Vaksin pneumonia akan diberikan lewat suntikan
Vaksin pneumonia diberikan melalui suntikan

Vaksin pneumonia bertujuan melindungi penerima vaksin dari infeksi bakteri pneumokokus. Karena itu, vaksin ini juga sering disebut vaksin pneumokokus.

Infeksi pneumokokus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Umumnya, penyakit ini menyebabkan:

  • Pneumonia atau radang paru-paru
  • Bakteremia atau infeksi pada aliran darah
  • Septicaemia atau keracunan darah akibat bakteri dalam jumlah banyak
  • Meningitis atau radang selaput otak

Komplikasi terburuk yang disebabkan oleh penyakit-penyakit tersebut meliputi kecacatan, kerusakan otak, hingga kematian. Inilah mengapa vaksin pneumonia sangat penting didapatkan untuk mencegah infeksi akibat bateri pneumokokus.

Siapa yang sebaiknya mendapat vaksin pneumonia?

Infeksi pneumokokus bisa menyerang siapa saja. Tetapi ada kelompok orang yang memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena infeksi ini dan berpotensi mengalami komplikasi yang lebih berat bila mengalaminya.

Kelompok orang yang berisiko lebih tinggi tersebut disarankan untuk mendapat vaksin pneumokokus. Mereka adalah:

  • Bayi
  • Lanjut usia (lansia) berusia di atas 65 tahun
  • Anak-anak dan orang dewasa yang memiliki masalah kesehatan kronis, misalnya penyakit jantung atau gangguan ginjal

Bahkan menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penyakit pneumonia tergolong sebagai penyebab utama kematian anak berusia lima tahun ke bawah (balita) di Indonesia. IDAI mengungkapkan bahwa UNICEF mencatat terdapat sekitar 14 persen balita di Indonesia yang meninggal akibat pneumonia pada tahun 2015.

Dengan begitu, tidak berlebihan bila para balita di Indonesia dikatakan termasuk kelompok yang berisiko tinggi dan membutuhkan vaksin pneumonia.

Jenis-jenis vaksin pneumonia

Jenis vaksin pneumokokus ada dua, yakni pneumococcal conjugate vaccine (PCV) dan Pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV). Jenis yang akan diberikan akan ditentukan dari usia dan kondisi kesehatan pasien.

  • Pneumococcal conjugate vaccine (PCV) 

Vaksin PCV adalah jenis vaksin pneumonia yang biasanya diberikan pada anak-anak berusia di bawah dua tahun. Vaksin ini mampu melindungi anak-anak dari 13 galur (strain) bakteri pneumokokus.

Di negara-negara yang mewajibkan vaksin PCV bagi anak-anak berusia di bawah dua tahun, angka kejadian infeksi pneumokokus pada anak menurun secara signifikan.

  • Pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV)

PPV adalah jenis vaksin yang diberikan pada orang berusia di atas 65 tahun. Tak hanya itu, vaksin ini juga disarankan untuk orang yang dianggap berisiko tinggi terkena infeksi dan komplikasi pneumokokus karena mengalami penyakit kronis.

Vaksin pneumonia jenis PPV dianggap efektif 50-70 persen dalam mencegah infeksi pneumokokus, dan mampu melindungi penerimanya dari 23 galus bakteri pneumokokus.

Anak-anak berusia di atas dua tahun yang belum pernah menerima vaksin pneumonia juga bisa menerima imunisasi PPV. Pasalnya, vaksin PPV kurang efektif jika diberikan pada anak di bawah dua tahun.

Seperti apa kinerja vaksin pneumonia?

Vaksin pneumonia jenis PCV dan PPV sama-sama berfungsi memicu tubuh penerima untuk memproduksi antibodi. Kedua vaksin ini berisi organisme yang tidak aktif atau sudah ‘dilemahkan’, sehingga tidak akan menimbulkan penyakit dan hanya akan memicu produksi antibodi.

Antibodi merupakan protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh. Tujuannya adalah menetralkan atau mematikan organisme penyebab penyakit atau racun yang masuk ke dalam tubuh. Misalnya dengan melindungi tubuh dari timbulnya penyakit ketika terkena serangan bakteri.

Efek samping vaksin pneumonia

Reaksi dari sistem imun tubuh setelah menerima imunisasi berpotensi menimbulkan efek samping, termasuk vaksin pneumonia. Beberapa efek samping yang mungkin timbul meliputi:

  • Demam ringan, dengan suhu 37 sampai 38 derajat Celcius
  • Iritasi, kemerahan, dan bengkak pada lokasi penyuntikan vaksin
  • Khusus bayi dan anak-anak: rewel, sulit tidur, dan tidak nafsu makan

Di samping itu, reaksi alergi terhadap bahan-bahan dalam vaksin juga bisa terjadi, dengan tingkat keparahan ringan sampai berat.

Komplikasi paling berat adalah syok anafilaksis. Kondisi ini ditandai dengan saluran napas yang bengkak sehingga penderitanya sulit bernapas. Penderita harus segera dibawa ke ke rumah sakit.

Di Indonesia, vaksin pneumonia masih tergolong sebagai imunisasi pilihan. Vaksin ini belum tersedia secara gratis oleh pemerintah.

Jika Anda berminat untuk menerima vaksin pneumonia, Anda bisa mendapatkannya di klinik atau rumah sakit terdekat yang menyediakannya. Anda juga sebaiknya berkonsutasi dengan dokter untuk memastikan keamanannya terlebih dulu.

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/vaccinations/pneumococcal-vaccination/
Diakses pada 18 April 20202

Healthline. https://www.healthline.com/health/how-long-does-a-pneumonia-shot-last
Diakses pada 18 April 20202

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-vaksin-pneumokokus
Diakses pada 18 April 20202

Artikel Terkait