Sering Marah Terhadap Orangtua, Ini Karakter Anak dengan Kelainan ODD

Karakter anak yang selalu membantah dan suka berkata kasar bisa jadi pertanda oppositional defiant disorder (ODD)
Selalu marah dan negatif merupakan karakter anak dengan ODD

Bukan hal aneh jika anak suka marah-marah dan melawan orangtua ketika ia lelah, lapar, atau stres. Meskipun demikian, perilaku suka memberontak ini berisiko menjadi karakter anak yang menyimpang, disebut juga sebagai oppositional defiant disorder (ODD).

ODD adalah kondisi ketika anak-anak terus menerus marah atau berperangai kasar, melawan, atau suka mendebat kata-kata orangtua. Anak juga cenderung tidak ingin patuh terhadap pihak yang berwenang, misalnya guru atau orang dewasa lain yang memberi perintah kepadanya.

Pada anak normal, perilaku seperti ini hanya terlihat sewaktu-waktu dan anak akan kembali tenang setelah beristirahat, makan, dan sebagainya. Namun pada anak ODD, perilaku memberontak ini memiliki pola dan kerap mengganggu aktivitasnya sehari-hari, baik saat ia tengah berada di dalam keluarga maupun di sekolah.

Apa saja tanda anak menderita oppositional defiant disorder?

Karakter anak yang menderita ODD pada dasarnya selalu membantah, dengki, negatif, penuh kebencian, dan suka berkata kasar. Secara spesifik, mereka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut:

  • Tantrum yang berlebihan
  • Sering marah dan ngambek
  • Suka berdebat dengan orang dewasa secara berlebihan, terlebih dengan orang yang memiliki wewenang tertentu
  • Dengan sengaja membuat orang kesal atau marah. Begitu pula sebaliknya, sangat mudah kesal atau marah terhadap sikap orang lain
  • Menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dibuatnya
  • Pendendam
  • Suka mengumpat dan menggunakan kata-kata yang tidak sopan
  • Mengeluarkan kata-kata kasar ketika marah

Baru-baru ini, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa anak perempuan menunjukkan gejala ODD yang berbeda dibanding anak laki-laki. Karakter anak perempuan yang menderita ODD biasanya lebih tergambar dari kata-katanya, bukan perilakunya.

Misalnya, anak perempuan yang ODD akan lebih mahir berbohong dan susah diatur. Sedangkan anak laki-laki dengan ODD akan lebih sering marah-marah serta melawan orang dewasa.

Pada anak yang menderita ODD, satu atau lebih dari gejala tersebut akan memperlihatkan pola sebagai berikut:

  • Berlangsung terus-menerus, setidaknya selama 6 bulan berturut-turut
  • Berlebihan, terutama dibandingkan dengan perilaku anak seusianya
  • Bersifat merusak, baik ketika ia berada di rumah maupun sekolah
  • Memberontak kepada pihak yang memiliki kekuasaan saja, misalnya orangtua, guru, pelatih

Bagaimana cara mendiagnosis oppositional defiant disorder?

Sebanyak 2% hingga 16% dari total anak-anak maupun remaja di dunia diperkirakan menderita ODD. Biasanya, anak-anak mulai memperlihatkan gejala ODD saat usianya menginjak 8 tahun.

Pada anak-anak, ODD lebih sering terjadi pada laki-laki. Namun pada remaja, persentase penderita ODD laki-laki dan perempuan cenderung seimbang.

Tidak sedikit orangtua yang melihat sikap memberontak ini sebagai hal yang bisa membaik seiring bertambahnya usia anak. Lagipula, gejala ODD memang mirip dengan karakter anak pada umumnya saat sedang berusaha untuk mandiri, yang sering terlihat saat anak memasuki fase terrible two atau saat ia baru beranjak remaja.

Meskipun demikian, anak atau remaja yang memperlihatkan tanda-tanda ODD harus diperiksakan ke dokter, sekalipun Anda tidak yakin bahwa anak Anda mengalami ODD. Kelainan pada anak ini dapat didiagnosis berdasarkan tanda-tanda dan gejala fisik yang ditunjukkan oleh anak-anak.

Meski tidak ada pemeriksaan laboratorium yang secara spesifik bisa mendiagnosis ODD, dokter akan tetap merekomendasiakan tes darah. Hal ini dimaksudkan untuk menganulir kemungkinan adanya masalah kesehatan yang menjadi penyebab karakter anak ODD.

Jika hasil tes laboratorium menyatakan anak negatif penyakit fisik, dokter akan merujuk anak ke psikolog atau psikiater. Mereka akan menggunakan teknik wawancara khusus untuk mendiagnosis kelainan mental yang terjadi pada anak, termasuk menemukan tanda adanya depresi atau kelainan lain, misalnya attention-deficit/hyperactive disorder (ADHD).

Seperti kelainan mental lainnya, tidak mudah untuk menegakkan diagnosis ODD. Oleh karena itu, orangtua sebaiknya tidak defensif dan secara terbuka menceritakan pola pengasuhannya, serta perilaku anak selama berada di bawah pengawasan ibu dan ayahnya.

WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/oppositional-defiant-disorder#1
Diakses pada 24 Juli 2019

American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. https://www.aacap.org/AACAP/Families_and_Youth/Facts_for_Families/FFF-Guide/Children-With-Oppositional-Defiant-Disorder-072.aspx
Diakses pada 24 Juli 2019

American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. https://www.aacap.org/App_Themes/AACAP/docs/resource_centers/odd/odd_resource_center_odd_guide.pdf
Diakses pada 24 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed