Metode persalinan

Sebuah penelitian pada tahun 2019 di New Zealand terbitan Journal of Epidemiology and Community Health menemukan bahwa bayi yang terlahir dengan cara C-section atau operasi caesar lebih rentan obesitas pada bayi usia 0-6 bulan.

Alasannya karena bakteri dalam pencernaannya berbeda dengan bayi yang terlahir secara spontan atau normal lewat vagina.

Namun, perlu diingat bahwa metode persalinan ini bukan satu-satunya penyebab obesitas pada bayi usia 0-6 bulan.

3. Konsumsi susu formula berlebih

Susu formula memicu bayi obesitas karena berisiko pemberian berlebihan sampai susunya habis dari botol
Susu formula memicu bayi obesitas karena berisiko pemberian berlebihan sampai susunya habis dari botol

Kemungkinan bayi obesitas akibat pemberian ASI lebih rendah dibandingkan dengan yang mendapat susu formula, berdasarkan sebuah studi tahun 2016 dari Amerika Serikat terbitan Pediatrics.

Artinya, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif berat badannya cenderung naik lebih perlahan dibandingkan dengan susu formula atau keduanya. 

Baca Juga

  • Cara Melatih Anak Berbicara Sesuai Umurnya dari 1-12 Bulan
  • Bayi Sering Bersin, Normal Atau Pertanda Sedang Sakit?
  • Salep Gatal untuk Bayi, Apa Saja Rekomendasinya yang Aman?

Beberapa alasan susu formula lebih berisiko menyebabkan obesitas pada bayi usia 0-6 bulan adalah:

  • Kemungkinan overfeeding susu formula lebih besar
  • Ada kecenderungan menghabiskan susu di botol meski bayi sudah kenyang
  • Orang tua atau pengasuh memberikan susu formula sesuai jadwal, bukan sinyal rasa lapar bayi.

Lantas, bagaimana dengan bayi obesitas karena ASI? Pemberian ASI langsung dari payudara justru menurunkan risiko obesitas pada bayi usia 0-6 bulan.

4. Pilihan cemilan tinggi gula

Bayi yang sudah berusia di atas 6 bulan sudah mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI atau MPASI. Untuk camilan, sebisa mungkin hindari yang mengandung gula atau diproses berlebihan. Akan jauh lebih baik memberikan camilan whole grain, buah, atau sayuran.

5. Ibu obesitas saat hamil

Bayi obesitas bisa disebabkan akibat kenaikan berat badan ibu yang drastis
Bayi obesitas bisa disebabkan akibat kenaikan berat badan ibu yang drastis

Bayi obesitas juga bisa terjadi akibat ibu hamil mengalami obesitas. Menurut The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), ibu hamil obesitas atau mengalami kenaikan badan berlebih meningkatkan risiko bayi mengalami makrosomia, yaitu bayi yang lahir lebih dari 4 kg. 

Bayi yang lahir cukup besar memiliki lemak yang terlalu banyak sehingga meningkatkan risiko obesitas saat ia bertumbuh kembang.

Untuk itu, ibu hamil juga penting untuk mengontrol kenaikan berat badan.

6. Faktor keturunan

Bayi obesitas ternyata bisa disebabkan faktor genetik yang dibawa oleh salah satu atau kedua orang tua.

Bahkan, Obesity Medicine Association menyatakan bahwa genetik memengaruhi kasus obesitas sebanyak 40 hingga 70 persen. Gen ini akan memengaruhi rasa lapar hingga kadar lemak dalam tubuh.

Bahaya obesitas pada bayi

Risiko obesitas pada bayi adalah hipertensi saat dewasa
Risiko obesitas pada bayi adalah hipertensi saat dewasa

Beberapa bahaya yang bisa mengancam bayi obesitas adalah:

  • Tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi, hal ini berisiko menyebabkan penyakit jantung
  • Meningkatkan risiko diabetes, sebab tubuh tidak merespon hormon insulin yang mengatur gula darah pada tubuh. Selain itu glukosa juga tidak bisa diubah ke dalam bentuk energi
  • Masalah pernapasan, seperti asma dan napas berhenti mendadak saat tidur (sleep apnea)
  • Nyeri sendi dan rasa tidak nyaman pada otot dan tulang
  • Organ liver berlemak, batu empedu, asam lambung mudah naik (GERD).

Ciri-ciri bayi obesitas

Bayi obesitas kerap kali tidur tidak nyenyak
Bayi obesitas kerap kali tidur tidak nyenyak

Beberapa tanda obesitas pada bayi usia 0-6 bulan adalah:

1. Lipatan kulit banyak ditemukan di tubuh

Memang, tubuh bayi terkesan berlipat-lipat. Namun, waspadai jika kulit bayi yang berlipat terlihat. Lipatan tebal tersebut adalah tumpukan lemak.

2. Berat badan bayi bertambah terlalu cepat

Berat badan bayi biasanya diamati dengan kurva pertumbuhan. Bila kurva terlihat naik drastis, hal ini bisa menjadi pertanda bahwa bayi obesitas.

3. Kualitas tidur bayi berkurang

Biasanya, obesitas pada bayi usia 0-6 bulan cenderung sering terbangun saat tidur atau susah tidur.

Hal ini dikarenakan obesitas memengaruhi metabolisme dan siklus bangun dan tidur bayi sehingga kualitas tidur pun menurun.

4. Perubahan bentuk bagian tubuh tertentu

Tanda bayi obesitas juga bisa ditunjukkan dari ukuran penis yang terlihat mengecil dan memendek.

Sebab, ada lapisan lemak di bawah batang penis yang "menyelimuti". Jadi, penis terlihat kecil.

Sementara, pada perempuan, obesitas pada bayi usia 0-6 bulan  biasanya ditunjukkan dengan bertumbuhnya jaringan pada payudara sehingga terlihat lebih besar.

Cara mencegah bayi obesitas

Olahraga saat hamil mencegah pertambahan berat badan berlebih penyebab bayi obesitas
Olahraga saat hamil mencegah pertambahan berat badan berlebih penyebab bayi obesitas

Agar bayi tidak obesitas, beberapa cara yang bisa Anda lakukan adalah:

1. Memulai hidup sehat sejak hamil

Ibu harus menjalankan gaya hidup sehat serta pola makan seimbang agar tidak mengalami kelebihan berat badan saat hamil.

Tinggalkan kebiasaan buruk seperti merokok atau mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula.

Ibu hamil juga perlu selalu melakukan pemeriksaan antenatal care secara berkala setiap bulannya untuk memantau pertambahan berat badannya.

Jangan lupakan pentingnya olahraga saat hamil yang bisa membantu menjaga berat badan sekaligus kebugaran tubuh.

2. Memilih persalinan pervaginam bila memungkinkan

Apabila persalinan secara normal masih memungkinkan, ini bisa dipilih sebagai alternatif dari persalinan caesar.

Namun, bukan berarti C-section adalah metode persalinan yang lebih berisiko. Baik normal maupun caesar sama-sama baik, asalkan ibu hamil selalu mendiskusikan risikonya dengan dokter.

3. Kenali tanda bayi kenyang dan beri susu secukupnya

Sebenarnya tidak ada yang salah antara memberikan ASI atau susu formula, maupun keduanya. 

Namun, bagi bayi yang mendapat susu formula sebaiknya selalu perhatikan sinyal rasa lapar dan kenyang mereka dan jangan selalu memberikan susu sesuai jadwal.

Takaran pemberian susu formula harus tepat agar tidak berlebihan. Apabila diperlukan, orangtua juga bisa berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter untuk tahu komposisi dan kandungan yang paling tepat.

4. Hindari pemberian MPASI terlalu cepat

Terdapat riset membuktikan bahwa memberikan makanan padat sebelum usia 4 bulan mampu meningkatkan risiko bayi obesitas di umur 3 tahun. Untuk itu, mulai berikan MPASI pada bayi 6 bulan.

Cara mengatasi bayi obesitas

Tummy time membantu memenuhi aktivitas fisik bayi agar tidak obesitas
Tummy time membantu memenuhi aktivitas fisik bayi agar tidak obesitas

Beberapa hal yang bisa Anda lakukan pada obesitas pada bayi usia 0-6 bulan adalah:

1. Ajak aktif bergerak

Bergerak ternyata mampu membakar kalori agar tidak bertumpuk menjadi lemak. Pastikan anak beraktivitas fisik setidaknya 60 menit sehari.

Tidak perlu 60 menit nonstop, Anda bisa membaginya ke dalam 5 atau 10 menit. Aktivitas fisik ini bisa dilakukan dengan berlatih tummy time, belajar berjalan, dan merangkak.

2. Kurangi menonton TV atau dari gadget lainnya

Saat mereka menonton TV atau berada di depan gawai, hal ini membuat aktivitas fisiknya berkurang, mereka hanya duduk atau berbaring.

Disarankan agar anak-anak tidak menggunakan gawai atau menonton televisi tidak lebih dari 2 jam sehari.

3. Pastikan tidur cukup

Rupanya, bayi yang kurang tidur cenderung mengalami kelebihan berat badan.

Untuk itu, matikan gawai dan simpan hal-hal yang mampu mengalihkan perhatiannya di malam hari agar jumlah tidurnya mencukupi.

4. Hindari makanan tinggi gula

Bila bayi sudah mengonsumsi MPASI, sebaiknya berikan buah-buahan dan sayur segar di setiap porsi makannya.

Sebab, sayur dan buah segar kaya akan vitamin dan mineral yang baik untuk kesehatan tubuhnya.

Bila Anda ingin memberikan kacang-kacangan, jus, atau smoothie, pastika Anda menghitungnya sebagai satu porsi makan, bukan cemilan belaka. Total asupan buah, sayuran, jus, atau smoothie tidak boleh lebih dari 150 ml per hari.

Selain itu, kurangi pemberian kue, permen, sereal manis, dan minuman tinggi gula.

5. Batasi waktu pemberian cemilan

Selain mengatur betul apa saja pilihan camilan yang dikonsumsi si kecil, pastikan juga hanya memberikan cemilan pada waktu tertentu.

Anda juga bisa membentuk kebiasaan bahwa snack hanya akan diberikan saat sedang berada di kursi makan saja.

Agar tidak kewalahan dan akhirnya memilih memberikan cemilan kurang sehat, Anda juga bisa merancang apa saja resep MPASI yang akan dibuat secara berkala.

6. Beri porsi makan secukupnya

Konsultasikan dengan dokter anak terkait porsi makan yang tepat. Hindari memberikan porsi makan besar, berikan sesuai kebutuhannya.

Coba hentikan makanan bila Si Kecil sudah kenyang. Anda tidak perlu menghabiskan semua makanan yang ada di mangkuknya.

Hindari menggunakan piring ukuran dewasa agar porsi makannya terjaga.

Anda juga bisa mengatur waktu makannya agar tidak berlebihan.

Catatan dari SehatQ

Ketika berbicara tentang berat badan anak, ini bisa menjadi isu sensitif bagi orangtua. Belum lagi komentar dari orang-orang di sekitar. 

Tapi tetap ingat satu hal, bahwa anak yang “tampak” kurus maupun gemuk bukan berarti bisa langsung dianggap demikian.

Perlu diketahui, bayi yang gemuk tidak sepenuhnya menunjukkan obesitas. Untuk mengukurnya dengan akurat, Anda perlu mengukur berdasarkan grafik berat dan panjang badannya berdasarkan rekomendasi WHO.

Apabila terdeteksi kecenderungan bayi obesitas, orang tua pun bisa merancang cara untuk mengurangi pemicu sekaligus mencegahnya agar kembali berada di berat badan ideal.

Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar risiko bayi obesitas, masalah gizi pada bayi, atau penyakit pada bayi lainnya, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

bayi & menyusuiibu dan anakbayitumbuh kembang bayimerawat bayiberat badan bayi

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved