Kebiasaan Memberi Makan Anak yang Harus Anda Tinggalkan di Tahun 2019

Kebiasaan anak susah makan berkaitan dengan perilaku, kebiasaan, interaksi, dan perasaan
Kebiasaan memberi makan anak berperan penting dalam memenuhi kebutuhan gizi

Memiliki anak susah makan memang selalu memberikan tantangan tersendiri bagi para orangtua. Anda tentu ingin anak-anak Anda makan makanan yang lebih sehat dan bergizi. Berikut adalah ulasan mengenai kebiasaan memberi makan anak yang harus Anda hindari mulai saat ini di tahun 2019, serta cara yang seharusnya Anda lakukan.

Perlu dipahami, mencari solusi untuk anak susah makan bukan dengan mencari menu atau resep masakan yang enak dan disukai anak-anak. Pasalnya, membiasakan anak-anak untuk makan dengan benar sebenarnya tidak ada hubungannya dengan menu makanan itu sendiri. Kebiasaan anak susah makan ini erat kaitannya dengan perilaku, kebiasaan, interaksi, dan perasaan.

Kebiasaan Memberi Makan Anak yang Harus Diubah: Negativitas

Sebagian besar dari kita tidak sadar bahwa kita bersikap negatif terhadap anak-anak kita. Padahal, kenyataannya Anda sedang memberikan sikap yang negatif.

Setiap kali Anda memberi tahu anak-anak Anda untuk makan dua suap lagi, Anda telah memberi tahu mereka bahwa mereka tidak makan dengan benar. Kalimat-kalimat lain yang juga sering diucapkan, antara lain:

  • “Cobain dulu.”
  • “Padahal waktu kecil kamu suka, lho.”
  • “Tidak boleh lagi, ya!”
  • “Kamu harus makan lebih banyak lagi”
  • “Jangan pilih-pilih makanan”
  • “Kalau kamu ingin makanan penutup, kamu harus makan brokoli.”

Tanpa disadari kalimat-kalimat tersebut membawa kesan paksaan, intimidasi, kekecewaan, dan meremehkan anak.

Coba pikirkan, pernahkah ada orangtua di mana pun yang mengatakan, "Cicipi saja dulu dan jika kamu tidak menyukainya, kamu tidak harus memakannya." Sebagian mungkin bertanya, bukankah kita semua sebenarnya diam-diam berharap anak-anak akan mau memakannya? Kenyataannya, para orangtua memang akan kecewa, yang membedakannya hanyalah bagaimana cara menunjukkannya. 

Negativitas adalah sebuah penghalang untuk mendidik anak-anak agar mau makan dengan benar. Hal ini disebabkan karena negativitas menciptakan penghalang antara anak-anak dan orang dewasa. Negativitas ini membuat kita menjadi musuh, bukannya partner yang dapat mengajak anak-anak untuk bisa lebih baik saat makan. Dampaknya, anak-anak akan merasa buruk tentang diri mereka sendiri, bahkan jika mereka tidak dapat mengartikulasikan perasaan itu.

Anak-anak akan makan dengan cara yang kita inginkan jika mereka bisa. Ketika anak susah makan, itu berarti mereka sedang memecahkan beberapa masalah. Apa masalahnya? Tidak ada yang tahu. Mungkin rasa takut akan sesuatu yang terasa tidak enak.

Sebuah artikel yang diterbitkan oleh The New York Times berjudul The Importance of Accepting Praise mengungkap dua poin yang sangat relevan terkait hal ini. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pujian yang bermakna dapat meningkatkan motivasi dan kinerja secara terukur, serta dapat meningkatkan kemampuan otak Anda untuk mengingat dan mengulangi keterampilan baru. Itulah sebabnya penting bagi Anda untuk memberikan sebuah penghargaan dan apresiasi atas setiap hal kecil.

Ini bukan berarti Anda tidak dapat mencoba mengajarkan dan membiasakan anak-anak untuk menyukai buah dan sayuran. Tentu saja sebagai orangtua, Anda harus melakukannya. Tetapi menceramahi, menekan, atau bahkan mempermalukan anak-anak bukanlah cara yang tepat.

Bukan hanya karena itu tidak berhasil, tetapi karena itu berpotensi membuat mereka merasa sangat buruk. Dan penilaian buruk pada diri sendiri inilah yang nantinya menciptakan sebuah hambatan atau penghalang.

Cara Memberi Makan Anak

Cara terbaik untuk mengubah kebiasaan makan anak susah makan adalah dengan memotivasi mereka dengan pujian, bahkan untuk setiap langkah-langkah kecil yang berhasil mereka lakukan. Begitu banyak orangtua mengacaukan kegembiraan mereka atas momen melahap makanan baru dengan mengatakan, "Tapi tadi hanya makan dua suap." Itu artinya Anda meremehkan dan masih kecewa dengan pencapaian si kecil. Cobalah untuk menggantinya dengan, “Wah, kamu berhasil makan dua suap, hebat ya!"

Pujian inilah yang akan meningkatkan motivasi. Selain itu, pujian ini pula yang akan membuat anak Anda merasa senang dan terdorong untuk melakukan langkah-langkah kecil lagi.

Namun, apakah positivitas secara otomatis dapat mengubah anak yang pemilih saat makan menjadi anak yang suka mencoba makanan baru? Mungkin ya, tapi mungkin juga tidak. Tetapi yang pasti itu akan mengubah dinamika hubungan antara orangtua dan anak. Itulah langkah pertama yang harus diperhatikan.

Yang paling penting, ketika Anda mengajar dan mendidik anak dengan progres kecil dan pujian Anda, Anda tidak hanya mengajari anak-anak Anda seputar kebiasaan makan. Cara ini juga berguna untuk mengajari mereka langkah untuk mempelajari hal-hal baru dan proses memperlakukan diri mereka dengan baik dalam proses tersebut. Hal tersebut juga setidaknya dapat mencegah anak mengalami gangguan makan.

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-art-science-teaching-kids-eat-right/201901/the-one-feeding-habit-change-in-2019

WebMD. https://www.webmd.com/children/kids-healthy-eating-habits

Diakses pada Januari 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed