Jangan hanya mengandalkan emosi saja ketika belanja Ramadhan, tapi pastikan bahwa barang yang dibeli memang sesuai kebutuhan
Jangan hanya mengandalkan emosi saja ketika belanja Ramadan, tapi pastikan bahwa barang yang dibeli memang sesuai kebutuhan

Memasuki bulan Ramadhan, Anda tentu sudah bersiap berbelanja kebutuhan untuk buka puasa dan sahur. Barang yang dibeli saat belanja Ramadan tak jauh dari bahan makanan, lauk-pauk, maupun kebutuhan untuk acara buka bersama.

Belanja Ramadan akan semakin menggebu-gebu saat Anda melihat adanya diskon ataupun promo yang ditawarkan oleh berbagai toko. Anda akan terpancing untuk membeli barang-barang secara impulsif.

Bukanlah hal baru jika toko-toko berusaha untuk menarik Anda membeli barang-barang yang belum tentu dibutuhkan. 

Belanja Ramadan yang impulsif dan promo

Belanja Ramadan yang mendadak dan tidak direncanakan adalah hal yang dapat terjadi pada Anda!

Anda dapat merasa khawatir jika tidak membeli barang dengan promo atau diskon yang menguntungkan. Kekhawatiran akan kehilangan promo atau diskon tersebut dapat membuat daftar barang yang dibeli saat belanja Ramadan Anda semakin bertambah.  

Kepraktisan dari promo ‘beli satu gratis satu’ atau ‘paket lebaran’ dapat mengarahkan Anda untuk langsung membeli barang dengan promo tersebut tanpa melihat-lihat barang lainnya. Promo-promo tersebut memanfaatkan kepraktisan belanja ramadan. 

Selain itu, promo tersebut juga memanfaatkan keinginan Anda untuk berhemat dengan memperlihatkan berapa banyak yang bisa Anda dapatkan dengan promo-promo tersebut dan banyaknya barang yang dapat disimpan sebagai persediaan untuk Ramadhan.  

Peran emosi dalam belanja Ramadan

Saat membeli barang-barang untuk Ramadhan, perasaan senang dapat dirasakan karena berpikir bahwa suasana Ramadan hanya dirasakan setahun sekali. Hal ini dapat menjadi salah pemicu belanja Ramadan yang impulsif. 

Tidak hanya perasaan senang, Anda dapat melakukan belanja Ramadan yang impulsif dengan berangan-angan mengenai ramadhan yang ideal. Anda lebih cenderung berpikir bahwa membeli banyak camilan dapat membuat Anda terlihat lebih mampu.

Padahal, bisa saja camilan yang dibeli tahun lalu terbuang dan tidak dimakan karena terlalu banyak. Dibandingkan belajar dari kesalahan yang dulu, imajinasi akan masa depan mengenai Ramadan yang indah jauh lebih menggiurkan.  

Ajang Menampilkan Diri

Belanja Ramadan terkadang dapat menjadi ajang untuk menampilkan diri Anda kepada orang lain. Membeli secara impulsif dapat terjadi ketika Anda menemukan produk yang dapat mengekspresikan identitas diri dan sesuai dengan sikap serta pandangan diri Anda. 

Oleh karenanya, Anda bisa saja membeli baju baru yang sangat mahal secara impulsif untuk memperlihatkan bahwa Anda terlihat keren di mata orang-orang. Keinginan belanja akan semakin besar jika produk yang dibeli adalah sesuatu yang bermerek.  

Orang yang cenderung melakukan belanja secara impulsif memiliki keinginan untuk mencari sensasi. Orang-orang demikian memiliki keinginan untuk mencari pengalaman atau hal-hal yang baru, serta lebih cepat untuk merasa bosan.

Orang-orang narsistik merupakan salah satu contohnya. Orang-orang yang narsistik lebih cenderung mengeluarkan lebih banyak uang dan usaha yang lebih untuk menata penampilan dan menambah jumlah barang-barang yang dimiliki. 

Hindari belanja Ramadan secara impulsif

Belanja Ramadan yang impulsif bukanlah hal yang tidak dapat dihindari. Anda dapat menerapkan langkah-langkah di bawah ini untuk belanja di bulan ramadan yang lebih bijak.

Pertama-tama, tenangkan pikiran Anda selama beberapa saat dengan melemaskan otot-otot di tubuh dan bernapas secara pelan. Setelahnya, Anda dapat bayangkan dan pikirkan kepentingan dan keyakinan yang dimiliki.

Misalnya, Anda lebih mementingkan untuk membeli barang yang dibutuhkan, dan meyakini bahwa diri Anda adalah pribadi yang membeli barang secara bijaksana dan tidak berlebihan. Cobalah untuk mengingatkan diri Anda.

Anda dapat melakukan visualisasi untuk membantu mengingatkan diri Anda. Anda dapat membayangkan diri Anda dengan simpanan di tabungan bank yang menipis atau mengingat apa yang membuat Anda ingin menabung.

Emosi yang dirasakan dapat memengaruhi belanja Ramadan Anda. Lakukan belanja Ramadan dengan penuh kesadaran. Ingatlah bahwa Anda juga membutuhkan uang dan keuangan yang stabil setelah Lebaran berlalu.  

Kapan belanja Ramadan perlu dikonsultasikan ke psikolog atau psikiater?

Belanjar Ramadan yang dilakukan sekali-kali dan masih bisa dikendalikan tidak memerlukan penanganan khusus, tetapi bila Anda memiliki tanda-tanda di bawah ini:

  • Kesulitan bertahan untuk tidak membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan
  • Mengalami masalah di sekolah, rumah, ataupun pekerjaan karena belanja yang berlebih dan tidak bisa dikontrol
  • Selalu berpikir mengenai membeli barang-barang yang sebenarnya tidak digunakan
  • Mengalami kesulitan finansial karena pembelian barang-barang yang tidak dibutuhkan
  • Menghabiskan banyak waktu untuk mencari tahu mengenai barang-barang yang tidak dibutuhkan

Maka, Anda sebaiknya berkonsultasi ke psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/hijacked-your-brain/201312/how-avoid-impulse-buying
Diakses pada 07 Mei 2019

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/consumer-behavior/201303/five-reasons-we-impulse-buy
Diakses pada 07 Mei 2019

The Guardian. https://www.theguardian.com/media-network/2015/nov/26/psychology-impulsive-shopping-christmas-black-friday-sales
Diakses pada 07 Mei 2019

Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-compulsive-shopping-disorder-2510592
Diakses pada 30 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed