6 Jenis Permainan Anak yang Baik Dimainkan


Tugas utama anak-anak di dunia ini adalah bermain. Namun mengajarkan jenis permainan anak tertentu bisa mengasah kemampuan kognitif, emosional, kreativitas, hingga pengambilan keputusan.

0,0
20 May 2021|Azelia Trifiana
jenis permainan anak yang mendidikAda beragam jenis permainan anak yang bisa membantu tumbuh kembangnnya
Tugas utama anak-anak di dunia ini adalah bermain. Mungkin sekilas terlihat seperti hanya mengisi waktu luang. Padahal, jenis permainan anak tertentu bisa mengasah kemampuan kognitif, emosional, kreativitas, hingga pengambilan keputusan.Menariknya lagi, kemampuan yang berkembang lewat bermain ini bisa semakin terasah ketika mereka berinteraksi dengan anak lain. Pada tiap fase usia, mood, dan situasi sosial, ada perbedaan manfaat dari tiap jenis permainan yang mereka ikuti.

Jenis permainan anak

Bekal bagi orangtua untuk tahu bahwa ada beberapa jenis permainan anak bergantung pada kondisi mereka adalah:

1. Permainan bebas

Jenis unoccupied play terjadi pada anak baru lahir hingga usianya menginjak 3 bulan. Ini adalah tahap awal anak bermain. Bagi orang yang belum terbiasa, sekilas bayi terlihat seperti tidak sedang bermain sama sekali. Padahal, aktivitas observasi lingkungan sekitar dan gerakan acak ini termasuk dalam permainan bebas.Ketika anak melakukan permainan bebas, di situlah mereka merancang konsep awal untuk eksplorasi gaya bermainnya di masa depan. Mengingat jenisnya adalah permainan bebas, maka tidak ada pola tertentu yang ditunjukkan oleh si kecil.Peran orangtua dalam hal ini sangat minimal karena bayi melakukannya berdasarkan insting. Meski demikian, pastikan tidak ada halangan ketika bayi melakukan eksplorasi dalam bentuk sesederhana menggerakkan tangan di udara.

2. Permainan independen

Disebut juga solitary play, ini adalah fase ketika anak bermain seorang diri. Sangat penting memberikan ruang bagi mereka bermain dalam jenis ini karena artinya anak berlatih menghibur dirinya sendiri. Pada akhirnya, ini adalah proses agar bisa merasa puas dengan dirinya sendiri.Objek mainannya pun bisa beragam mulai dari balok, kostum, mainan perangkat, boneka, buku, atau miniatur hewan. Umumnya, anak mulai dalam jenis permainan ini ketika usianya menginjak 2-3 tahun.Ini adalah usia ketika anak sudah bisa fokus pada dirinya sendiri, namun belum piawai berkomunikasi atau berbagi. Tidak menutup kemungkinan, anak akan melanjutkan tipe permainan ini hingga lewat dari 3 tahun.

3. Permainan mengamati

Ada juga jenis permainan anak berupa onlooker play alias mengamati. Artinya, anak sedang mengobservasi teman-temannya tanpa terlibat dalam aksinya. Selain itu, mereka juga bisa mengamati apa yang dilakukan orangtua dan orang dewasa di sekitarnya.Lebih jauh lagi, permainan mengamati ini biasa dilakukan anak berusia 2-3 tahun. Sangat umum melihat anak yang sedang belajar perbendaharaan kata memilih untuk melakukan jenis permainan ini.Orangtua sebaiknya jangan mengganggu proses ini dengan memaksa mereka bersosialisasi atau bermain bersama anak lain. Justru, ini adalah bentuk permainan yang sehat sebelum mereka benar-benar bermain bersama. Ada kepercayaan diri yang terbangun pada fase ini.Terkadang, anak akan memberi komentar saat mengamati teman sebayanya bermain. Beri tanggapan dengan tepat karena anak tengah bersiap untuk benar-benar berpartisipasi.

4. Permainan paralel

Sebenarnya, sangat wajar ketika ada dua anak berusia 3 tahun yang duduk bersebelahan namun justru bermain sendiri-sendiri. Ini bukan berarti mereka tidak suka satu sama lain. Namun, mereka sedang melakukan permainan paralel. Umumnya, anak berusia 2 tahun mulai memasuki fase ini.Tidak ada satu anak pun yang berupaya memengaruhi permainan orang lain. Sekilas mungkin mereka terlihat acuh satu sama lain, namun sebenarnya ada kecenderungan meniru apa yang dilakukan temannya. Sama seperti jenis lain, ini adalah fase penting sebelum mencoba permainan di tahap lebih lanjut.

5. Permainan asosiatif

Ketika anak menginjak usia 3-4 tahun, mereka mulai bisa berinteraksi dengan apa yang dimainkan temannya. Ada interaksi secukupnya meski masih fokus pada permainan di hadapan mereka masing-masing. Biasanya, ketika menginjak usia 5 tahun maka fase permainan ini mulai berkurang.Penting sekali menjaga berlangsungnya fase ini karena mereka mulai memahami konsep sosialisasi, menunggu giliran, hingga memecahkan masalah. Ada pula perkembangan bahasa hingga kerja sama ketika anak berinteraksi dengan temannya.

6. Permainan kooperatif

Ini adalah jenis permainan anak ketika mereka mulai bermain bersama sepenuhnya. Umumnya, anak terlibat dalam permainan ini ketika usianya menginjak 4 tahun dan seterusnya. Fase ini akan mengimplementasikan seluruh kemampuan sosial yang selama ini dipelajari lewat jenis permainan sebelumnya.Ada banyak jenis permainan yang bisa dilakukan pada fase ini, mulai dari menyusun puzzle bersama, aktivitas di luar ruangan, dan sebagainya. Nantinya ini menjadi titik awal tahapan anak tumbuh menjadi sosok dewasa.Selain keenam jenis permainan anak di atas, ada pula bentuk lainnya seperti:
  • Permainan kompetitif
Anak paham bagaimana cara menunggu giliran, memahami aturan, hingga berfungsi dalam sebuah tim. Fakta bahwa mereka bisa menang atau kalah merupakan pelajaran paling utama yang akan melatih emosi mereka. Di sini pula anak belajar bahwa mereka harus belajar menerima kekalahan.
  • Permainan konstruktif
Ini adalah jenis permainan yang mengajarkan anak tentang cara membangun sesuatu. Contohnya membangun benteng dari bantal, membuat jalan untuk mobil-mobilan, dan sebagainya. Perlu kemampuan kognitif agar bisa berhasil.
  • Permainan fantasi
Jenis permainan dengan bertukar peran termasuk dalam permainan drama atau fantasi. Bukan hanya mengasah imajinasi, ini juga mengasah kemampuan mereka untuk bekerja sama, berbagi, dan mengasah kemampuan berbahasa.Masih ada banyak sekali jenis permainan yang memberikan manfaat luar biasa bagi anak-anak. Orangtua perlu tahu seberapa besar intervensi yang perlu mereka berikan. Apabila situasi dirasa kurang kondusif seperti anak bertengkar, cari celah bagaimana menjadi mediator tanpa menyudutkan siapapun.Lebih menakjubkannya lagi, anak bisa belajar banyak hal lewat bermain. Bahkan, besar kemungkinan anak mendapatkan pelajaran yang tidak ada di sekolah maupun keluarganya.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar manfaat bermain bagi perkembangan anak, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
tips parentingibu dan anakgaya parenting
Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/types-of-play-2764587
Diakses pada 7 Mei 2021
Pediatrics. https://pediatrics.aappublications.org/content/142/3/e20182058
Diakses pada 7 Mei 2021
Review of Philosophy and Psychology. https://link.springer.com/article/10.1007%2Fs13164-011-0056-1
Diakses pada 7 Mei 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait