Jenis Tes Depresi yang Akan Anda Jalani dari Dokter Spesialis Jiwa

Tes depresi online tidak akurat, ini tes yang biasa dilakukan dokter
Tes depresi dengan psikiater

Saat ini banyak tes depresi yang tersedia secara online dan bisa Anda ikuti secara gratis. Meski begitu Anda perlu ingat bahwa tes atau kuisioner yang diisi secara online tanpa pengawasan dokter atau psikologm tidak bisa dijadikan sebagai bahan diagnosis maupun dasar yang tepat untuk memulai atau bahkan menghentikan perawatan yang sedang dijalani.

Masalah mental seperti depresi tidak dapat Anda diagnosis sendiri. Self diagnose, istilah populer untuk kondisi ini, dapat berujung pada perawatan yang kurang tepat dan membuat banyak orang salah kaprah soal kondisi gangguan mental yang sebenarnya.

Misalnya, Anda merasa sering sedih. Lalu setelah mengisi kuis di Internet, Anda yakin bahwa Anda depresi. Padahal, merasa sedih tidak selalu menandakan bahwa Anda memilki depresi. Sebaliknya, meski selalu merasa senang, belum tentu Anda seratus persen terbebas dari kondisi mental ini. Karena itu, diperlukan diagnosis dari psikiater atau dokter spesialis kejiawaan untuk bisa memastikan kondisi mental Anda saat ini.

Jenis tes depresi yang tepat

Apabila Anda merasa sudah mengalami gejala depresi, maka langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengunjungi psikiater untuk memastikannya. Kondisi ini perlu segera diperiksa, terutama jika:

  • Anda sudah merasakannya hampir setiap hari selama kurang lebih dua minggu dan tidak membaik.
  • Gejala tersebut sudah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, mulai dari pekerjaan hingga hubungan dengan orang-orang terdekat.
  • Membuat Anda memiliki keinginan untuk bunuh diri.

Di sana, Anda akan menjalani pemeriksaan secara menyeluruh mulai dari gejala psikis, fisik, hingga beberapa pemeriksaan tambahan lainnya. Berikut ini beberapa jenis tes depresi yang biasa digunakan.

1. Pemeriksaan fisik

Depresi bisa saja berhubungan dengan gangguan fisik yang dialami. Sehingga apabila Anda merasakan gejala depresi, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik agar bisa mengetahui kondisi yang menyebabkannya.
Dokter juga akan memeriksa gejala fisik yang bisa timbul akibat depresi, seperti:

  • Cara bicara yang lambat dan tidak fokus
  • Sering mengepalkan tangan dengan keras
  • Pergerakan tubuh yang terganggu
  • Hilang ingatan

2. Tes laboratorium

Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari pasien seperti riwayat kesehatan diri, riwayat kesehatan keluarga, dan hasil pemeriksaan fisik, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan laboratorium berupa tes darah dan tes urine.

Tes ini dilakukan untuk mengeliminir penyakit lain yang dapat menimbulkan gejala mirip depresi, seperti hipotiroidisme. Selain melakukan tes laboratorium, dokter juga akan memeriksa jenis obat-obatan yang sedang dan sudah pernah Anda konsumsi untuk mengeliminir gejala depresi yang muncul sebagai efek samping obat.

3. Evaluasi psikis

Pada evaluasi kondisi psikis, dokter akan melihat lebih jauh gejala depresi yang Anda rasakan. Selain itu dokter juga akan memetakan pola perilaku, perasaan, dan pikiran yang akhir-akhir ini Anda rasakan. Dokter mungkin akan menginstruksikan Anda untuk mengisi kuesioner psikologis untuk memastikannya lebih jauh.

Setelah melakukan pemeriksaan secara rinci, dokter baru bisa mendiagnosis bahwa kondisi yang Anda alami memang benar-benar depresi dan bukan kondisi lain dengan gejala serupa. Dokter juga akan menentukan jenis depresi yang Anda derita dan mulai melakukan perawatan yang sesuai.

Pengobatan yang bisa dilakukan setelah tes depresi

Untuk mengobati depresi, dokter biasanya akan melakukan dua hal, yaitu pemberian obat-obatan dan melakukan terapi psikologis. Obat yang akan diberikan adalah golongan antidepresan yang tersedia dalam beberapa jenis. Dokter akan memilih yang paling sesuai dengan kondisi Anda.

Sementara itu dalam terapi psikologis, Anda akan menjalani sesi terapi empat mata. Anda dipersilakan untuk mengeluarkan isi hati Anda secara detail dan dokter akan memberikan terapi untuk membuat Anda menyesuaikan dengan perasaan yang sedang muncul, dan menghadapinya dengan baik.

Perawatan untuk menghilangkan depresi ini butuh waktu hingga bisa berhasil dan terasa efeknya. Sehingga, jangan sampai Anda menghentikan perawatan di tengah jalan. Bahkan, jika Anda menghentikan konsumsi obat antidepresan secara tiba-tiba, tidak menutup kemungkinan akan muncul gejala putus obat dan membuat depresi semakin parah.

Karena itu, lakukanlah perawatan secara teratur dan tekun serta sabar. Dengan begitu, kondisi mental Anda semakin lama dapat semakin membaik.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/depression/diagnosis-treatment/drc-20356013
Diakses pada 26 Mei 2020

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/clinical-depression/diagnosis/
Diakses pada 26 Mei 2020

WebMD. https://www.webmd.com/depression/guide/depression-diagnosis#3
Diakses pada 26 Mei 2020

Artikel Terkait