6 Jenis Obat Sakit Pinggang yang Efektif untuk Atasi Nyeri

Selain pijat, mengonsumsi obat sakit pinggang juga dapat mengurangi rasa nyeri
Obat sakit pinggang ada banyak jenisnya, salah satunya ibuprofen

Apa yang biasa Anda lakukan saat mengalami sakit pinggang? Menggunakan balsem atau minyak urut untuk dipijat? Metode tersebut memang telah lama dikenal manjur untuk meredakan kondisi ini. Namun, ada cara lain yang juga efektif, yaitu dengan mengonsumsi obat sakit pinggang.

Ada banyak jenis obat sakit pinggang yang dapat dikonsumsi. Obat-obatan tersebut, bisa didapatkan secara bebas di apotek, maupun dengan resep dokter.

Jenis-jenis obat sakit pinggang

Perlu diingat, obat sakit pinggang tidak bersifat menyembuhkan, tapi meredakan. Artinya, obat ini akan membantu mengurangi rasa sakit sementara waktu, tapi tidak akan menyelesaikan akar permasalahan yang menyebabkan Anda sakit pinggang.

Tidak semua orang juga cocok menggunakan semua jenis obat sakit pinggang. Semua itu, tergantung dari tingkat keparahan, riwayat alergi, hingga risiko efek samping yang mungkin terjadi. Lebih lanjut, berikut ini obat yang bisa dikonsumsi saat sakit pinggang.

1. Paracetamol

Paracetamol adalah alternatif pertama obat sakit pinggang yang aman untuk dikonsumsi. Selain dapat dengan mudah didapatkan di apotek, obat ini juga cenderung lebih nyaman di perut.

Memang, saat ini belum banyak penelitian yang mengaitkan penggunaan paracetamol untuk meredakan sakit pinggang. Namun, obat ini sudah sering digunakan untuk meredakan sakit gigi, sakit kepala, dan dalam masa penyembuhan setelah operasi.

Paracetamol baiknya digunakan secukupnya saja, sesuai anjuran. Sebab, pada pengguaan berlebihan, obat ini bisa menyebabkan kerusakan hati. Dosis maksimum konsumsi paracetamol adalah sebanyak 3.000 mg per hari.

2. Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (AINS)

Obat golongan AINS, sudah sering digunakan sebagai obat sakit pinggang. Obat golongan ini bisa Anda peroleh, dengan atau tanpa resep dokter. Contoh obat yang termasuk dalam golongan ini adalah ibuprofen dan naproxen.

Selain meredakan nyeri, obat golongan AINS juga dapat meredakan pembengkakan dan peradangan yang terjadi di sendi maupun otot.

Karena mudah didapat, obat ini seringkali digunakan secara berlebihan. Padahal, dalam dosis berlebih, obat AINS berpotensi menimbulkan efek samping seperti luka di lambung, perdarahan, hingga kerusakan ginjal.

Jadi, saat mengonsumsi obat sakit pinggang yang satu ini, pastikan Anda mengikuti aturan pakainya dengan cermat. Jangan berlebihan, tapi jangan juga dikurangi.

3. Relaksan otot

Apabila AINS tidak dapat meredakan sakit pinggang yang Anda alami, dokter dapat meresepkan obat relaksan otot (muscle relaxant). Contoh relaksan otot yang bisa digunakan sebagai obat sakit pinggang antara lain:

  • Cyclobenzaprine
  • Tizanidine
  • Baclofen
  • Carisoprodol

Obat ini bekerja dengan cara mengurai kram otot yang bisa menyebabkan sakit pinggang. Relaksan otot juga sering digunakan untuk mengatasi sakit pinggang akut, seperti yang muncul akibat cedera saat olahraga, misalnya.

Salah satu efek samping obat relaksan otot adalah membuat Anda mengantuk. Sehingga, sebaiknya hindari akvitias mengemudi setelah mengonsumsinya.

4. Kortikosteroid

Sama seperti obat golongan AINS, obat golongan kortikosteroid juga bisa meredakan nyeri sekaligus peradangan atau inflamasi di tubuh. Namun, obat ini tidak bisa didapatkan secara bebas di apotek, karena harus melalui resep dokter.

Selain diminum, obat kortikosteroid juga bisa diberikan melalui suntikan. Contoh obat yang termasuk dalam golongan ini adalah methylprednisolon.

Apabila penggunaan obat AINS dan relaksan otot tidak memberikan pengaruh berarti dalam meredakan sakit pinggang, dokter biasanya baru akan meresepkan kortikosteroid.

5. Opioid

Pada kondisi sakit pinggang yang parah, dokter dapat meresepkan obat yang lebih keras, yaitu golongan opioid. Obat ini, akan berinteraksi langsung dengan reseptor di sel saraf di tubuh dan otak, untuk mengurangi rasa nyeri.

Contoh obat golongan opiod di antaranya adalah oxycodone dan campuran antara acetaminofen dan hydrocodone.
Meski termasuk obat keras, opioid masih aman dikonsumsi selama digunakan dalam jangka waktu pendek dan sesuai dengan resep dokter. Jika digunakan diluar ketentuan, obat ini dapat menimbulkan efek euforia dan membuat kecanduan.

Hal ini juga lah yang membuat obat golongan opioid tidak digunakan sebelum pilihan perawatan lainnya terbukti tidak memberikan hasil.

6. Antidepresan

Tahukah Anda, sakit di area persendian, seperti pinggang juga merupakan salah satu gejala depresi? Sehingga, obat antidepresan juga dapat digunakan untuk mengurangi stres emosional yang merupakan pemicu munculnya sakit pinggang.

Penggunaan obat antidepresan untuk mengatasi sakit pinggang juga dinilai efektif karena reaksi kimia yang terjadi pada sel saraf yang memicu depresi, ternyata juga mengontrol alur nyeri di otak.

Sehingga, penggunaan obat ini, akan memengaruhi reaksi kimia tersebut dan hasilnya, sakit pinggang akan berkurang. Antidepresan yang biasanya diresepkan dokter adalah amitriptyline dan nortriptyline.

Meski efektif, antidepresan juga bisa menimbulkan beberapa efek samping yang perlu Anda kenali, seperti membuat mengantuk, nafsu makan berkurang, konstipasi, mulut kering, dan tubuh terasa lelah.

Catatan dari SehatQ

Setiap penggunaan obat sakit pinggang haruslah sesuai dengan petunjuk aturan pakai. Karena obat hanya akan meredakan sakit pinggang sementara waktu, maka sebaiknya Anda juga memeriksakan kondisi ini ke dokter.

Dokter akan melakukan perawatan lain yang sesuai dengan penyebab sakit pinggang yang Anda alami, seperti saraf kejepit, radang sendi, atau cedera. Pahami juga riwayat alergi obat yang dimiliki dan sampaikan ke dokter sebelum Anda mendapatkan resep obat sakit pinggang tertentu.

Harvard Health Publishing. https://www.health.harvard.edu/pain/the-best-meds-for-back-pain
Diakses pada 12 November 2019

WebMD. https://www.webmd.com/back-pain/features/medication#1
Diakses pada 12 November 2019

WebMD. https://www.webmd.com/back-pain/what-medicines-help-with-low-back-pain#1
Diakses pada 12 November 2019

University of Maryland Medical Centre. https://www.umms.org/ummc/health-services/orthopedics/services/spine/patient-guides/medications-back-pain
Diakses pada 12 November 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed