Sebenarnya, Apa Saja Penyebab Disfungsi Ereksi dan Obatnya?

Disfungsi seksual bisa dipicu oleh obesitas dan hipertensi
Hipertensi dan obesitas menjadi faktor risiko terhadap disfungsi seksual.

Disfungsi seksual atau impotensi adalah ketidakmampuan untuk mencapai dan mempertahankan ereksi cukup kuat, pada saat berhubungan seksual. Memiliki gangguan ereksi dari waktu ke waktu, mungkin tidak dapat menyebabkan masalah khusus.

Namun jika terjadi secara berkelanjutan, ereksi bisa berdampak pada kepercayaan diri pria. Bahkan, kondisi ini bisa memicu timbulnya stres.

[[artikel-terkait]]

Penyakit-penyakit yang menyebabkan disfungsi seksual

Disfungsi ereksi dapat merupakan suatu tanda bahwa seorang pria memiliki penyakit yang mendasari yang membutuhkan terapi. Kondisi ini merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung.

Kadangkala, mengobati penyakit yang mendasari disfungsi seksual, dapat membantu mengembalikan fungsi ereksi seperti normal. Namun, kadangkala beberapa pengobatan dibutuhkan, untuk membantu menyembuhkan disfungsi ereksi.

Pada dasarnya, disfungsi ereksi disebabkan oleh gangguan pada aliran darah, rangsangan saraf, dan hormon. Beberapa penyakit, gangguan fisik, dan kebiasaan bawah ini, dapat menyebabkan timbulnya disfungsi seksual.

  • Penyakit jantung dan penyempitan pembuluh darah
  • Diabetes
  • Hipertensi
  • Hiperkolesterolemia (kadar kolesterol tinggi)
  • Obesitas dan sindrom metabolik
  • Penyakit Parkinson dan multiple sclerosis
  • Gangguan hormon, seperti tiroid dan kekurangan hormon testosteron
  • Gangguan anatomis pada penis, seperti Peyronie
  • Konsumsi alkohol, rokok, dan obat-obatan terlarang
  • Operasi dan pengobatan penyakit prostat
  • Trauma pada daerah panggul atau sumsum tulang belakang
  • Radiasi pada daerah panggul
  • Beberapa obat-obatan seperti diuretik, digoxin, obat tidur, dan kemoterapi

Gangguan fisik berkontribusi 90% terhadap terjadinya disfungsi ereksi. Namun pada kasus tertentu, gangguan psikologis dapat menyebabkan terjadinya disfungsi ereksi.

Beberapa faktor psikologis yang dapat menimbulkan disfungsi ereksi antara lain rasa bersalah, depresi, gangguan cemas, dan ketakutan menjalin hubungan yang intim.

Perlu diingat juga, kombinasi kedua faktor tersebut dapat menyebabkan terjadinya disfungsi ereksi. Contohnya pada kasus obesitas, ketika muncul gangguan pembuluh darah dan dapat menyebabkan kecemasan, karena memiliki percaya diri yang rendah.

Beberapa gejala yang dapat menyertai disfungsi ereksi antara lain adalah ketidakmampuan melakukan ejakulasi, hilangnya libido, dan timbulnya gangguan emosional seperti rasa malu dan cemas.

Pengobatan disfungsi ereksi

Kabar baiknya, ada beberapa pilihan terapi untuk disfungsi ereksi, sebagai berikut.

1. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan inhibitor PDE-5 (phosphodiesterase-5)

Obat-batan golongan dapat digunakan untuk mengatasi disfungsi ereksi. Obat ini diminum 30-60 menit sebelum melakukan hubungan badan. Perlu diingat, obat-obatan ini membutuhkan resep dari dokter, karena efek samping dan kontra indikasi penggunaannya. Selalu konsultasikan ke dokter mengenai penyakit yang Anda derita, sebelum menggunakan obat-obatan golongan PDE-5.

2. Alat vakum

Alat ini bekerja secara mekanis, untuk membantu terjadinya ereksi. Vakum digunakan pada orang-orang yang tidak dapat atau tidak mau mengonsumsi obat-obatan.

3. Pembedahan

Tindakan pembedahan seperti implan penis dan pembedahan vaskular (pembuluh darah), bisa menjadi pilihan. Pembedahan merupakan jalan terakhir, apabila obat-obatan dan tindakan lainnya tidak dapat mengatasi disfungsi ereksi.

Untuk setiap kondisi yang dirasakan sebagai disfungsi ereksi, ada baiknya Anda berkonsultasi dengan dokter. Jadi, Anda bisa mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan, yang sesuai dengan kondisi diri sendiri.

Artikel Terkait

Banner Telemed