Ini Kata Dokter Spesialis Anak Seputar Penyakit DBD pada Anak

08 Nov 2019 | dr. Ferry Hadinata, M.Ked (Ped), Sp.A
Ditinjau oleh dr. Karlina Lestari
Penyakit DBD pada anak bisa menyebabkan kematian
Penyakit DBD pada anak membutuhkan perawatan segera di rumah sakit

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan global. Infeksi ini ditularkan melalui gigitan vektor atau perantara, seperti nyamuk Aedes aegypti (Stegomiya aegypti) dan Aedes albopictus (Stegomiya albopctus).

Penyakit ini tergolong berbahaya karena dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani. Terdapat hampir 1 persen kematian, sebagai akibat dari DBD.

Ada beberapa ciri dan karakteristik khusus dari nyamuk penyebar DBD, beberapa di antaranya, yakni:

  • Warna hitam dengan bercak putih pada badan dan kaki.
  • Hidup dan berkembang biak di dalam rumah dan sekitarnya. Misalnya, di bak mandi, tempayan, drum, kaleng, ban bekas, pot tanaman air, atau tempat minum burung.
  • Hinggap pada pakaian yang bergantung, kelambu, dan ditempat yang gelap serta lembap.
  • Menggigit di siang hari.
  • Kemampuan terbang kira-kira 100 meter.

Selain nyamuk sebagai perantara, terdapat pula beberapa faktor eksternal yang berperan, dalam penyebaran demam berdarah dengue. Faktor tersebut, misalnya suhu udara, kelembapan udara, dan curah hujan.

Peningkatan curah hujan, terutama saat peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan, dilaporkan berpengaruh terhadap peningkatan kasus penyakit DBD.

Perjalanan penyakit demam berdarah dengue

Perjalanan penyakit demam berdarah dengue terdiri dari tiga fase, yaitu fase demam, fase kritis, serta fase penyembuhan. Fase demam terjadi pada 1-2 hari pertama sakit, di mana terjadi peningkatan demam yang tinggi.

Fase kritis berlangsung menjelang akhir fase demam antara hari ke 3-7. Pada fase ini, terjadi puncak kebocoran plasma sehingga pasien dapat mengalami syok hipovolemik (sindrom syok dengue). Kewaspadaan dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya syok, yaitu dengan mengenal tanda dan gejala yang mendahului syok (warning signs), akan dijelaskan kemudian.

Pada fase kritis juga terjadi penurunan jumlah trombosit yang cepat dan progresif. Penurunan tersebut dapat mencapai di bawah 100.000 sel/mm3, serta kenaikan hematokrit di atas angka normal. Kenaikan hematokrit ini, pada umumnya didahului oleh leukopenia (sel darah putih yang rendah).

Gejala klinis yang mungkin akan ditunjukkan pasien demam berdarah dengue

Gejala  infeksi virus dengue sangat luas, dan dapat bersifat asimtomatik (tak bergejala). Selain itu, demam yang dialami anak, juga terkadang tidak khas dan sulit dibedakan dengan infeksi virus lain.

Pembagian infeksi virus dengue menurut WHO 2011 saat ini dibagi menjadi demam tidak khas (sindrom virus), demam dengue, demam berdarah dengue (DBD) dengan kebocoran plasma, serta gejala atau manifestasi tidak lazim (expanded dengue syndrome).

1. Demam berdarah dengue

Beberapa gejala klinis yang mungkin ditunjukkan anak pada demam berdarah dengue, yakni:

  • Demam mendadak tinggi, yang berlangsung antara 2-7 hari.
  • Muka kemerahan
  • Anoreksia (tidak mau makan)
  • Myalgia (nyeri otot)
  • Arthralgia (nyeri sendi).
  • Nyeri ulu hati
  • Mual dan muntah.

2. Demam berdarah dengue dengan kebocoran plasma

Pada demam berdarah dengue, terjadi kebocoran plasma yang secara klinis berbentuk efusi pleura (cairan di ruangan di luar paru). Apabila kebocoran plasma lebih berat, dapat ditemukan dapat ditemukan asites (cairan di rongga perut).

Gejala perdarahan dapat berupa uji tourniquet yang positif, serta bintik merah yang dapat ditemukan di daerah tangan dan kaki. Mimisan dan perdarahan gusi kadang-kadang juga ditemukan.

Pada pemeriksaan laboratorium kondisi ini, jumlah leukosit akan menurun di bawah 4000/mm3, penurunan jumlah trombosit di bawah 100.000/mm3, dapat terjadi peningkatan SGOT/SGPT, dan terjadi hemokonsetrasi (peningkatan hematokrit di atas 20%).

Apabila terjadi syok, mula-mula tubuh melakukan kompensasi (syok terkompensasi). Namun apabila mekanisme tersebut tidak berhasil, pasien akan jatuh ke dalam syok dekompensasi (tidak terkompensasi). Pasien mungkin akan mengalami keluhan tangan dan kaki dingin, tekanan darah rendah, buang air kecil yang menurun, serta kondisi pasien yang lemah dan lesu.

3. Keluhan DBD yang tidak lazim (expanded dengue syndrome)

Demam berdarah dengue dapat memiliki keluhan yang tidak lazim. Gejala dari kondisi ini dapat melibatkan organ, seperti hati, ginjal, otak maupun jantung yang berhubungan dengan infeksi dengue. Gejala klinis tidak lazim lain adalah penurunan kesadaran, perdarahan hebat, infeksi ganda, kelainan ginjal, dan infeksi otot jantung.

Tanda bahaya untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya syok pada DBD

Tanda klinis:

  • Demam turun tetapi keadaan anak memburuk
  • Nyeri pada perut
  • Muntah yang tak kunjung menghilang
  • Letargi atau merasa gelisah
  • Perdarahan pada bagian mulut
  • Pembesaran hati
  • Akumulasi cairan
  • Oliguria (penurunan frekuensi buang air kecil).

Tanda laboratorium:

  • Peningkatan kadar hematokrit bersamaan dengan penurunan cepat jumlah trombosit
  • Hematokrit awal tinggi.

Bagaimana dokter mendiagnosis infeksi demam berdarah dengue?

Berikut adalah beberapa tindakan yang akan dilakukan dokter untuk mendiagnosis infeksi DBD:

  • Isolasi virus. Hanya dapat dikerjakan di laboratorium besar, terutama dilakukan untuk tujuan penelitian).

  • Deteksi asam nukleat virus/PCR. Hanya dapat dilakukan di laboratorium besar yang memiliki peralatan biologi molekuler. Selain itu, biayanya tergolong mahal.

  • Deteksi antigen virus. Pemeriksaan NS 1 antigen virus dengue. Pemeriksaan ini memiliki nilai sensitivitas tinggi pada hari 1-2, dan menurun sampai menghilang setelah hari ke-5.

  • Deteksi respons imun serum. Salah satunya pemeriksaan serologi IgM dan IgG antidengue. Ig M muncul hari ke-5 dan menghilang setelah 90 hari. IgG muncul lebih lambat, namun pada infeksi sekunder muncul lebih cepat, dan bertahan lama dalam serum.

Kriteria diagnosis klinis demam berdarah dengue (demam disertai dua atau lebih manifestasi klinis), yaitu:

  • Demam 2-7 hari yang timbul mendadak, tinggi, dan terus-menerus.
  • Kebocoran plasma, ditandai peningkatan hematokrit di atas 20 persen, penumpukan cairan di rongga perut (asites), penumpukan cairan di membran paru-paru (efusi pleura), rendahnya kadar albumin di serum darah (hipoalbumin), dan rendahnya kadar protein di darah (hipoproteinemia).
  • Trombositopenia <100.000/mm3.
  • Perbesaran pada hati.
  • Nyeri kepala, nyeri otot, nyeri sendi, dan nyeri bagian belakang mata.
  • Dijumpai kasus DBD di lingkungan sekolah atau rumah.

Perawatan pasien DBD

Pasien DBD dilakukan rawat jalan dengan diberikan pengobatan simtomatik (gejala), berupa antipiretik (obat demam) seperti parasetamol yang dapat diulang setiap 4-6 jam bila demam. Upaya menurunkan demam dengan metode fisik seperti kompres diperbolehkan, dengan cara yang direkomendasikan adalah kompres hangat.

Anak juga dianjurkan cukup minum. Boleh air putih, namun lebih baik cairan yang mengandung elektrolit, seperti jus buah dan oralit. Pasien diharuskan tetap kontrol untuk menyampaikan kondisinya. Jika perlu, lakukan setiap hari.

Pasien harus segera dibawa ke rumah sakit jika ditemukan satu atau lebih keadaan berikut ini:

  • Pada saat demam turun keadaan anak memburuk
  • Nyeri pada perut yang terasa sangat sakit
  • Muntah terus-menerus
  • Tangan dan kaki terasa dingin dan lembap
  • Letargi atau merasa gelisah, dan rewel
  • Lemas
  • Perdarahan (misalnya, mimisan, kotoran anak berwarna hitam, atau muntah hitam)
  • Sesak napas
  • Tidak buang air kecil lebih dari 4-6 jam
  • Kejang.

Pengobatan yang sigap dan tepat, dapat mengurangi risiko kecacatan dan kematian pada pasien DBD. Pengobatan DBD tersebut bersifat simptomatis dan suportif.

  • Terapi suportif yaitu penggantian cairan yang merupakan metode utama dalam penanganan DBD. Penggantian cairan dilakukan untuk mencegah timbulnya syok pada penderita.

  • Terapi simptomatis diberikan terutama untuk kenyamanan pasien, seperti pemberian antipiretik (obat demam) dan istirahat. Obat demam dapat berupa parasetamol bila suhu di atas 38°C dengan jarak waktu 4-6 jam. Berikan kompres hangat. Selain itu, apabila pasien masih bisa minum, dianjurkan minum yang cukup terutama minum cairan yang mengandung elektrolit.

Kriteria kesembuhan anak pasien demam berdarah

Setelah anak mendapatkan perawatan yang baik, diharapkan mereka menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Fase penyembuhan terjadi setelah melalui fase kritis yang berlangsung sekitar 24-48 jam.

Pada fase ini, terjadi proses reabsorbsi (pengembalian) cairan dari ruang ekstravaskular (di luar pembuluh darah) ke dalam ruang intravaskular (dalam pembuluh darah), dan berlangsung secara bertahap pada 48-72 jam berikutnya.

Keadaan umum dan nafsu makan anak akan membaik, serta pada beberapa pasien dapat ditemukan ruam konvalesens (ruam kemerahan pada tangan atau kaki).

Beberapa kriteria-kriteria sembuhnya anak, yakni:

  • Frekuensi nadi, tekanan darah, dan frekuensi napas menjadi stabil
  • Suhu badan menjadi normal
  • Tidak dijumpai perdarahan, baik eksternal maupun internal
  • Nafsu makan membaik
  • Tidak dijumpai muntah maupun nyeri perut
  • Volume urine cukup
  • Kadar hematokrit stabil pada kadar basal
  • Ruam konvalesens, ditemukan pada 20-30% kasus.

Dokter mungkin akan mengizinkan pasien untuk pulang rawat inap, apabila menunjukkan kemajuan dan perkembangan berikut:

  • Tidak demam minimal 24 jam tanpa terapi antipiretik
  • Nafsu makan membaik
  • Perbaikan klinis yang jelas
  • Jumlah urine cukup
  • Minimal 2-3 hari setelah syok teratasi
  • Tidak tampak gangguan pernapasan yang disebabkan efusi pleura atau asites
  • Jumlah trombosit di atas 50.000/mm3.

Bagaimana mencegah demam berdarah dengue?

Pemberian vaksin dapat dilakukan, sebagai cara untuk mencegah demam berdarah dengue. Vaksin dengue telah beredar sejak September 2019, dan diberikan pada anak usia 9-16 tahun.

Vaksin diberikan sebanyak tiga kali dengan jarak waktu 6 bulan, dan diutamakan untuk pasien yang sudah pernah mengalami infeksi virus dengue sebelumnya (bukan pada infeksi primer, yang dapat dilihat dari pemeriksaan IgG yang positif).

Selain vaksin, Anda juga dapat menerapkan gaya hidup sehat, yang dapat dimulai di rumah dan keluarga Anda. Beberapa kebiasaan yang dapat membantu mencegah demam berdarah, antara lain:

  • Jaga hawa rumah menjadi sejuk dan dingin. Udara dingin dapat menjaga rumah dari nyamuk terutama pada malam hari.

  • Hindari berada di luar ruangan pada dini hari, senja, atau malam hari. Sebab, di waktu-waktu tersebut, ada banyak nyamuk di luar ruangan.

  • Gunakan pakaian pelindung. Apabila Anda berada di daerah yang banyak nyamuk, gunakan baju berlengan panjang, celana panjang, kaus kaki, dan sepatu.

  • Gunakan penangkal nyamuk. Kurangi tempat-tempat yang disukai nyamuk. Nyamuk yang membawa virus dengue biasanya tinggal di dalam dan sekitar perumahan, berkembang biak di genangan air, seperti pada ban mobil. Pemberantasan sarang nyamuk dapat dilakukan dengan prinsip 3M plus, yaitu:
    • Menguras dan menyikat dinding tempat penampungan air, seperti bak mandi atau toilet, minimal seminggu sekali.
    • Menutup rapat-rapat penampung air (gentong air, tangki air, atau drum).
    • Mengubur atau mendaur ulang barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan.

Cara lain yang dapat dilakukan untuk memberantas nyamuk, di antaranya:

  • Mengganti air vas bunga atau minuman burung seminggu sekali
  • Memberikan obat bubuk pembunuh jentik (abate) sesuai aturan
  • Tidak menggantung pakaian di dalam maupun di luar kamar
  • Membuang air sisa dalam dispenser.

Laporkan jika melihat kasus demam berdarah

Demam berdarah termasuk salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular serta Peraturan Menteri Kesehatan No. 560 tahun 1989, apabila Anda menjumpai kasus DBD, Anda wajib melaporkan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Pelaporan dilakukan kepada Puskesmas setempat sesuai dengan tempat tinggal pasien.

Penulis:
dr. Ferry Hadinata, M.Ked (Ped), Sp.A
Dokter Spesialis Anak
RS Azra Bogor

RS Azra Bogor

Artikel Terkait

Banner Telemed