Kapan Seorang Pasien Harus Dirawat di Ruang Isolasi Rumah Sakit?

Pada ruang isolasi rumah sakit, pasien akan dirawat seorang diri dan tidak digabung dengan pasien lainnya
Perawatan di ruang isolasi rumah sakit bertujuan agar proses penyembuhan berlangsung optimal

Ruang isolasi rumah sakit sangat penting bagi pasien yang memerlukan penanganan khusus. Tujuannya untuk mengurangi risiko penularan. Orang yang bertugas atau berkunjung ke ruang isolasi rumah sakit pun harus mematuhi beberapa prosedur tertentu.

Faktor terpenting yang menentukan kapan seseorang dirawat di ruang biasa atau ruang isolasi rumah sakit adalah penyakit yang dideritanya. Apabila penyakitnya sangat menular, maka harus dirawat di ruang isolasi.

Perbedaan dengan ruang rawat biasa

Jika ruang rawat biasa memungkinkan beberapa pasien dirawat bersama-sama dalam satu ruangan, tidak demikian halnya dengan ruang isolasi rumah sakit. Pasien akan dirawat seorang diri, prosedur pemeriksaan medisnya pun berbeda dengan mereka yang berada di ruang rawat biasa.

Beberapa contohnya adalah dokter dan suster mengenakan masker, siapapun yang masuk ke ruangan perlu mengenakan pakaian khusus, dan akses untuk pengunjung juga bisa sama sekali ditiadakan.

Ruang isolasi rumah sakit ada untuk mencegah cross-contamination atau cross-infection baik dari pasien, pengunjung, maupun tenaga medis rumah sakit. Kata “isolasi” bisa terdengar mengerikan bagi orang awam, seakan-akan pasien sangatlah berbahaya.

Namun itu tidak benar. Pasien sengaja dirawat di ruang isolasi rumah sakit agar proses penyembuhan berlangsung optimal dan tidak ada kemungkinan penularan ke orang lain. 

Setiap rumah sakit memiliki prosedur yang berbeda dalam penentuan pasien di ruang isolasi hingga pengamanannya. Namun rata-rata ruang isolasi bisa diklasifikasikan menjadi:

  • Isolasi standar

Di ruang isolasi rumah sakit yang standar, setiap orang yang keluar masuk ruangan pasien harus mencuci tangan atau membersihkan dengan hand sanitizer. Sarung tangan dan rompi khusus bisa digunakan jika dibutuhkan. 

  • Isolasi kontak

Berikutnya ada isolasi kontak atau contact isolation yang diperuntukkan bagi organisme yang bisa menyebar lewat tangan, seperti Clostridium difficile penyebab penyakit diare.

Itu sebabnya, petugas medis seperti suster harus mengenakan rompi khusus dan sarung tangan jika memasuki ruang isolasi ini. Dikhawatirkan jika tidak, tangan bisa menyentuh organisme menular dan tertular ke pasien berikutnya.

  • Isolasi air liur

Isolasi air liur atau droplet isolation digunakan untuk batuk atau bersin yang bisa menularkan penyakit namun dalam jarak dekat. Untuk ruang isolasi ini, petugas medis diminta mengenakan masker dan pelindung mata. 

Pada kasus tertentu seperti pasien yang menderita meningitis, mereka harus berada di ruang isolasi ini hingga tuntas mengonsumsi antibiotik sesuai instruksi dokter. Penyakit lain seperti flu dan batuk rejan juga bisa berada di ruang isolasi ini.

  • Isolasi droplet nuklei (airborne)

Isolasi berikutnya diperuntukkan bagi pasien yang menderita cacar, TBC, atau gondok. Penularan penyakit-penyakit ini lewat partikel droplet nuklei yang bisa bertahan di udara penjuru rumah sakit, bahkan yang berbeda lantai sekalipun.

Pasien dengan kategori ini harus berada di ruangan isolasi. Sementara petugas medis harus mengenakan alat pelindung agar tidak menghirup organisme penyebab penyakit dan berisiko masuk ke paru-paru.

Selain beberapa jenis ruang isolasi di atas, istilah penamaan dan kategorisasinya bisa berbeda, bergantung pada pihak rumah sakit. Namun benang merahnya tetap sama, yaitu ruang rawat yang mengurangi kemungkinan kontaminasi atau penularan penyakit.

Bagi pasien yang dirawat di rumah sakit, siapapun berhak mendapatkan penjelasan komprehensif tentang alasan kapan harus dirawat di ruang isolasi dan kapan tidak. Jika masih ada hal yang membingungkan, tak usah ragu menanyakan kepada pihak rumah sakit.

Siapa yang harus dirawat di ruang isolasi?

Kondisi yang membuat seseorang harus dirawat di ruang isolasi rumah sakit adalah jika menderita penyakit yang sangat menular. Kebanyakan adalah penyakit yang penularannya bisa melalui media udara.

Artinya, orang yang menghirup udara terkontaminasi bakteri atau virus tertentu bisa tertular, bukan hanya lewat droplets yang mungkin keluar saat batuk atau bersin.

Beberapa contoh penyakit yang umumnya mengharuskan dirawat di ruang isolasi adalah:

  • Cacar
  • TBC
  • Rubella
  • Meningitis
  • Difteri 
  • Gondok
  • Salmonella
  • Keracunan makanan (jenis tertentu)
  • Pasien yang sedang atau akan menjalani operasi transplantasi

Ketika kondisi pasien membaik dan risiko penularan berkurang, maka perawatan tak perlu lagi di ruang isolasi. Pasien bisa direkomendasikan untuk pulang ke rumah atau di ruang rawat biasa.

Selain itu, pihak rumah sakit juga harus memiliki fasilitas cuci tangan atau hand sanitizer mengandung alkohol untuk mengurangi kemungkinan penularan lewat tangan. Peralatan di ruang isolasi juga harus mudah dibersihkan dan tidak rentan menimbulkan tumpukan debu atau kelembapan di sekitarnya.

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK214341/
Diakses 25 Februari 2020

US News. https://health.usnews.com/health-news/patient-advice/articles/2014/09/30/when-youre-put-in-hospital-isolation
Diakses 25 Februari 2020

HSC. https://www.niinfectioncontrolmanual.net/isolation-patients
Diakses 25 Februari 2020

Artikel Terkait