Jenis Olahraga yang Menyebabkan Gigi Patah dan Faktor Risikonya

Ada beberapa jenis olahraga yang rentan terhadap gigi patah dan cedera gigi lainnya
Olahraga tertentu memiliki risiko gigi patah yang lebih tinggi

Di Indonesia, dapat kita amati bahwa minat dan partisipasi masyarakat terhadap olahraga terus meningkat. Bersamaan dengan itu, risiko seseorang untuk mengalami gigi patah saat berolahraga juga meningkat. Cedera pada gigi tidak hanya mempengaruhi performa saat berolahraga saja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Dari segi fungsi, gigi yang patah dapat mengganggu proses makan dan berbicara. Dari segi kosmetik, gigi yang patah dapat mengganggu dan memperburuk penampilan seseorang.

Olahraga Penyebab Gigi Patah dan Cedera Gigi Lainnya

Tidak ada data yang pasti mengenai angka kejadian gigi patah akibat olahrga. Di Amerika Serikat, diperkirakan lebih dari 5 juta kasus gigi patah akibat olahraga terjadi tiap tahunnya. Semua jenis olahraga memiliki potensi untuk menyebabkan gigi patah.

Trauma dapat disebabkan oleh jatuh, tabrakan, kontak dengan permukaan yang keras, dan kontak dengan peralatan olahraga yang digunakan. Jenis olahraga yang berisiko menyebabkan gigi patah dan cedera olahraga lainnya, di antaranya:

  • Basket
  • Sepakbola
  • Hoki
  • Bela diri
  • Tinju

Sementara itu, olahraga lain yang tidak melibatkan kontak fisik bukan berarti tidak berisiko menyebabkan gigi patah dan cedera olahraga lainnya, misalnya pada:

  • Bersepeda
  • Senam
  • Bola voli
  • Berenang
  • Skateboard

Faktor Risiko Cedera Gigi Akibat Olahraga

Lebih lanjut lagi, faktor risiko cedera gigi akibat olahraga dapat dibagi menjadi dua faktor sebagai berikut.

1. Faktor Olahraga

Jenis olahraga yang sering melibatkan kontak fisik dan alat-alat pendamping tentunya bisa meningkatkan risiko cedera gigi. Berikut adalah faktor-faktor berkaitan dengan olahraga yang mampu memperbesar risiko cedera:

  • Olahraga dengan tempo cepat disertai kontak fisik menyebabkan risiko bertabrakan yang lebih besar.
  • Olahraga yang menggunakan alat, seperti raket, tongkat pemukul, stik hoki, bola (terutama bola keras dengan laju cepat seperti pada baseball) meningkatkan risiko cedera gigi.
  • Peraturan dalam olahraga. Penerapan peraturan adalah salah satu yang membedakan olahraga amatir dengan profesional. Penerapan peraturan yang baik membuat olahraga dilakukan dengan lebih aman.

2. Faktor Pemain/Atlet

Tidak hanya olahraga, faktor pemain atau atlet juga memiliki peran penting dalam terjadinya gigi patah atau cedera gigi lainnya. Berikut adalah faktor risiko yang berkaitan dengan pemain atau atlet:

  • Studi menunjukkan cedera olahraga lebih banyak terjadi pada remaja dan dewasa muda. Hal ini mungkin berhubungan dengan jenis olahraga yang dipilih oleh orang-orang dari kelompok usia tersebut.
  • Gigi susu vs gigi tetap. Pada anak-anak, jika trauma terjadi pada gigi susu, cedera yang lebih banyak terjadi adalah gigi tanggal atau berubahnya posisi gigi. Sedangkan trauma pada gigi tetap paling sering menyebabkan patahnya crown gigi.
  • Jenis kelamin. Anak laki-laki secara umum lebih banyak berpartisipasi dalam olahraga yang banyak melibatkan kontak fisik, sehingga gigi patah lebih sering terjadi pada laki-laki. Namun, studi yang dilakukan oleh Pinkham dan Kohn menunjukkan bahwa jika angka partisipasi olahraga disesuaikan, anak perempuan lebih berisiko mengalami cedera gigi.
  • Anak-anak dalam masa pertumbuhan lebih rentan terhadap cedera.
  • Ukuran tubuh. Semakin besar ukuran tubuh, biasanya dikaitkan dengan kurangnya ketangkasan yang penting dalam mencegah trauma.
  • Olahraga aerobik. Olahraga ini dikaitkan dengan risiko trauma yang lebih kecil.
  • Kondisi otot dan keseimbangan. Untuk mencegah trauma, dibutuhkan otot yang kuat dan lentur, serta keseimbangan yang baik.
  • Kontrol saraf otot. Orang-orang dengan cacat fisik lebih rentan terhadap trauma.
  • Panduan dari ahli. Tanpa adanya panduan atau pelatihan dari pelatih atau ahli yang kompeten, cedera lebih mudah terjadi.
  • Status orthodontik. Kondisi gigi yang berkaitan dengan kejadian cedera adalah overjet dan lip coverage. Overjet adalah seberapa maju gigi atas jika dibandingkan dengan gigi bawah. Semakin maju, risiko cedera lebih besar. Lip coverage merupakan seberapa jauh bibir dapat menutupi gigi. Semakin maju posisi gigi, bibir semakin tidak dapat menutupi gigi sepenuhnya, menyebabkan risiko cedera lebih besar pada gigi yang tidak tertutup bibir.
  • Faktor psikologis. Kondisi psikis dan konsentrasi saat berolahraga berpengaruh terhadap risiko trauma.

Young EJ. Common dental injury management in athletes. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4482297/
Diakses pada Mei 2019

American Academy of Pediatric Dentistry. https://www.aapd.org/media/policies_guidelines/p_sports.pdf
Diakses pada Mei 2019

Agali C, et al. Insight to epidemiology of sports related dental injury. http://www.ijohmr.com/upload/Insight%20to%20Epidemiology%20of%20Sports%20Related%20Dental%20Injuries.pdf
Diakses pada Mei 2019

Ranalli, Dennis N. Dental injuries in sports. https://journals.lww.com/acsm-csmr/Fulltext/2005/02000/Dental_Injuries_in_Sports.4.aspx
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed